32.4 C
Manado
Selasa, 9 Agustus 2022

Perdana, Tuna-Lingkuas Bramakusu Dikirim ke Jepang

MANADOPOST.ID—Kabar baik bagi petani. Lingkuas, Kunyit, Bramakusu, Rica, Bawang, Manggis, Rambutan dan hasil pertanian lainnya, dikirim ke Jepang di penerbangan langsung Manado-Tokyo (Narita) sekira Pukul 23.30 WITA, tadi malam. Yang paling banyak adalah hasil laut, ikan tuna segar.

Ini menjadi bukti betapa kuatnya komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut, dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satunya dengan mempermudah kegiatan ekspor.

Gubernur Sulut Olly Dondokambey (OD) menuturkan, Sulut merupakan provinsi yang memiliki kekayaan alam yang besar baik hasil pertanian, perkebunan, tambang maupun hasil kelautan dan perikanan.

Selain itu, daerah yang diken dengan semboyan ‘Sitou Timou Tumou Tou’ ini memiliki letak geografis yang sangat strategis. Di mana diwilayah utara yang paling luar yang berbatasan dengan negara Filiphina dan relatif dekat dengan negara-negara, seperti Filiphina, Jepang, China, Korea dan Vietnam.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Keunggulan lain dari Provinsi Sulut adalah telah memiliki infrastruktur yang cukup memadai dimana memiliki Pelabuhan Bitung dan bandara Sam Ratulangi dengan standar Internasional. Dengan demikian seharusnya Provinsi Sulut sudah siap untuk melakukan kegiatan perdagangan internasional yang mandiri dan tidak tergantung dengan wilayah lain seperti Jakarta atau Bali,” jelasnya, di saat Launching Direct Call Export hasil perikanan dan pertanian Manado Sulawesi Utara langsung ke Jepang, kemarin malam.

Sehingga, OD melanjutkan, untuk pertama kalinya Sulut melakukan penerbangan langsung dari Bandara Sam Ratulangi menuju Negara Jepang (Direct Call Export). “Penerbangan ini akan berlangsung secara rutin.  Jadi para peternak ikan air tawar jangan ragu karena Sulut sudah mulai buka penerbangan langsung ke Jepang dan jika sudah cocok kita akan kirim Nila Vile ke Jepang,” katanya.

Orang nomor satu di Sulut itu pun menyebutkan total kargo yang diangkut pada penerbangan perdana. Antara lain, 100 kilo Ikan Nila dan tuna 10 ton, serta produk lainnya. “Semoga direct call export ini berjalan terus sehingga memberi banyak manfaat bagi masyarakat Sulut dan sekitarnya serta bermanfaat bagi negara Indonesia karena terbuka pintu baru untuk eksport ke luar negara,” harapnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sulawesi Utara, Tineke Adam melaporkan, eksport perdana ini tercatat ada delapan unit pengolahan ikan (UPI). Yakni fresh Yellowfin, Tuna Loin, Tuna Saku, Tuna Whole, dengan total volume 10,39 ton. Terdiri dari enam UPI dari Sulut sebesar 5,661, satu UPI dari Gorontalo sebesar 413,dan satu UPI dari Ambon sebesar 4152. “Memang volume saat ini belum mencapai maksimal apa yang diharapkan. Tetapi ke depan kami optimis volume ini akan mencapai hasil yang melebih maksimal. Tentunya direct call eskpor ini adalah mimpi kita semua, baik pelaku usaha, nelayan kecil penangkap tuna dan lain sebagainya yang kini dapat terwujud pada malam ini,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Kakanwil Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Wilayah Sulawesi Bagian Utara (Sulbagtara) Dr Cerah Bangun menuturkan, direct call sangat membantu kegiatan ekspor yang memang selama ini sering terkendala. Dia mengakui, sebelum adanya direct call ekspor, ada banyak keluhan dari para eksportir. Mulai dari tingginya biaya logistik yang disebabkan amanya perjalanan barang ekspor ke Jepang, yakni 24-30 jam. Kualitas barang yang menurun yang disebabkan karena lamanya waktu perjalanan dan adanya kegiatan transit. Adanya ketidakpastian slot kargo barang ekspor sehingga menyebabkan seringnya pembatalan PEB. “Sehingga terebosan Pemprov dalam membuka penerbangan Manado-Tokyo memiliki potensi yang baik. Karena secara letak geografis Manado sebenarnya lebih dekat dengan Jepang dibandingkan dengan jarak Jakarta / Bali dengan Jepang sehingga perjalanan barang ekspor menjadi terlihat bolak-balik di atas kota Manado,” jelasnya.

