32.4 C
Manado
Tuesday, 27 September 2022

Kecam Gelar Adat kepada Hadi Pandunata, Ormas Adat BMR: Siapa Dia?

MANADOPOST.ID-Pemberian gelar adat oleh Aliansi Masyarakat Adat Bolaang Mongondow Raya (Amabom) kepada Hadi Pandunata sebagai ‘Tongganut In Ta Motompira’, 26 Juli di Hotel Sutan Raja, mendapat penolakan Organisasi Masyarakat (Ormas) Laskar Bogani Indonesia (LBI).

“Siapa dia? dan apa yang sudah dia berikan untuk daerah kita ini sehingga, dia diberikan gelar adat tersebut,” kata Sekretaris Jendral (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LBI Toan Tongkasi kepada awak media, Selasa (31/08/22).

Menurut Toan, apa yang diberikan Amabom kepada Hadi Pandunata itu merupakan sesuatu yang sah. Yang penting tidak mengklaim atas nama masyarakat Bolaang Mongondow Raya.

Karena setahunya dari lima daerah di BMR, baru Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan yang sudah ada kelembagaan adatnya.

Baca Juga:  Bocah 13 Tahun di Bolmong Reaktif Covid-19
1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Dan gelar adat tersebut sifatnya hanya pemberian dari sekelompok komunitas saja dan bukan atas nama masyarakat BMR secara keseluruhan,” ungkapnya.

Tokoh Pemerhati Budaya Adat Bolaang Mongondow Sumitro Tegela ikut menanggapi. Dirinya mengatakan, pemberian gelar adat harus jelas. Katanya, gelar adat merupakan sesuatu yang amat berat dan sakral bagi yang menerima.

“Siapa yang memberi dan siapa yang menerima harus jelas, karena ini klaim adat dan budaya daerah setempat,” ucap Sumitro.

Sumitro menjelaskan, pemberian gelar adat kepada seseorang ini harus selektif. Sebab, aturan mainnya sudah diatur dengan aturan pemerintah. Pemberian gelar tersebut harus dari lembaga ataupun organisasi resmi. ”Jangan sampai pemberian gelar adat ini justru akan mencederai adat dan budaya kita sendiri,” pungkasnya.

Baca Juga:  Yakinkan Masyarakat ke TPS, KPU Bolmong Gelar Simulasi Pemilihan

“Ini lucu, tiba-tiba ada gelar-gelaran seperti itu,” ujar sumber yang tidak ingin namanya disebut.(gnr)

MANADOPOST.ID-Pemberian gelar adat oleh Aliansi Masyarakat Adat Bolaang Mongondow Raya (Amabom) kepada Hadi Pandunata sebagai ‘Tongganut In Ta Motompira’, 26 Juli di Hotel Sutan Raja, mendapat penolakan Organisasi Masyarakat (Ormas) Laskar Bogani Indonesia (LBI).

“Siapa dia? dan apa yang sudah dia berikan untuk daerah kita ini sehingga, dia diberikan gelar adat tersebut,” kata Sekretaris Jendral (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LBI Toan Tongkasi kepada awak media, Selasa (31/08/22).

Menurut Toan, apa yang diberikan Amabom kepada Hadi Pandunata itu merupakan sesuatu yang sah. Yang penting tidak mengklaim atas nama masyarakat Bolaang Mongondow Raya.

Karena setahunya dari lima daerah di BMR, baru Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan yang sudah ada kelembagaan adatnya.

Baca Juga:  Tidak Terima Dengan Keputusan Kejaksaan, Tersangka Korupsi Bulog Bolmong Ajukan Praperadilan

“Dan gelar adat tersebut sifatnya hanya pemberian dari sekelompok komunitas saja dan bukan atas nama masyarakat BMR secara keseluruhan,” ungkapnya.

Tokoh Pemerhati Budaya Adat Bolaang Mongondow Sumitro Tegela ikut menanggapi. Dirinya mengatakan, pemberian gelar adat harus jelas. Katanya, gelar adat merupakan sesuatu yang amat berat dan sakral bagi yang menerima.

“Siapa yang memberi dan siapa yang menerima harus jelas, karena ini klaim adat dan budaya daerah setempat,” ucap Sumitro.

Sumitro menjelaskan, pemberian gelar adat kepada seseorang ini harus selektif. Sebab, aturan mainnya sudah diatur dengan aturan pemerintah. Pemberian gelar tersebut harus dari lembaga ataupun organisasi resmi. ”Jangan sampai pemberian gelar adat ini justru akan mencederai adat dan budaya kita sendiri,” pungkasnya.

Baca Juga:  Bocah 13 Tahun di Bolmong Reaktif Covid-19

“Ini lucu, tiba-tiba ada gelar-gelaran seperti itu,” ujar sumber yang tidak ingin namanya disebut.(gnr)

Most Read

Artikel Terbaru

/