alexametrics
26.4 C
Manado
Kamis, 26 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

IKNB Masih Kuat di Tengah Covid-19

MANADOPOST.ID— Jauh sebelum pandemik Covid-19 ada, pengajuan dan pemberian restrukturisasi adalah hal yang sering dilakukan setiap nasabah dan Industri Jasa Keuangan (IJK), baik itu perbankan maupun non perbankan.

Hal ini ditekankan langsung Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Utara, Gorontalo dan Maluku Utara (Sulutgomalut) Slamet Wibowo.  Sehingga dia meyakini, program relaksasi yang diberikan saat pandemik ini, tidak akan mempengaruhi pertumbuhan IJK khususnya IKNB.

“Secara umum cash flow IKNB masih menunjukan tren positif,” sebutnya di sela diskusi virtual dengan topik OJK dan IKNB meeting bersama Wartawan Ekonomi dan Bisnis Sulutgomalut, Senin, kemarin.

Pada kesempatan itu pun dia menyebut hingga akhir Mei lalu, dari total 58.973 debitur yang terdampak, sudah lebih dari 36 ribu nasabah IKNB yang direlaksasi. Dengan nilai outstanding (OS) sebesar RP1,6 triliun atau 71 persen dari target OS Rp2,2 trilun.

“Secara umum realisasunya sudah sangat tinggi. Dari segi jumlah IKNB di Sulut memang jauh lebih banyak dibandingkan perbankan,” akunya.

Wibowo pun kembali menekankan, kiranya IKNB terus proaktif dalam mensosialisasikan kebijakan restrukturisasi terhadap nasabah. Dia tak menampik, sampai saat ini masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya paham soal prosedur dan aturan restrukturisasi.

“Selain call center, kami pun menyediakan WhastsApp khusus pengaduan dan pelayanan terhadap keluhan masytarakat. Yang setiap hari selalu ada pertanyaan yang masuk,” bebernya.

Dia pun berharap semua IKNB Sulut bisa terus tumbuh dengan baik dan bijaksana memberikan restrukturisasi. “Hal yang selalu kami tekankan adalah kebijakan restruk adalah kewenangan dari pada IJK. Tentunya sesuai kemampuan. Restruk bukan berarti tidak bayar hanya penundaan kredit. Itu pun sesuai dengan assemsen pihak IJK, jika memenuhi syarat pasti diberikan jika tidak nasabah pun tidak bisa memaksa,” tukasnya.

Di sisi lain, Kuasa Direksi Hasjrat Multifinance (HMF) Cabang Manado Hendry Abizar mengakui, adanya penurunan penjualan. Bahkan menurutnya penurunan terjadi jauh sebelum Covid-19 menyebar di Sulut.

“Penjualan kita jauh dari target yang ditetapkan manajemen. Januari kita 70 persen, Februari turun di 58 persen, Maret 45 perse, Apriul 24 persen. Mei sempat naik karena lebaran. Tapi secara keseluruhan triwulan satu kita jauh, target sekira 40 miliar kita hanya bisa di Rp12 miliar,” bebernya.

Sementara mengenai restrukturisasi, dia menambahkan, sampai saat ini sudah sekira 1.852 dengan rincian 960 mobil dan 892 motor. “Namun belum semuanya yang disetujui. Karena lain masih dalam proses penilaian. Untuk mobil sudah 810 yang dikabulkan,” tambahnya. Dia pun memastikan, meskipun berat, namun HMF tetap akan bekerja untuk kepentingan perusahaan.

Hal yang sama juga dialami MPM Finance.  “Bagi kami debitur adalah asset. Sehingga kami tetap menjaga dan mencoba memberikan restrukturisasi pada semua yang terdampak. Sejauh ini total restruk sudah sebesar Rp5,7 miliar. Intinya kami akan tetap mendukung kebijakan stimulus yang dikeluarkan pemerintah, namun tetap memperhatikan kesehatan perusahaan,” tutupnya. (ayu)

MANADOPOST.ID— Jauh sebelum pandemik Covid-19 ada, pengajuan dan pemberian restrukturisasi adalah hal yang sering dilakukan setiap nasabah dan Industri Jasa Keuangan (IJK), baik itu perbankan maupun non perbankan.

