Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

MBG Bisa Bikin Ekonomi Sulut Tumbuh 8 Persen, Sudah 154 Dapur Aktif

Angel Rumeen • Jumat, 20 Februari 2026 | 16:10 WIB

Peta target penerima MBG di Sulut.
Peta target penerima MBG di Sulut.
MANADOPOST.ID—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sulawesi Utara bukan hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mulai menunjukkan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.


Dari total rencana 206 dapur MBG yang akan dibangun di seluruh kabupaten dan kota di Sulut, sebanyak 154 SPPG sudah aktif, atau setara 75 persen dari target.
Dengan sisa 52 dapur yang masih dalam proses realisasi, pemerintah daerah optimistis capaian 100 persen dapat segera diwujudkan.

Jika seluruh dapur MBG telah berdiri dan beroperasi penuh di semua kabupaten/kota, program ini diproyeksikan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara hingga 8 persen.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Letjen TNI (Pur) Lodewyk Pusung kepada Manado Post menjelaskan, Program MBG dari Presiden RI Bpk Prabowo Subianto memberikan multiplier effect bagi masyarakat. "Selain anak-anak hingga ibu hamil menikmati program ini, juga berdampak positif bagi perekonomian daerah," ujar Pusung.
"Saya tadi hitung-hitungan, sampai Desember tahun 2024, di Sulut jika ada 600 ribu penerima manfaat. 600 ribu dikali Rp15 ribu sehari, di kali 24 hari dalam sebulan, kemudian kita kali 12 bulan, itu totalnya Rp2,5 sampai Rp2,6 triliun," tegasnya.
Diketahui penerima manfaat MBG di Sulut mencapai 600 ribu orang. Maka jika 600 ribu orang di kali 15 ribu per porsi, ada di angka Rp9 miliar. Kemudian di kali 24 hari sekolah adalah Rp216 miliar.
Dalam 12 bulan, setahun menghasilkan Rp2,592 triliun berputar di bumi Nyiur Melambai dari program MBG. Menurut dia angka ini cukup fantastis, apalagi jika dibandingkan dengan APBD Sulut Rp3,1 triliun.
Untuk itu, dirinya menitipkan pesan agar masyarakat Sulawesi Utara gencar untuk menyiapkan bahan pangan, atau jadi penyuplai para dapur MBG.
"Waktu inilah yang saya manfaatkan. Karena bagi saya ini sangat sangat penting. Untuk bisa menghimbau masyarakat yang ada di Sulawesi Utara. Agar bisa lebih giat lagi menyiapkan bahan pangannya untuk bisa mensuplai, dengan kurang lebih penerima manfaat yang terdata ada sekira 600 ribu di seluruh Sulawesi Utara. Data ini belum termasuk guru-guru," terangnya.
Jadi jumlahnya bisa bertambah lagi. Maka ini semua kalau bisa tersuplai oleh masyarakat yang ada di Sulawesi Utara, akan sangat membuka peluang untuk pengembangan ekonomi. Khususnya para petani. Sebab apapun pasti akan dibeli atau dimanfaatkan oleh MBG," tambahnya.
Dirinya berharap masyarakat mendukung program bapak Prabowo Subianto ini. "Sebab ini sangat mulia. Itu jumlah uang yang akan beredar dalam satu tahun di Sulawesi Utara. Maka itu akan menambah APBD Sulawesi Utara yang sekira Rp3,1 triliun saat ini," katanya lagi.
"Ini sangat luar biasa dan membuka peluang yang sangat baik untuk masyarakat di Sulawesi Utara. Mari dukung MBG untuk kesejahteraan rakyat Sulawesi Utara, untuk anak-anak Indonesia yang cerdas dan ceria," tegasnya lagi.
Program MBG di Sulut telah menjangkau sekitar 300 ribu penerima manfaat. Angka tersebut bukan sekadar statistik sosial, melainkan memiliki implikasi ekonomi yang signifikan. Berdasarkan perhitungan dampak ekonomi, keberadaan program MBG telah menyumbang sekitar Rp2,5 triliun terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Utara.
Kontribusi tersebut berasal dari berbagai mata rantai ekonomi yang terlibat dalam operasional dapur MBG, mulai dari penyediaan bahan pangan lokal, distribusi logistik, tenaga kerja dapur, hingga sektor UMKM dan pertanian yang menjadi pemasok utama kebutuhan dapur.
Dengan 154 dapur aktif, perputaran uang yang terjadi setiap hari menciptakan efek berganda (multiplier effect) di tingkat lokal. Petani, nelayan, pedagang bahan pokok, hingga penyedia jasa transportasi merasakan dampak langsung dari aktivitas ekonomi yang digerakkan oleh dapur MBG.
Apabila seluruh 206 dapur MBG telah aktif 100 persen, jumlah penerima manfaat diperkirakan akan meningkat signifikan. Secara otomatis, volume belanja pangan dan operasional juga akan bertambah, sehingga nilai kontribusi terhadap PDRB berpotensi melonjak lebih tinggi dari Rp2,5 triliun yang tercatat saat ini.
Di sisi lain, data menunjukkan capaian antar daerah masih bervariasi. Ada wilayah yang telah melampaui target hingga di atas 100 persen, namun masih ada daerah dengan progres di bawah 50 persen. Pemerataan percepatan pembangunan dapur menjadi kunci agar potensi pertumbuhan ekonomi bisa maksimal.
Program MBG kini tidak lagi dilihat semata sebagai intervensi sosial untuk peningkatan gizi, tetapi telah berkembang menjadi instrumen strategis penggerak ekonomi daerah. Dengan basis 300 ribu penerima manfaat dan ratusan dapur yang terus bertambah, MBG menjadi salah satu lokomotif ekonomi baru Sulawesi Utara.
Jika target 206 dapur terealisasi penuh dan kapasitas distribusi meningkat, optimisme pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen bukanlah klaim tanpa dasar. Tantangannya kini adalah memastikan seluruh kabupaten/kota bergerak serempak agar potensi ekonomi dari program MBG benar-benar optimal dan berkelanjutan.(*)

Editor : Angel Rumeen