Dia pun menekankan, setelah ada direct call ekspor, akan banyak keuntungan yang akan didapatkan. Antara lain, rendahnya biaya logistik. Dia membeber, berdasarkan informasi dari para eksportir harga freight sebelum direct call rata-rata sebesar Rp46.000 per kilogram, sedangkan harga freight berdasarkan data PEB rata-rata sekitar Rp29.000 per kilogram sehingga terdapat selisih harga barang yang cukup signifikan yang disebabkan karena adanya biaya lain-lain seperti biaya agen, biaya pengurusan dokumen, dan lain-lain.

“Setelah direct call harga freight sebesar Rp21.750 per kilogram dengan cara mengurus sendiri dengan pihak Maskapai Garuda. Dengan demikian penghematan bisa mencapai antara 35 -50 persen. Penghematan lain yang terjadi karena adanya pelatihan kelas ekspor yang diadakan oleh Kantor Bea Cukai sehingga eksportir dapat mengurus sendiri dokumen PEBnya, tidak melalui PPJK lagi,” katanya, sembari berharap, penerbangan ini bisa terus konsisten dan memperlancar kegiatan ekspor Sulut. “Direct call export ini memberikan berbagai manfaat, yakni waktu tempuh yang hanya 5,5 -6 jam, turunnya biaya logistic sekitar 50 persen, terjaminnya kualitas barang export dan akan menaikan harga jual serta adanya kepastian Slot kargo,” katanya.

Sementara itu, Direktur PT Garuda Indonesia diwakili CEO Regional Kalimatan, Sulawesi, Maluku dan Papua Aryo Wijoseno mengatakan, sebagai maskapai penerbangan pembawa bendera negara Indonesia, Garuda Indonesia berkomitmen untuk mendukung program pemerintah dalam hal mengembangkan perekonomian nasional yang kami wujudkan melalui peningkatan konektivitas dan pengembangan jaringan penerbangan baik domestik maupun internasional.

“Peresmian penerbangan Manado-Narita yang merupakan rute baru khusus kargo sebagai upaya mendukung dan pengembangan ekspor khususnya marine product dari Indonesia Timur. Potensi market dari Manado sangat beragam dan kami yakini memiliki prospek yang menjanjikan kedepanya. Selain itu juga, ada komunitas lain yang berpotensi untuk diekspor yakni produk pertanian, berupa buah-buahan dan rempah-rempah khas Indonesia seperti pala, cengkeh dan lainnya,” ujarnya.

Ia melanjutkan, pesawat yang digunakan pada rute ini adalah Airbus 330-200 dengan jadwal setiap hari Rabu setiap minggunya. Jadwal keberangkatan pukul 17.00 dari Jakarta kemudian tiba di Manado pukul 21.30 dan berangkat menuju Narita pukul 23.40 dan tiba di Narita pukul 06.30 waktu setempat. “Selain rute menuju Narita, Garuda Indonesia juga membuka rute-rute khusus baik domestik maupun internasional, diantaranya Makassar, Manado, Surabaya, dan Medan. Kemudian untuk rute Internasional, yakni Tiongkok dan Jepang. Rute-rute penerbangan ini dibuka khusus untuk kargo baik domestik maupun internasional,” tukasnya.

Ekonom Sulut Dr Joy Tulung optimis, dengan dibukanya penerbangan tersebut, volume ekspor Sulut pasti akan mengalami peningkatan, dan memberikan multiplier effeck yang besar untuk ekonomi. “Jika ini konsisten dilakukan, produksi Sulut banyak yang akan menembus pasaran dunia,” kuncinya optimis.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Wagub Sulut Steven Kandouw, Ketua DPRD Sulut Andrei Angouw, Sekprov Edwin Silangen, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulut Arbonas Hutabarat, Direktur PT Garuda Indonesia diwakili CEO Regional Kalimatan, Sulawesi, Maluku dan Papua Aryo Wijoseno, Dirjen Bea dan Cukai Kementerian RI Heru Pambudi, Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian RI Ali Jamil, Direktur Pemasaran Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP RI Machmud, Kepala Pusat Pengendalian Mutu Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan KKP RI Widodo Sumiyanto dan General Manager Angkasa 1 Persero Bandara Samratulangi Minggus Gandeguai.(ayu/gnr)

MANADOPOST.ID—Kabar baik bagi petani. Lingkuas, Kunyit, Bramakusu, Rica, Bawang, Manggis, Rambutan dan hasil pertanian lainnya, dikirim ke Jepang di penerbangan langsung Manado-Tokyo (Narita) sekira Pukul 23.30 WITA, tadi malam. Yang paling banyak adalah hasil laut, ikan tuna segar.

Ini menjadi bukti betapa kuatnya komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut, dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satunya dengan mempermudah kegiatan ekspor.

Gubernur Sulut Olly Dondokambey (OD) menuturkan, Sulut merupakan provinsi yang memiliki kekayaan alam yang besar baik hasil pertanian, perkebunan, tambang maupun hasil kelautan dan perikanan.

Selain itu, daerah yang diken dengan semboyan ‘Sitou Timou Tumou Tou’ ini memiliki letak geografis yang sangat strategis. Di mana diwilayah utara yang paling luar yang berbatasan dengan negara Filiphina dan relatif dekat dengan negara-negara, seperti Filiphina, Jepang, China, Korea dan Vietnam.

“Keunggulan lain dari Provinsi Sulut adalah telah memiliki infrastruktur yang cukup memadai dimana memiliki Pelabuhan Bitung dan bandara Sam Ratulangi dengan standar Internasional. Dengan demikian seharusnya Provinsi Sulut sudah siap untuk melakukan kegiatan perdagangan internasional yang mandiri dan tidak tergantung dengan wilayah lain seperti Jakarta atau Bali,” jelasnya, di saat Launching Direct Call Export hasil perikanan dan pertanian Manado Sulawesi Utara langsung ke Jepang, kemarin malam.

Sehingga, OD melanjutkan, untuk pertama kalinya Sulut melakukan penerbangan langsung dari Bandara Sam Ratulangi menuju Negara Jepang (Direct Call Export). “Penerbangan ini akan berlangsung secara rutin.  Jadi para peternak ikan air tawar jangan ragu karena Sulut sudah mulai buka penerbangan langsung ke Jepang dan jika sudah cocok kita akan kirim Nila Vile ke Jepang,” katanya.

Orang nomor satu di Sulut itu pun menyebutkan total kargo yang diangkut pada penerbangan perdana. Antara lain, 100 kilo Ikan Nila dan tuna 10 ton, serta produk lainnya. “Semoga direct call export ini berjalan terus sehingga memberi banyak manfaat bagi masyarakat Sulut dan sekitarnya serta bermanfaat bagi negara Indonesia karena terbuka pintu baru untuk eksport ke luar negara,” harapnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sulawesi Utara, Tineke Adam melaporkan, eksport perdana ini tercatat ada delapan unit pengolahan ikan (UPI). Yakni fresh Yellowfin, Tuna Loin, Tuna Saku, Tuna Whole, dengan total volume 10,39 ton. Terdiri dari enam UPI dari Sulut sebesar 5,661, satu UPI dari Gorontalo sebesar 413,dan satu UPI dari Ambon sebesar 4152. “Memang volume saat ini belum mencapai maksimal apa yang diharapkan. Tetapi ke depan kami optimis volume ini akan mencapai hasil yang melebih maksimal. Tentunya direct call eskpor ini adalah mimpi kita semua, baik pelaku usaha, nelayan kecil penangkap tuna dan lain sebagainya yang kini dapat terwujud pada malam ini,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Kakanwil Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Wilayah Sulawesi Bagian Utara (Sulbagtara) Dr Cerah Bangun menuturkan, direct call sangat membantu kegiatan ekspor yang memang selama ini sering terkendala. Dia mengakui, sebelum adanya direct call ekspor, ada banyak keluhan dari para eksportir. Mulai dari tingginya biaya logistik yang disebabkan amanya perjalanan barang ekspor ke Jepang, yakni 24-30 jam. Kualitas barang yang menurun yang disebabkan karena lamanya waktu perjalanan dan adanya kegiatan transit. Adanya ketidakpastian slot kargo barang ekspor sehingga menyebabkan seringnya pembatalan PEB. “Sehingga terebosan Pemprov dalam membuka penerbangan Manado-Tokyo memiliki potensi yang baik. Karena secara letak geografis Manado sebenarnya lebih dekat dengan Jepang dibandingkan dengan jarak Jakarta / Bali dengan Jepang sehingga perjalanan barang ekspor menjadi terlihat bolak-balik di atas kota Manado,” jelasnya.