Hal ini ditekankan langsung Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Utara, Gorontalo dan Maluku Utara (Sulutgomalut) Slamet Wibowo.  Sehingga dia meyakini, program relaksasi yang diberikan saat pandemik ini, tidak akan mempengaruhi pertumbuhan IJK khususnya IKNB.

“Secara umum cash flow IKNB masih menunjukan tren positif,” sebutnya di sela diskusi virtual dengan topik OJK dan IKNB meeting bersama Wartawan Ekonomi dan Bisnis Sulutgomalut, Senin, kemarin.

Pada kesempatan itu pun dia menyebut hingga akhir Mei lalu, dari total 58.973 debitur yang terdampak, sudah lebih dari 36 ribu nasabah IKNB yang direlaksasi. Dengan nilai outstanding (OS) sebesar RP1,6 triliun atau 71 persen dari target OS Rp2,2 trilun.

“Secara umum realisasunya sudah sangat tinggi. Dari segi jumlah IKNB di Sulut memang jauh lebih banyak dibandingkan perbankan,” akunya.

Wibowo pun kembali menekankan, kiranya IKNB terus proaktif dalam mensosialisasikan kebijakan restrukturisasi terhadap nasabah. Dia tak menampik, sampai saat ini masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya paham soal prosedur dan aturan restrukturisasi.

“Selain call center, kami pun menyediakan WhastsApp khusus pengaduan dan pelayanan terhadap keluhan masytarakat. Yang setiap hari selalu ada pertanyaan yang masuk,” bebernya.

Dia pun berharap semua IKNB Sulut bisa terus tumbuh dengan baik dan bijaksana memberikan restrukturisasi. “Hal yang selalu kami tekankan adalah kebijakan restruk adalah kewenangan dari pada IJK. Tentunya sesuai kemampuan. Restruk bukan berarti tidak bayar hanya penundaan kredit. Itu pun sesuai dengan assemsen pihak IJK, jika memenuhi syarat pasti diberikan jika tidak nasabah pun tidak bisa memaksa,” tukasnya.

Di sisi lain, Kuasa Direksi Hasjrat Multifinance (HMF) Cabang Manado Hendry Abizar mengakui, adanya penurunan penjualan. Bahkan menurutnya penurunan terjadi jauh sebelum Covid-19 menyebar di Sulut.

“Penjualan kita jauh dari target yang ditetapkan manajemen. Januari kita 70 persen, Februari turun di 58 persen, Maret 45 perse, Apriul 24 persen. Mei sempat naik karena lebaran. Tapi secara keseluruhan triwulan satu kita jauh, target sekira 40 miliar kita hanya bisa di Rp12 miliar,” bebernya.

Sementara mengenai restrukturisasi, dia menambahkan, sampai saat ini sudah sekira 1.852 dengan rincian 960 mobil dan 892 motor. “Namun belum semuanya yang disetujui. Karena lain masih dalam proses penilaian. Untuk mobil sudah 810 yang dikabulkan,” tambahnya. Dia pun memastikan, meskipun berat, namun HMF tetap akan bekerja untuk kepentingan perusahaan.

Hal yang sama juga dialami MPM Finance.  “Bagi kami debitur adalah asset. Sehingga kami tetap menjaga dan mencoba memberikan restrukturisasi pada semua yang terdampak. Sejauh ini total restruk sudah sebesar Rp5,7 miliar. Intinya kami akan tetap mendukung kebijakan stimulus yang dikeluarkan pemerintah, namun tetap memperhatikan kesehatan perusahaan,” tutupnya. (ayu)

Most Read

Artikel Terbaru

/