22.4 C
Manado
Jumat, 19 Agustus 2022

Sulut Diprediksi Alami Pelambatan Ekonomi

MANADOPOST.ID—Indonesia sedang menghadapi ancaman resesi. Trauma krisis monoter yang terjadi tahun 1998 silam dan 2018, diprediksi akan terulang kembali. Meskipun kasusnya berbeda. Ancaman resesi semakin kuat terdengar pasca runtuhnya perekonomian negara adi kuasa, Amerika Serikat.

Diberitakan Manado Post sebelummya, ekonomi AS mengalami kontraksi pada kuartal kedua dari April hingga Juni sebesar 32,9 persen.

Biro Analisis Ekonomi mencatat ini adalah penurunan terburuk sepanjang sejarah. Bisnis yang terhenti selama lockdown pada musim semi tahun ini membuat Amerika akhirnya terjerumus ke dalam resesi pertamanya dalam 11 tahun terakhir. Hanya dalam beberapa bulan, ekspansi ekonomi terpanjang dalam sejarah AS dalam lima tahun terakhir pun selesai sudah.

Resesi biasanya didefinisikan sebagai penurunan produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal sebelumnya (Januari ke Maret), PDB AS minus 5 persen. Tapi, menurutnya, ini bukan resesi biasa. Kombinasi krisis kesehatan masyarakat dan ekonomi belum pernah terjadi sebelumnya. Dan jumlahnya juga tak sepenuhnya menggambarkan kesulitan yang dihadapi jutaan orang Amerika.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Pada bulan April, lebih dari 20 juta pekerjaan Amerika lenyap ketika bisnis tutup dan sebagian besar warga harus tinggal di rumah. Itu adalah penurunan terbesar sejak sejarah pencatatan dimulai lebih dari 80 tahun yang lalu. Klaim untuk tunjangan pengangguran pun meroket dan masih belum pulih hingga saat ini. M

emang pasar tenaga kerja telah pulih kembali sejak lockdown diakhiri dan membawa jutaan orang kembali bekerja. Laporan pekerjaan Juli minggu depan diharapkan ada tambahan 2,3 juta pekerjaan yang akan membawa tingkat pengangguran turun menjadi 10,3 persen Tapi ini masih lebih tinggi dibandingkan periode terburuk krisis keuangan.

Resesi sendiri tidak hanya menghantam AS. Jauh sebelumnya, ada Singapura, Korea Selatan, dan beberapa negara besar lain yang juga ikut mengumumkan resesi ekonomi. Lantas bagaimana dengan Sulut? Jika Indonesia akan alami resesi, akankan ekonomi Sulut bertahan? Sedikit melihat kebelakang.

Pada 1998 saat Indonesia mengalami krisis monoter, Sulut merupakan daerah yang tetap kuat. Masyarakatnya tetap sejahterah, karena saat itu pertanian masih sangat kuat. Harga komoditas masib unggul, sektor formal masih sangat perkasa. 10 tahun setelahnya, tepatnya tahun 2008 Indonesia kembali diguncang krisis ekonomi.

Namun lagi-lagi Sulut masih tetap kuat. Tak ayal, ketika saat ini akan banyak orang yang takut dengan ancaman resesi, Sulut seharusnya jadi daerah yang tetap percaya diri dengan kekuatan ekonominya.

Menanggapi hal ini, Ekonom Sulut Dr Joy Tulung memberikan penilaiannya. Menurut dia, dari latar belakang terjadinya krisis sudah sagat beda. Krisis 1998 terjadi karena permasalahan keuangan di Asia yang akhirnya menghantam Indonesia sampai akhirnya Indonesia yang paling parah. Sementara krisis 2008 terjadi karena masalah keuangan global yang bermula dengan ‘mortgage subprime’ yang terjadi di Amerika Serikat.

Sedangkan, lanjutnya, krisis ekonomi saat ini terjadi karena pandemi Covid-19. Di mana penyebaran virus ini mengancam keselamatan manusia. Sehingga aktivitas ekonomi tersendat. “Menurut saya Sulut akan terdampak pertumbuhan ekonominya, yaitu terjadi perlambatan,” sebut Tulung saat diwawancarai Manado Post, Minggu kemarin, sembari menyebutkan beberapa lapangan usaha yang akan terdampak.

