25.4 C
Manado
Senin, 15 Agustus 2022

Intip Sejarah Berdirinya PLTA Tonsealama Minahasa, jadi Pembangkit Listrik Tertua di Sulawesi, Dibangun Masa Pemerintah Belanda

MANADOPOST.ID— Hampir 76 tahun, PT PLN (Persero) berperan dalam melistriki negeri.

Saat ini rasio elektrifikasi Indonesia telah mencapai angka 99.2 persen.

Tapi, tahukah anda, ada banyak pembangkit listrik milik PLN yang usianya jauh lebih tua dari kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satunya PLTA Tonsealama.

PLTA Tonsealama merupakah salah satu Pembangkit listrik tertua di Pulau Sulawesi yang terletak di desa Tonsealama Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

PLTA Tonsealama memiliki sejarah yang panjang bagi kelistrikan negeri ini. Pembangunan PLTA Tonsealama Unit I dirintis oleh Pemerintah Belanda semasa masih berkuasa di Indonesia yakni sekitar tahun 1917.

Setelah Jepang merebut kekuasaan Belanda, proyek pembangunan PLTA Tonsealama diteruskan oleh Pemerintah Jepang (sekitar tahun 1942 – 1945) yang dilanjutkan dengan membuat Bendungan, Terowongan, pemasangan Pipa Pesat serta mendatangkan Turbin dan Generator.

Pada tahun 1945 pembangunan PLTA Tonsealama sempat terbengkalai menyusul berakhirnya penjajahan Jepang di Indonesia.

Setelah itu penjajahan Belanda kembali masuk ke daerah Sulawesi Utara dan melanjutkan pembangunan PLTA Tonsealama yaitu dengan melakukan Pembangunan bagian atas Rumah Pembangkit Daya (Power House) sekaligus pemasangan Turbin dan Generator serta kelengkapan – kelengkapan lainnya.

Dengan dideklarasikannya Kedaulatan Republik Indonesia dan berakhirnya Pendudukan Belanda maka pengelolaan PLTA Tonsealama secara resmi diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia.

PLTA Tonsealama menggunakan potensi air yang bersumber dari Danau Tondano yang memiliki luas sekitar 40 Km2 dan luas daerah penangkap hujan 200 Km2.

Air tersebut mengalir melalui Sungai Tondano yang dibendung untuk mengalirkan air ke Rumah Pembangkit Daya (Power House) melalui terowongan dengan panjang 528 meter yang selanjutnya disalurkan melalui 2 buah Pipa Pesat (Penstock) masing – masing berdiameter 1.5 dan 2 m.

Nah menariknya di PLTA Tonsealama terdapat Museum Photo yang menyajikan foto-foto sejarah pembangunan PLTA Tonsealama dari jaman penjajahan Belanda hingga Jepang, pada beberapa titik juga masih terdapat sisa bekas lubang-lubang peluru.

Hingga saat ini PLTA Tonsealama masih beroperasi dan memproduksi energi listrik bagi sistem kelistrikan Sulawesi Utara dan Gorontalo.

(ayu)

MANADOPOST.ID— Hampir 76 tahun, PT PLN (Persero) berperan dalam melistriki negeri.

Saat ini rasio elektrifikasi Indonesia telah mencapai angka 99.2 persen.

Tapi, tahukah anda, ada banyak pembangkit listrik milik PLN yang usianya jauh lebih tua dari kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satunya PLTA Tonsealama.

PLTA Tonsealama merupakah salah satu Pembangkit listrik tertua di Pulau Sulawesi yang terletak di desa Tonsealama Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa.

PLTA Tonsealama memiliki sejarah yang panjang bagi kelistrikan negeri ini. Pembangunan PLTA Tonsealama Unit I dirintis oleh Pemerintah Belanda semasa masih berkuasa di Indonesia yakni sekitar tahun 1917.

Setelah Jepang merebut kekuasaan Belanda, proyek pembangunan PLTA Tonsealama diteruskan oleh Pemerintah Jepang (sekitar tahun 1942 – 1945) yang dilanjutkan dengan membuat Bendungan, Terowongan, pemasangan Pipa Pesat serta mendatangkan Turbin dan Generator.

Pada tahun 1945 pembangunan PLTA Tonsealama sempat terbengkalai menyusul berakhirnya penjajahan Jepang di Indonesia.

Setelah itu penjajahan Belanda kembali masuk ke daerah Sulawesi Utara dan melanjutkan pembangunan PLTA Tonsealama yaitu dengan melakukan Pembangunan bagian atas Rumah Pembangkit Daya (Power House) sekaligus pemasangan Turbin dan Generator serta kelengkapan – kelengkapan lainnya.

Dengan dideklarasikannya Kedaulatan Republik Indonesia dan berakhirnya Pendudukan Belanda maka pengelolaan PLTA Tonsealama secara resmi diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia.

PLTA Tonsealama menggunakan potensi air yang bersumber dari Danau Tondano yang memiliki luas sekitar 40 Km2 dan luas daerah penangkap hujan 200 Km2.

Air tersebut mengalir melalui Sungai Tondano yang dibendung untuk mengalirkan air ke Rumah Pembangkit Daya (Power House) melalui terowongan dengan panjang 528 meter yang selanjutnya disalurkan melalui 2 buah Pipa Pesat (Penstock) masing – masing berdiameter 1.5 dan 2 m.

Nah menariknya di PLTA Tonsealama terdapat Museum Photo yang menyajikan foto-foto sejarah pembangunan PLTA Tonsealama dari jaman penjajahan Belanda hingga Jepang, pada beberapa titik juga masih terdapat sisa bekas lubang-lubang peluru.

Hingga saat ini PLTA Tonsealama masih beroperasi dan memproduksi energi listrik bagi sistem kelistrikan Sulawesi Utara dan Gorontalo.

(ayu)

Most Read

Artikel Terbaru

/