MANADOPOST.ID- PT TransContinent memperluas jaringan bisnisnya dengan membuka Pusat Logistik Berikat (PLB) di Provinsi Gorontalo. Fasilitas ini ditujukan untuk memperkuat rantai logistik ekspor-impor dan menekan biaya distribusi bagi pelaku usaha di kawasan Indonesia Tengah dan Timur.
PLB merupakan fasilitas fiskal dari Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang memungkinkan penimbunan barang impor maupun ekspor dengan penangguhan bea masuk dan pajak. Barang dapat disimpan hingga tiga tahun sebelum diproses lebih lanjut, sehingga memberikan fleksibilitas dan efisiensi bagi pelaku usaha.
Kepastian operasional PLB PT TransContinent di Gorontalo disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara, Zaky Firmansyah, usai pemaparan proses bisnis perusahaan di Jakarta. Bea Cukai, kata Zaky, mendukung pengembangan layanan logistik tersebut dengan tetap menekankan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
Kepala Bea Cukai Gorontalo, Ade Zirwan, menilai kehadiran PLB ini akan memperkuat daya saing pelaku usaha di daerah. Menurutnya, fasilitas tersebut dapat membantu pengelolaan logistik menjadi lebih efisien dan cepat, khususnya bagi kegiatan ekspor dan impor.
CEO PT TransContinent, Ismail Rasyid, mengatakan PLB Gorontalo diharapkan dapat mempercepat arus barang ke dan dari kawasan Timur Indonesia yang selama ini masih bergantung pada pelabuhan utama di Pulau Jawa. Dengan fasilitas ini, perusahaan menargetkan pengiriman langsung dari luar negeri ke lokasi PLB guna mempersingkat rantai logistik.
Keberadaan PLB tersebut diproyeksikan memberi dampak pada sektor pertambangan, agroindustri, peternakan, serta sektor produktif lainnya. Fasilitas penimbunan dan distribusi yang lebih dekat ke sumber produksi dinilai mampu menekan biaya logistik, mengurangi waktu tunggu, serta meningkatkan kepastian usaha.
Saat ini PT TransContinent memiliki sekitar 400 karyawan dengan armada darat lebih dari 300 unit, jaringan 22 cabang di Indonesia, serta dua cabang di Australia dan Filipina. Perusahaan ini juga tercatat sebagai perusahaan logistik pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi pengangkutan sianida untuk kebutuhan industri pertambangan emas.
Selain pengembangan PLB, PT TransContinent mengelola lahan seluas 18 hektare di Gorontalo untuk berbagai kegiatan usaha, antara lain penggemukan sapi, pembangunan pabrik virgin coconut oil (VCO), pabrik pengolahan nilam, serta industri pengolahan kelapa seperti arang dan karbon aktif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Provinsi Gorontalo pada November 2025 mencapai sekitar US$8,35 juta, meningkat dibanding bulan sebelumnya, dengan komoditas utama pelet kayu dan produk turunan pertanian. Sektor pertambangan dan penggalian juga menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi daerah.
Dengan dukungan infrastruktur logistik tersebut, Gorontalo diharapkan dapat memperkuat perannya sebagai simpul perdagangan dan distribusi di kawasan Indonesia Timur.
Editor : Ayurahmi Rais