Padahal, kawasan Sulawesi Utara yang dikenal dengan daerah Bumi Nyiur Melambai, mempunyai potensi kuat produk kelapanya.
Hilirisasi kelapa kini dibutuhkan juga untuk menjadi program strategis atau prioritas. Semakin banyak perusahaan atau pabrik pengelola kelapa, dipastikan perekonomian Sulut bakal bangkit dan menjadi salah satu yang terkuat di Indonesia.
Apalagi, dengan potensi ekspor yang kini semakin menjanjikan. Pengolahan kelapa mentah menjadi produk bernilai, sangat dibutuhkan untuk menjngkatkan harga jual kelapa. Khususnya yang dari petani.
Strategi ini bertujuan meningkatkan nilai ekspor hingga berkali lipat dan mendorong kemandirian industri daerah.
Poin penting Hilirisasi Kelapa yakni, pengolahan menjadi produk turunan dapat meningkatkan nilai jual hingga 100 kali lipat dibandingkan menjual kelapa bulat atau kopra saja.
Hilirisasi ini diharapkan meningkatkan pendapatan petani dan memperkuat posisi Sulut dalam industri kelapa.
Saat ini, sebagian besar hasil panen kelapa di Sulut, masih dijual dalam bentuk mentah, seperti kelapa bulat atau kopra, dengan nilai jual yang rendah.
Menurut sejumlah pengamat ekonomi, hilirisasi kelapa bukan hanya proses industri, melainkan strategi transformasi ekonomi.
"Dengan mengolah kelapa menjadi berbagai produk turunan, akan ada banyak manfaatnya. Seperti menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya saing ekspor, meningkatkan daya beli masyarakat yang tergolong petani kelapa, dan peningkatan ekonomi tentunya bagi daerah," sebut Frans Wolayan, pemerhati ekonomi Minahasa.
Menurut dia, dengan adanya pabrik berskala besar, dapat dipastikan Sulut bisa melambung menjadi daerah maju lima sampai 10 tahun kedepan.
"Semua yang ada di kelapa semuanya berguna. Bisa menghasilkan produk. Jadi, jika pemerintah menggaet investor, yang bisa siapkan pabrik atau perusahaan yang siap mengolah kelapa ini, untuk dieskpor. Sulut dan masyarakat saya pastikan bisa semakin maju," ucapnya.
Diketahui, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menargetkan adanya pembangunan fasilitas pengolahan atau hilirisasi sektor perkebunan kelapa di pertengahan tahun 2026. Pembangunan pabrik ini bertujuan untuk memastikan komoditas kelapa bisa diolah di dalam negeri guna menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa proyek pengolahan kelapa ini akan dibangun di Morowali, Sulawesi Tengah. Dia menyebutkan investasi yang masuk untuk proyek ini mencapai US$ 100 juta atau setara Rp 1,6 triliun dan diproyeksikan mampu menyerap hasil perkebunan rakyat hingga 500 juta butir kelapa per tahun.
"Insya Allah pada pertengahan tahun 2026 ini pabriknya akan selesai di daerah Morowali dan itu akan menyerap 500 juta butir kelapa setiap tahunnya," ujar Rosan dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, dikutip Rabu (3/12/2025).
Padahal, bagusnya pabrik tersebut dibangun di Sulut, yang sejak dahulu dikenal dengan kekayaan kelapanya.
"Kami petani berharap, bapak Presiden Prabiwo Subianto, bisa mendengar harapan kami. Dan harga kopra, bisa makin membaik dan berpihak bagi kami petani," ucap Eddi Jowangkay, petani kelapa.
Dikatakannya, memang jika ada pabrik pengelolah kelapa yang besar di Sulut dan bisa langsung ekspor, pastinya harga beli kelapa semakin tinggi.
"Ada beberapa pabrik memang sekarang. Seperti di Minut dan Bitung. Namun, dari dulu, harga beli kelapa ini seperti di monopoli," ujarnya.
"Sulut produsen kelapa terbesar di Indonesia, kenapa bangun hilirisasi kelapa di Morowali Sulawesi Tengah?," tanya dia lagi.
Dari data yang didapat Manado Post, tercatat ada 16 perusahaan pengolahan kelapa di Sulut. Dan 12 di antaranya telah melakukan ekspor.
Data Bea Cukai juga menunjukkan ekspor produk kelapa pada tahun 2024 mencapai USD 21,12 juta dan di tahun 2025 sampai dengan bulan Agustus sudah saja mencapai USD 24,65 juta. Namun, nyatanya harga saat ini belum berpihak kepada petani.
Oleh sebab itu, diharapkan, ada aksi nyata dari pemerintah dalam meningkatkan kembali harga jual kelapa agar masyarakat Sulut yang sebagian besar petani bisa maju sejahtera berkelanjutan.(ler)
Editor : Lerby Fabio Tamuntuan