Dia pun menekankan, setelah ada direct call ekspor, akan banyak keuntungan yang akan didapatkan. Antara lain, rendahnya biaya logistik. Dia membeber, berdasarkan informasi dari para eksportir harga freight sebelum direct call rata-rata sebesar Rp46.000 per kilogram, sedangkan harga freight berdasarkan data PEB rata-rata sekitar Rp29.000 per kilogram sehingga terdapat selisih harga barang yang cukup signifikan yang disebabkan karena adanya biaya lain-lain seperti biaya agen, biaya pengurusan dokumen, dan lain-lain.

“Setelah direct call harga freight sebesar Rp21.750 per kilogram dengan cara mengurus sendiri dengan pihak Maskapai Garuda. Dengan demikian penghematan bisa mencapai antara 35 -50 persen. Penghematan lain yang terjadi karena adanya pelatihan kelas ekspor yang diadakan oleh Kantor Bea Cukai sehingga eksportir dapat mengurus sendiri dokumen PEBnya, tidak melalui PPJK lagi,” katanya, sembari berharap, penerbangan ini bisa terus konsisten dan memperlancar kegiatan ekspor Sulut. “Direct call export ini memberikan berbagai manfaat, yakni waktu tempuh yang hanya 5,5 -6 jam, turunnya biaya logistic sekitar 50 persen, terjaminnya kualitas barang export dan akan menaikan harga jual serta adanya kepastian Slot kargo,” katanya.

Sementara itu, Direktur PT Garuda Indonesia diwakili CEO Regional Kalimatan, Sulawesi, Maluku dan Papua Aryo Wijoseno mengatakan, sebagai maskapai penerbangan pembawa bendera negara Indonesia, Garuda Indonesia berkomitmen untuk mendukung program pemerintah dalam hal mengembangkan perekonomian nasional yang kami wujudkan melalui peningkatan konektivitas dan pengembangan jaringan penerbangan baik domestik maupun internasional.

“Peresmian penerbangan Manado-Narita yang merupakan rute baru khusus kargo sebagai upaya mendukung dan pengembangan ekspor khususnya marine product dari Indonesia Timur. Potensi market dari Manado sangat beragam dan kami yakini memiliki prospek yang menjanjikan kedepanya. Selain itu juga, ada komunitas lain yang berpotensi untuk diekspor yakni produk pertanian, berupa buah-buahan dan rempah-rempah khas Indonesia seperti pala, cengkeh dan lainnya,” ujarnya.

Ia melanjutkan, pesawat yang digunakan pada rute ini adalah Airbus 330-200 dengan jadwal setiap hari Rabu setiap minggunya. Jadwal keberangkatan pukul 17.00 dari Jakarta kemudian tiba di Manado pukul 21.30 dan berangkat menuju Narita pukul 23.40 dan tiba di Narita pukul 06.30 waktu setempat. “Selain rute menuju Narita, Garuda Indonesia juga membuka rute-rute khusus baik domestik maupun internasional, diantaranya Makassar, Manado, Surabaya, dan Medan. Kemudian untuk rute Internasional, yakni Tiongkok dan Jepang. Rute-rute penerbangan ini dibuka khusus untuk kargo baik domestik maupun internasional,” tukasnya.

Ekonom Sulut Dr Joy Tulung optimis, dengan dibukanya penerbangan tersebut, volume ekspor Sulut pasti akan mengalami peningkatan, dan memberikan multiplier effeck yang besar untuk ekonomi. “Jika ini konsisten dilakukan, produksi Sulut banyak yang akan menembus pasaran dunia,” kuncinya optimis.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Wagub Sulut Steven Kandouw, Ketua DPRD Sulut Andrei Angouw, Sekprov Edwin Silangen, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulut Arbonas Hutabarat, Direktur PT Garuda Indonesia diwakili CEO Regional Kalimatan, Sulawesi, Maluku dan Papua Aryo Wijoseno, Dirjen Bea dan Cukai Kementerian RI Heru Pambudi, Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian RI Ali Jamil, Direktur Pemasaran Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP RI Machmud, Kepala Pusat Pengendalian Mutu Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan KKP RI Widodo Sumiyanto dan General Manager Angkasa 1 Persero Bandara Samratulangi Minggus Gandeguai.(ayu/gnr)

Most Read

Artikel Terbaru

/