27.4 C
Manado
Minggu, 3 Juli 2022

Biaya Pendidikan Dorong Inflasi Manado

MANADOPOST.ID– Selasa (1/9) kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara (Sulut) merilis perkembangan inflasi Agustus. Di mana Kota Manado mengalami inflasi sebesar 0,71 persen dan Kotamobagu 0,02 persen.

Hal ini dikatakan langsung, Kepala BPS Sulut Dr Ateng Hartono. Dia menjelaskan inflasi yang terjadi di Manado disebabkan oleh kelompok pendidikan. Dengan persentase 10,69 persen. Dengan rincian, perguruan tinggi sebesar 0,25 persen, sekolah menengah atas 0,08, dan sekolah dasar 0,06.

“Kelompok lain yang juga memberi andil besar, adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya. Didorong oleh komoditi perhiasan yang mengalami inflasi 0,11 persen, diikuti shampo, parfum, sabun mandi, pasta gigi dan hand body lotion,” sebut Hartono di sela menyampaikan perkembangan inflasi Agustus melalui streaming Youtube BPS, kemarin.

Sementara di Kotamobagu, lanjutnya, kelompok penyediaan makanan dan minuman restoran, memberikan andil inflasi terbesar yaitu 1,46 persen. Diikuti perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,82 persen.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Di sisi lain, Kepala Bank Indonesia (BI) Sulut Arbonas Hutabarat memandang terjadinya inflasi di dua kota pencatatan inflasi Sulut masih dalam batas yang wajar namun perlu diwaspadai.

Dia menekanakn, Inflasi yang moderat di kota Manado dan inflasi IHK di kota Kotamobagu yang mencapai 2,80 persen (ytd) di Agustus lalu harus menjadi perhatian bersama.

Dia pun mengingatkan, memasuki  September, tekanan inflasi diperkirakan akan kembali moderat ditopang permintaan yang diperkirakan akan mulai menunjukkan peningkatan seiring dengan masuknya perekonomian dalam periode transisi pandemi Covid-19 ke tatanan normal.

Sementara itu, sambungnya, deflasi sejumlah komoditas strategis Sulut yang telah berlangsung sejak bulan Juli berpotensi mengurangi insentif produsen untuk meningkatkan produksi, sehingga berisiko mempengaruhi pasokan dalam satu hingga dua bulan kedepan.

Meski demikan, masih terdapat optimisme bahwa tekanan inflasi pada bulan September akan terkendali pada level yang aman dan kondusif untuk mendukung proses recovery perekonomian Sulut.

“Memperhatlkan perkembangan inflasi beberapa waktu terakhir, TPID baik Provinsi maupun Kab/Kota akan tetap mewaspadai dan memberi perhatian terhadap pergerakan inflasi di tengah mulainya aktivitas ekonomi pada periode pandemi Covid-19,” katanya memastikan.

Hutabarat menegaskan, ketersediaan pasokan dan manajemen ketersediaan Stok pangan secara regional Sulampua perlu didorong untuk meningkatkan efektivitas langkah-langkah pengendalian di tingkat provinsi, mengingat adanya ketergantungan supply antar provinsi.

Salah satu langkah strategis yang potensial adalah dengan membangun Kerjasama Antar Daerah (KAD), yang diharapkan akan menciptakan mekanisme perdagangan yang lebih efisien terutama dalam hal distribusi.

“KPW BI Provinsi Sulut bersama TPID secara intensif memonitor perkembangan terkini pengendalian wabah COVID-19 berikut perkembangan permintaan kebutuhan dan pergerakan harga pangan sejalan dengan telah bergulirnya sejumlah program stimulus ekonomi dan implementasi perluasan jaring pengaman sosial, serta pelonggaran pembatasan aktivitas masyarakat oleh Pemerintah,” tandasnya. (ayu)

MANADOPOST.ID– Selasa (1/9) kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara (Sulut) merilis perkembangan inflasi Agustus. Di mana Kota Manado mengalami inflasi sebesar 0,71 persen dan Kotamobagu 0,02 persen.

Hal ini dikatakan langsung, Kepala BPS Sulut Dr Ateng Hartono. Dia menjelaskan inflasi yang terjadi di Manado disebabkan oleh kelompok pendidikan. Dengan persentase 10,69 persen. Dengan rincian, perguruan tinggi sebesar 0,25 persen, sekolah menengah atas 0,08, dan sekolah dasar 0,06.

“Kelompok lain yang juga memberi andil besar, adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya. Didorong oleh komoditi perhiasan yang mengalami inflasi 0,11 persen, diikuti shampo, parfum, sabun mandi, pasta gigi dan hand body lotion,” sebut Hartono di sela menyampaikan perkembangan inflasi Agustus melalui streaming Youtube BPS, kemarin.

Sementara di Kotamobagu, lanjutnya, kelompok penyediaan makanan dan minuman restoran, memberikan andil inflasi terbesar yaitu 1,46 persen. Diikuti perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,82 persen.

Di sisi lain, Kepala Bank Indonesia (BI) Sulut Arbonas Hutabarat memandang terjadinya inflasi di dua kota pencatatan inflasi Sulut masih dalam batas yang wajar namun perlu diwaspadai.

Dia menekanakn, Inflasi yang moderat di kota Manado dan inflasi IHK di kota Kotamobagu yang mencapai 2,80 persen (ytd) di Agustus lalu harus menjadi perhatian bersama.

Dia pun mengingatkan, memasuki  September, tekanan inflasi diperkirakan akan kembali moderat ditopang permintaan yang diperkirakan akan mulai menunjukkan peningkatan seiring dengan masuknya perekonomian dalam periode transisi pandemi Covid-19 ke tatanan normal.

Sementara itu, sambungnya, deflasi sejumlah komoditas strategis Sulut yang telah berlangsung sejak bulan Juli berpotensi mengurangi insentif produsen untuk meningkatkan produksi, sehingga berisiko mempengaruhi pasokan dalam satu hingga dua bulan kedepan.

Meski demikan, masih terdapat optimisme bahwa tekanan inflasi pada bulan September akan terkendali pada level yang aman dan kondusif untuk mendukung proses recovery perekonomian Sulut.

“Memperhatlkan perkembangan inflasi beberapa waktu terakhir, TPID baik Provinsi maupun Kab/Kota akan tetap mewaspadai dan memberi perhatian terhadap pergerakan inflasi di tengah mulainya aktivitas ekonomi pada periode pandemi Covid-19,” katanya memastikan.

Hutabarat menegaskan, ketersediaan pasokan dan manajemen ketersediaan Stok pangan secara regional Sulampua perlu didorong untuk meningkatkan efektivitas langkah-langkah pengendalian di tingkat provinsi, mengingat adanya ketergantungan supply antar provinsi.

Salah satu langkah strategis yang potensial adalah dengan membangun Kerjasama Antar Daerah (KAD), yang diharapkan akan menciptakan mekanisme perdagangan yang lebih efisien terutama dalam hal distribusi.

“KPW BI Provinsi Sulut bersama TPID secara intensif memonitor perkembangan terkini pengendalian wabah COVID-19 berikut perkembangan permintaan kebutuhan dan pergerakan harga pangan sejalan dengan telah bergulirnya sejumlah program stimulus ekonomi dan implementasi perluasan jaring pengaman sosial, serta pelonggaran pembatasan aktivitas masyarakat oleh Pemerintah,” tandasnya. (ayu)

Most Read

Artikel Terbaru

/