28.6 C
Manado
Kamis, 13 Mei 2021
spot_img
spot_img

Angin Puting Beliung Akibatkan Petani Sulut Gagal Panen

RUSAK : Tampak banyak padi yang roboh, akibat hujan deras dan angin kenjang yang terjadi beberapa pekan terakhir, di Kecamatan Sonder, Kabupaten Minahasa.

MANADOPOST.JAWAPOS.COM – Cuaca ekstrim yang disertai angin kencang yang terjadi selang awal April 2021, mengakibatkan banyak petani di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) nyatanya mengalami gagal panen.

Sebagian besar petani padi sawah menyatakan hasil panen pada kuartal pertama tahun ini mengalami penurunan yang sangat drastis.

“Hasil panen saat ini sangat menurun. Banyak padi yang roboh akibat angin kencang,” kata Frece Manoreh petani di Kecamatan Sonder, Kabupaten Minahasa.
Ia menambahkan, akibat hujan deras dan angin kencang yang terjadi berujung pada kerusakan padi.

“Cuaca tidak menentu. Kadang hujan sangat deras, dan kadang anginnya terlalu kencang. Sehingga ada padi yang masih seminggu dua minggu baru di panen, tapi apadaya sudah roboh pohonnya, maka harus dipanen lebih awal,” tambah Manoreh.

Hal lain diungkapkan petani asal Desa Tababo Kecamatan Belang Kabupaten Minahasa Tenggara Sastri Tora. Ia menyebutkan hampir sebagian besar padi sawah di Desa Tababo mengalami kerusakan. “Hampir sebagian rusak. Karena angin kencang, cukup banyak padi yang roboh. Untung sudah ada bijinya. Jadi bisa dipanen, walau tak sebaik biasanya,” papar petani wanita paruh baya ini.

Terjadi hal demikian juga di Desa Winabetan Kecamatan Langowan, Kabupaten Minahasa. Jonly Tambuwun, petani penggarap juga menyatakan, hasil panen pada periode ini sangat menurun. “Panen saat ini, sangat menurun. Biasanya dapat 60 karung, sekarang tinggal 40 karung. Bahkan ada kerabat yang tidak sampai setengah dari panen biasanya,” papar Tambuwun.

Menggapi hal tersebut, Kepala BMKG Sulut melalui Kepala Seksi Observasi Ricky Aror menyatakan peralihan musim hujan ke panas sangat berpengaruh terhadap cuaca dan timbulnya awan comulonimbus yang berdampak munculnya waterspout atau puting beliung.

“Pembentukan awan dimusim pancaroba sangat cepat. Apalagi ditunjang dengan suhu permukaan air laut saat ini masih hangat. Udara yang hangat dan lembab terangkat, mengembang, sehingga mengakibatkan kontribusi terhadap proses pembentukan awan sangat cepat. Yang menyebabkan timbulnya Awan Comulonimbus,” kata Aror.

Dari sinilah, menurut Aror, awan tersebut menyebabkan downdraft atau udara yang dingin dan berat mulai turun Updraft dan downdraft terbentuk yang mengakibatkan angin puting beliung. “Angin ini memang lebih suka pada area terbuka, seperti area sawah. Sehingga ia stabil dan lebih leluasa. Hal inilah mungkin yang menyebabkan robohnya padi pada areal sawah, diimbangi dengan situasi pancaroba. (des)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru