Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Benih Jagung Bantuan dari Kementerian Pertanian Diduga Bermasalah, Petani di Kota Bitung Alami Kerugian Besar

Franky Sumaraw • Senin, 27 Oktober 2025 | 15:45 WIB

Benih jagung hibrida bantuan Kementerian Pertanian kepada petani di Kota Bitung.(Franky Sumaraw/MP)
Benih jagung hibrida bantuan Kementerian Pertanian kepada petani di Kota Bitung.(Franky Sumaraw/MP)
MANADOPOST.ID–Harapan besar para petani jagung di Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara, untuk mendapatkan hasil panen melimpah pupus sudah.

Benih jagung bantuan dari pemerintah pusat yang seharusnya meningkatkan produktivitas pertanian, justru membuat mereka merugi.

Salah satu petani yang enggan disebutkan namanya mengaku kehilangan puluhan juta rupiah setelah menanam benih bantuan tersebut.

“Awalnya kami sangat bersyukur karena mendapat bantuan benih jagung hibrida dari pemerintah yang disalurkan melalui kelompok tani.

Tapi setelah ditanam, hasilnya jauh dari harapan,” ungkap petani, warga Kelurahan Sagerat, Kecamatan Matuari, Senin (27/10/2025).

Ia menjelaskan, sebanyak 50 kilogram benih jagung bantuan ditanam dengan modal pribadi sekitar Rp 20 juta untuk biaya olah lahan, pupuk, dan tenaga kerja.

Namun, hasil panennya hanya mencapai 1.100 kilogram jagung kering, yang jika dijual dengan harga Rp 6 ribu per kilogram hanya menghasilkan Rp 6,6 juta.

“Artinya saya rugi sekitar Rp 13 jutaan. Ini sangat memberatkan,” keluh petani itu.

Menurutnya, kualitas benih yang diberikan sangat buruk. Banyak yang tidak tumbuh sama sekali, sebagian lainnya tumbuh namun menghasilkan jagung kecil dan tidak produktif.

“Benih bantuan itu tidak baik kualitasnya. Ada yang tidak tumbuh, ada juga yang tumbuh tapi jagungnya kerdil,” jelasnya.

Lebih lanjut, petani itu menduga adanya kemungkinan permainan antara pihak ketiga dengan pemerintah dalam pengadaan benih tersebut.

“Bisa saja benih ini sudah kedaluwarsa tapi dikemas ulang. Kami berharap aparat penegak hukum bisa menyelidiki ini karena kami merasa sangat dirugikan. Katanya, kasus serupa juga dialami petani di Gorontalo,” bebernya.

Pihak penyuluh pertanian lapangan (PPL) setempat pun disebut telah melakukan survei di lokasi kebun dan menemukan kondisi tanaman yang tidak normal.

“PPL sudah datang dan lihat sendiri hasilnya sangat mengecewakan,” tambah petani yang sudah sekian tahun menanam jagung.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bitung, Steven Prok, saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa benih tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian.

Ia juga mengakui telah menerima laporan dari sejumlah petani terkait masalah kualitas benih.

“Memang ada beberapa laporan dari petani tentang benih ini. Ada juga yang hasilnya baik, tapi sebagian lainnya memang tidak sesuai harapan.

Kami sudah menyampaikan laporan ini ke Dinas Pertanian Provinsi dan pihak vendor untuk ditindaklanjuti,” jelas Steven.

Ia menegaskan, pemerintah daerah tidak tinggal diam dan akan berkoordinasi lebih lanjut agar masalah ini tidak berulang.

Kondisi ini menjadi tamparan bagi upaya peningkatan produktivitas pertanian di daerah. Petani yang seharusnya terbantu oleh program pemerintah, justru menghadapi kerugian akibat dugaan lemahnya pengawasan distribusi dan kualitas benih.

Kini, para petani berharap aparat hukum turun tangan menindaklanjuti persoalan ini demi melindungi keberlangsungan usaha tani khususnya jagung.

"Kami minta KPK atau Kejaksaan Agung untuk mengusut proses pengadaan benih hibrida ini," tambah petani lainnya.(fys)

Editor : Franky Sumaraw
#Matuari #Bantuan #Hibrida #alami kerugian #Kota Bitung #kementerian pertanian #sagerat #Provinsi Sulawesi Utara #KPK #Benih #kejaksaan agung #petani jagung