“Antara lain, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan transportasi. Sehingga ekonomi Sulut akan mengalami perlambatan,” katanya memprediksi. Diketahui, Rabu (5/8) nanti BPS Sulut baru akan melakukan rilis mengenai pertumbuhan ekonomi pada kuartal dua tahun ini. Seperti apa? Simak edisi khususnya Kamis (6/9) nanti.(ayu/gnr)

MANADOPOST.ID—Indonesia sedang menghadapi ancaman resesi. Trauma krisis monoter yang terjadi tahun 1998 silam dan 2018, diprediksi akan terulang kembali. Meskipun kasusnya berbeda. Ancaman resesi semakin kuat terdengar pasca runtuhnya perekonomian negara adi kuasa, Amerika Serikat.

Diberitakan Manado Post sebelummya, ekonomi AS mengalami kontraksi pada kuartal kedua dari April hingga Juni sebesar 32,9 persen.

Biro Analisis Ekonomi mencatat ini adalah penurunan terburuk sepanjang sejarah. Bisnis yang terhenti selama lockdown pada musim semi tahun ini membuat Amerika akhirnya terjerumus ke dalam resesi pertamanya dalam 11 tahun terakhir. Hanya dalam beberapa bulan, ekspansi ekonomi terpanjang dalam sejarah AS dalam lima tahun terakhir pun selesai sudah.

Resesi biasanya didefinisikan sebagai penurunan produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal sebelumnya (Januari ke Maret), PDB AS minus 5 persen. Tapi, menurutnya, ini bukan resesi biasa. Kombinasi krisis kesehatan masyarakat dan ekonomi belum pernah terjadi sebelumnya. Dan jumlahnya juga tak sepenuhnya menggambarkan kesulitan yang dihadapi jutaan orang Amerika.

Pada bulan April, lebih dari 20 juta pekerjaan Amerika lenyap ketika bisnis tutup dan sebagian besar warga harus tinggal di rumah. Itu adalah penurunan terbesar sejak sejarah pencatatan dimulai lebih dari 80 tahun yang lalu. Klaim untuk tunjangan pengangguran pun meroket dan masih belum pulih hingga saat ini. M

emang pasar tenaga kerja telah pulih kembali sejak lockdown diakhiri dan membawa jutaan orang kembali bekerja. Laporan pekerjaan Juli minggu depan diharapkan ada tambahan 2,3 juta pekerjaan yang akan membawa tingkat pengangguran turun menjadi 10,3 persen Tapi ini masih lebih tinggi dibandingkan periode terburuk krisis keuangan.

Resesi sendiri tidak hanya menghantam AS. Jauh sebelumnya, ada Singapura, Korea Selatan, dan beberapa negara besar lain yang juga ikut mengumumkan resesi ekonomi. Lantas bagaimana dengan Sulut? Jika Indonesia akan alami resesi, akankan ekonomi Sulut bertahan? Sedikit melihat kebelakang.

Pada 1998 saat Indonesia mengalami krisis monoter, Sulut merupakan daerah yang tetap kuat. Masyarakatnya tetap sejahterah, karena saat itu pertanian masih sangat kuat. Harga komoditas masib unggul, sektor formal masih sangat perkasa. 10 tahun setelahnya, tepatnya tahun 2008 Indonesia kembali diguncang krisis ekonomi.

Namun lagi-lagi Sulut masih tetap kuat. Tak ayal, ketika saat ini akan banyak orang yang takut dengan ancaman resesi, Sulut seharusnya jadi daerah yang tetap percaya diri dengan kekuatan ekonominya.

Menanggapi hal ini, Ekonom Sulut Dr Joy Tulung memberikan penilaiannya. Menurut dia, dari latar belakang terjadinya krisis sudah sagat beda. Krisis 1998 terjadi karena permasalahan keuangan di Asia yang akhirnya menghantam Indonesia sampai akhirnya Indonesia yang paling parah. Sementara krisis 2008 terjadi karena masalah keuangan global yang bermula dengan ‘mortgage subprime’ yang terjadi di Amerika Serikat.

Sedangkan, lanjutnya, krisis ekonomi saat ini terjadi karena pandemi Covid-19. Di mana penyebaran virus ini mengancam keselamatan manusia. Sehingga aktivitas ekonomi tersendat. “Menurut saya Sulut akan terdampak pertumbuhan ekonominya, yaitu terjadi perlambatan,” sebut Tulung saat diwawancarai Manado Post, Minggu kemarin, sembari menyebutkan beberapa lapangan usaha yang akan terdampak.

“Antara lain, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan transportasi. Sehingga ekonomi Sulut akan mengalami perlambatan,” katanya memprediksi. Diketahui, Rabu (5/8) nanti BPS Sulut baru akan melakukan rilis mengenai pertumbuhan ekonomi pada kuartal dua tahun ini. Seperti apa? Simak edisi khususnya Kamis (6/9) nanti.(ayu/gnr)

Most Read

Artikel Terbaru

/