alexametrics
28.4 C
Manado
Jumat, 17 September 2021
spot_img

Garuda Indonesia Alami Kerugian 12,8 Triliun

MANADOPOST.ID—-Semester 1 tahun ini, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengalami kerugian senilai 898,65 juta USD atau setara Rp12,8 triliun (kurs Rp14.250 per dolar AS).
Kerugian tersebut meningkat sekitar 26 persen dari 712,72 juta USD atau Rp10,15 triliun pada semester I 2020.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menjelaskan kerugian ini terjadi karena pendapatan perusahaan hanya sekitar US$696,8 juta atau Rp9,92 triliun pada periode tersebut. Pendapatan itu turun sekitar 24 persen dari US$917,28 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, beban usaha mencapai 1,38 miliar USD atau Rp19,66 triliun sepanjang paruh pertama tahun ini. Kendati begitu, ia mengklaim beban usaha ini sejatinya menurun 15,9 persen dari 1,64 miliar USD.

Irfan mengatakan kinerja keuangan maskapai pelat merah mendapat tantangan dari kebijakan PPKM yang membatasi mobilitas masyarakat guna mengurangi lonjakan jumlah kasus covid-19. Sebab, pembatasan membuat trafik penumpang menurun signifikan.

“Ini telah berdampak signifikan terhadap keberlangsungan usaha jasa transportasi udara, tidak terkecuali bagi kami di Garuda Indonesia yang secara bisnis fundamental mengandalkan mobilitas masyarakat,” ungkap Irfan dalam keterangan resmi.

Secara rinci, Irfan menjelaskan pendapatan usaha pada semester I ditopang oleh bisnis penerbangan berjadwal mencapai 556,5 juta USD, penerbangan tidak berjadwal 41,6 juta USD, dan pendapatan lainnya 98,6 juta USD Pendapatan penerbangan tidak berjadwal meningkat paling tinggi mencapai 93,2 persen dari sebelumnya.

Hal ini membuat perusahaan ingin meningkatkan lagi pangsa pasar penerbangan carter, baik untuk penumpang maupun kargo. Selain itu, penerbangan angkutan kargo juga naik 37,56 persen dari 110,71 ribu ton menjadi 152,3 ribu ton.

Sementara penurunan beban usaha berhasil didapat dari strategi efisiensi, seperti renegosiasi sewa pesawat dan restrukturisasi jaringan penerbangan melalui penyesuaian frekuensi rute-rute penerbangan.

Lebih lanjut, maskapai BUMN itu tetap optimis akan ada pemulihan kinerja pada semester II 2021 seiring dengan pelonggaran kebijakan PPKM. Bahkan, ia mengklaim saat ini sudah mulai terjadi peningkatan rata-rata trafik penumpang harian mencapai lebih dari 50 persen dari periode PPKM ketat sebelumnya.

“Kami berharap trafik angkutan penumpang sebagai salah satu sumber pendapatan utama perusahaan akan meningkat kembali secara bertahap seiring dengan adanya kebijakan relaksasi

PPKM di level nasional maupun pelonggaran pembatasan mobilitas masyarakat antar negara di level global,” pungkasnya. (ayu)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru