29.9 C
Manado
Jumat, 7 Mei 2021
spot_img

Kawanua Yang Kini Senior VP Indosat Ooredoo Ternyata Memulai Karir dari CS, Ini Kisah Perjalanan Karirnya.

MANADOPOST.ID–Jabatan Senior Vice President merupakan posisi strategis, apalagi di company besar macam Indosat Ooredoo. Berada dua level di bawah CEO. Namun, duduk di posisi ini tidaklah didapat dengan instan. Setidaknya, itulah yang diceritakan Steve Saerang, putra Kawanua yang mengawali karir menjadi customer service, dan kini memegang peranan penting di industri telekomunikasi.

Bernama lengkap Stefanus Steve Saerang, lelaki kelahiran Manado 18 September 35 tahun silam ini menceritakan bagaimana dirinya memulai karir di dunia telekomunikasi. Sambil makan siang di Social House Grand Indonesia, Jakarta, Steve bercerita kepada Manado Post. Dia mengenang cerita kala dia struggling namun tidak menyerah, hingga kini duduk di posisi senior vice president di Indosat Ooredoo, salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia.

Berkemeja lengan panjang warna soft blue, Steve menuturkan, dirinya dulu tak pernah terbesit akan sampai di titik ini. “Saya sekolah di SD Inpres 6/75 Bitung, kemudian melanjutkan di SMPN 2 Bitung. Setelah itu, saya SMA di SMAN 9 Binsus. Sempat berkuliah di Fakultas Teknik Unsrat, namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya memutuskan pindah ke salah satu STIE di Manado,” kata Steve menceritakan riwayat pendidikannya.

Walaupun ‘hanya’ menamatkan pendidikan S1 di STIE, namun kata mantan penyiar radio Memora sejak 2003 ini, dirinya tidak minder apalagi malu. “Kita mungkin tahu ada stigma, ada stereotype soal perguruan tinggi unggulan. Namun, itu terbantahkan karena ternyata kesempatan itu bisa datang ke orang yang memiliki latar belakang pendidikan dari mana saja. Yang penting dia berusaha dan tidak menyerah,” katanya.

Setelah menuntaskan pendidikan, di tahun 2005, Steve terjun ke dunia telekomunikasi. Belum menjadi karyawan tetap, Steve memulai di posisi sales promotion dengan sistem kontrak kerja. Sembari masih berprofesi sebagai penyiar radio. Namun ternyata, jalan karir Steve mulai terbuka setelah dirinya ditawari menjadi Customer Service (CS) di Telkomsel, perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia kala itu.

Dua tahun bertugas menjadi CS, yang adalah awal karirnya di dunia telekomunikasi, Steve kemudian ikut tes karyawan tetap. Lulus dengan baik, akhirnya bergabung secara penuh di Telkomsel tahun 2008 sebagai sales marketing untuk wilayah regional Makassar.

Tiga tahun tercatat sebagai karyawan di regional Makassar, dengan capaian yang bagus saat itu, Steve kemudian dipromosi ke kantor pusat Jakarta di tahun 2011. “Mungkin karena dinilai cukup baik saat di regional Makassar, saya dimutasi ke Jakarta. Namun ketika di kantor pusat, suasana kerjanya menjadi beda. Walaupun saya cukup baik di Makassar, di kantor pusat saya harus berusaha lebih. Apalagi karena saya memulai lagi dari bawah,” katanya.

Kegigihan kerja di Makassar ternyata tidak berubah saat dipercayakan tugas di kantor pusat. Tidak butuh waktu lama, tahun 2015 Steve kemudian diberi tanggung jawab sebagai Coorporat Reputation Manager. Karir di dunia telekomunikasi Steve kemudian terus melejit. Hingga tiga tahun berikutnya langsung dipercayakan sebagai Head of Education Public Community Departement. Di posisi ini, dengan exposure yang makin besar, Steve berhasil mengonversinya menjadi sebuah karya. Dirinya mencetuskan program NextDev talent scouting, yang merupakan kompetisi berskala nasional untuk early-stage star tup berdampak sosial yang mampu menjadi penguat ekosistem digital di Indonesia melalui implementasi teknologi di sektor yang lebih luas.

Karir yang gemilang serta terobosan-terobosan yang inovatif yang dilakukan tidak membuat Steve berhenti belajar dan berpuas diri. Pemegang gelar S2 Ilmu Komunikasi Univesitas Pelita Harapan (UPH) ini terus menimba ilmu. Beberapa di antaranya yaitu mengikuti Social Enterprise Course di Berkley California, Numa Schoolab Paris dan pernah diutus untuk mengikuti employe exchange di Melbourne, Australia.

Setelah menjalani tantangan demi tantangan di Telkomsel, Steve kemudian mencoba hal yang baru. Dirinya migrasi ke perusahaan Start Up besar. Dirinya ditawari perusahaan yang bergerak di bidang fintech, DANA. Tahun 2019, Steve dipinang perusahaan yang berada di bawah naungan Alibaba Group ini menjadi Vice President Communication.

“Banyak orang berpikir, kenapa sih sudah nyaman di BUMN telekomunikasi tapi mau pindah ke start up. Karene bekerja di dunia start up jauh berbeda dengan BUMN. Pace yang cepat dan ketiadaan birokrasi, justru membuat kita harus kreatif berpikir cepat. Namun, saya tetap mengambil challenge itu, karena di sana saya juga bisa belajar hal yang baru,”cerita Steve.

Kemudian, setahun lebih di dunia start up, dirinya kembali ditawari comeback ke dunia telekomunikasi. Dengan portofolio yang oke, Steve ‘dilamar’ oleh Indosat Ooredoo. Posisi yang ditawarkan tak tanggung-tanggung, Senior Vice President Coorporate Communications. Yang membawahi inernal dan external communications dan strategic communcation/CSR. “Begitu dihubungi dan ditawari di Indosat Ooredoo, saya sempat berpikir ngapain balik ke dunia telko, apalagi saat itu saya juga ditawari di salah satu start up besar juga. Namun, setelah mempertimbangkan, saya menyadari bahwa ini adalah tantangan. Saya selalu bersusaha menerima tantangan apapun itu, karena pasti bisa dilakukan. Akhirnya saya terima. Dan puji Tuhan setelah diwawancarai semua direksi bahkan sampai ke CEO, saya akhirnya dipercayakan di posisi ini,” ujarnya.

Dia pun berpesan buat anak muda, apalagi orang daerah agar jangan minder. “Banyak yang menanggap anak daerah, apalagi seperti kita, orang Manado atau Sulut itu tidak bisa bersaing di kancah nasional. Padalah kan jika berusaha dan terus berjuang maka pasti akan ada peluang. Buktinya banyak Kawanua yang memiliki posisi-posisi strategis baik di pemerintahan ataupun swasta,” kata dia.

Steve pun memotivasi anak daerah agar jangan takut bersaing dengan orang di ibu kota. Karena menurutnya, selama kita memiliki attitude yang baik dan mindset yang terbuka, maka tidak akan ada yang bisa menghalangi perjuangan kita. “Karena, menurut saya; A chapter of life decided for you, not determined your whole story,” kunci Steve memberi semangat kepada anak muda daerah. (*)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru