27.4 C
Manado
Kamis, 11 Agustus 2022

Siapkah Sulut Jalani New Normal?

MANADOPOST.ID–Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) telah mengeluarkan kebijakan ‘The New Normal ‘. Masyarakat diimbau untuk bisa berdamai dengan Covid-19. Tetap produktif dengan menerapkan protokol kesehatan. Pro dan kontra atas kebijakan ini pun bermunculan. Lantas bagaimana dengan Sulut. Siapkah menjalani kehidupan normal di tengah kasus positif Covid-19 yang terus bertambah?

Kepala Biro Pemerintahan dan Otda Pemprov Sulut Dr Jemmy Kumendong memberikan penjelasannya. Dia mengatakan, penerapan kehidupan New Normal di Sulut masih sementara dalam kajian.

“Pemprov Sulut juga masih menunggu panduan dari pemerintah pusat. Pemeritah tidak mungkin melakukan pembatasan terus menerus, meskipun pandemik Covid-19 ini belum berakhir. Obat terhadap pandemik Covid-19 belum ditemukan, pembatasan pun tentu memiliki batas waktu dan kita harus kembali kepada kehidupan normal. Yakni bekerja, beribadah dan sejumlah aktivitas lainnya, yang tentu dengan panduan yang sudah disiapkan,” tekannya.

Kumendong kembali menegaskan, jika Covid-19 telah menimbulkan dampak berat diberbagai sektor. “Kita sementara bekerja keras dalam penanganan pandemik. Untuk New Normal masih menunggu instruksi lanjutan dari pusat. Jika sudah terima, akan kita sampaikan bagaimana perkembanggannya. Karena sudah mulai proses pengkajian,” janjinya.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Di sisi lain, Erni Tampi salah satu masyarakat mengaku, senang jika kebijakan New Normal itu sudah mulai diterapkan. “Saya setuju. Karena kita juga butuh bekerja, butuh makan dan harus menghasilkan. Besar harapan dengan kebijakan ini, tempat usaha yang tutup bisa dibuka kembali,” harapnya.

Senada juga diktakan General Manager Mantos Yono Akbar. Sebagai seorang pengusaha dan juga pekerja di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Sulut, dia memastikan sudah siap menjalani kehidupan yang baru. Dia menekankan, semua masyarakat harus siap dengan budaya dan tatanan dunia baru. “Dunia usaha harus mulai berjalan. Yang penting terapkan protokol kesehatan,” jelasnya.

Covid-19 memang nyaris membunuh kejayaan ekonomi. Di Sulut sendiri puluhan hotel dan tempat usaha seperti mati suri. Iven nasional dan internasional yang dulunya menjadi lading panen, dalam waktu yang singkat sudah berbalik arah. Lantas, jika New Normal diterapkan, akankan ekonomi Sulut bangkit?

Ekonom Sulut Hizkia Tasik Phd mengingatkan, hingga saat ini Indonesia, khususnya Sulut belum melewati titik puncak kasus. Artinya belum dapat mengidentifikasi semua orang yang terpapar Covid -19.

Jika pelonggaran mulai dilakukan di Indonesia dengan alasan untuk mencapai New Normal, kemungkinan besar akan mengalami nasib sama seperti Georgia AS dengan tren mendatar. Apa dampak ekonominya bagi Indonesia dan Sulut?

“Keyakinan dan kenyamanan untuk berbisnis masih pada tahap ragu-ragu sehingga angka produksi dan konsumsi akan berfluktuatif. Tidak semua usaha akan langsung memulai aktivitas usahanya, sebagian usaha akan mencoba-coba dan melihat perkembangan situasi,” jelasnya.

Lanjutnya, jumlah tenaga kerja dan jam kerja masih jauh dibawah normal. Sulut yang banyak mengandalkan bisnis kuliner belum bisa mengharapkan bisnis ini berjalan diatas 50 persen dari normal karena keraguan dari pihak pemilik usaha juga dari konsumen. Di sektor pertanian dan perikanan pun belum banyak yang bisa diharapkan karena permintaan untuk beberapa jenis komoditas masih lemah. Industri pariwisata masih  sedang merangkak.

Masyarakat pun masih menghindari kegiatan meetings, incentives, conferencing, exhibitions (MICE). Sebagian orangtua masih belum yakin anaknya bisa ke sekolah. Mall-mall atau pusat perbelanjaan lainnya belum bisa menikmati nilai transaksi seperti pada masa pre Covid -19 untuk jangka waktu yang lama.

Memang, kegiatan ekonomi akan sedikit meningkat dibanding dengan masa sebelum pelonggaran dilakukan. Namun angka peningkatan yang ada itu tidak signifikan dan justru berpotensi untuk menurun lagi karena ketakutan akan potensi gelombang kedua.

Gelombang kedua ini berpotensi terjadi jika kita belum mampu mengidentifikasi semua orang terpapar yaitu jika jumlah kasus belum mencapai titik puncak, apalagi masyarakat kita masih belum tertib menjalankan protokol kesehatan.

Dibalik semuanya itu, Sulawesi Utara patut bersyukur karena sektor pertanian yang memiliki kontribusi terbesar   dampak covid 19 terhadap industri kuliner karena masyarakat masih bisa membeli secara online.

“Di era New Normal kegiatan ekonomi bagi sektor pertanian, industri kuliner, maupun industri lainnya bisa mengalami sedikit peningkatan produksi tapi tidak signifikan,” tukasnya. (ayu)

MANADOPOST.ID–Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) telah mengeluarkan kebijakan ‘The New Normal ‘. Masyarakat diimbau untuk bisa berdamai dengan Covid-19. Tetap produktif dengan menerapkan protokol kesehatan. Pro dan kontra atas kebijakan ini pun bermunculan. Lantas bagaimana dengan Sulut. Siapkah menjalani kehidupan normal di tengah kasus positif Covid-19 yang terus bertambah?

Kepala Biro Pemerintahan dan Otda Pemprov Sulut Dr Jemmy Kumendong memberikan penjelasannya. Dia mengatakan, penerapan kehidupan New Normal di Sulut masih sementara dalam kajian.

“Pemprov Sulut juga masih menunggu panduan dari pemerintah pusat. Pemeritah tidak mungkin melakukan pembatasan terus menerus, meskipun pandemik Covid-19 ini belum berakhir. Obat terhadap pandemik Covid-19 belum ditemukan, pembatasan pun tentu memiliki batas waktu dan kita harus kembali kepada kehidupan normal. Yakni bekerja, beribadah dan sejumlah aktivitas lainnya, yang tentu dengan panduan yang sudah disiapkan,” tekannya.

Kumendong kembali menegaskan, jika Covid-19 telah menimbulkan dampak berat diberbagai sektor. “Kita sementara bekerja keras dalam penanganan pandemik. Untuk New Normal masih menunggu instruksi lanjutan dari pusat. Jika sudah terima, akan kita sampaikan bagaimana perkembanggannya. Karena sudah mulai proses pengkajian,” janjinya.

Di sisi lain, Erni Tampi salah satu masyarakat mengaku, senang jika kebijakan New Normal itu sudah mulai diterapkan. “Saya setuju. Karena kita juga butuh bekerja, butuh makan dan harus menghasilkan. Besar harapan dengan kebijakan ini, tempat usaha yang tutup bisa dibuka kembali,” harapnya.

Senada juga diktakan General Manager Mantos Yono Akbar. Sebagai seorang pengusaha dan juga pekerja di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Sulut, dia memastikan sudah siap menjalani kehidupan yang baru. Dia menekankan, semua masyarakat harus siap dengan budaya dan tatanan dunia baru. “Dunia usaha harus mulai berjalan. Yang penting terapkan protokol kesehatan,” jelasnya.

Covid-19 memang nyaris membunuh kejayaan ekonomi. Di Sulut sendiri puluhan hotel dan tempat usaha seperti mati suri. Iven nasional dan internasional yang dulunya menjadi lading panen, dalam waktu yang singkat sudah berbalik arah. Lantas, jika New Normal diterapkan, akankan ekonomi Sulut bangkit?

Ekonom Sulut Hizkia Tasik Phd mengingatkan, hingga saat ini Indonesia, khususnya Sulut belum melewati titik puncak kasus. Artinya belum dapat mengidentifikasi semua orang yang terpapar Covid -19.

Jika pelonggaran mulai dilakukan di Indonesia dengan alasan untuk mencapai New Normal, kemungkinan besar akan mengalami nasib sama seperti Georgia AS dengan tren mendatar. Apa dampak ekonominya bagi Indonesia dan Sulut?

“Keyakinan dan kenyamanan untuk berbisnis masih pada tahap ragu-ragu sehingga angka produksi dan konsumsi akan berfluktuatif. Tidak semua usaha akan langsung memulai aktivitas usahanya, sebagian usaha akan mencoba-coba dan melihat perkembangan situasi,” jelasnya.

Lanjutnya, jumlah tenaga kerja dan jam kerja masih jauh dibawah normal. Sulut yang banyak mengandalkan bisnis kuliner belum bisa mengharapkan bisnis ini berjalan diatas 50 persen dari normal karena keraguan dari pihak pemilik usaha juga dari konsumen. Di sektor pertanian dan perikanan pun belum banyak yang bisa diharapkan karena permintaan untuk beberapa jenis komoditas masih lemah. Industri pariwisata masih  sedang merangkak.

Masyarakat pun masih menghindari kegiatan meetings, incentives, conferencing, exhibitions (MICE). Sebagian orangtua masih belum yakin anaknya bisa ke sekolah. Mall-mall atau pusat perbelanjaan lainnya belum bisa menikmati nilai transaksi seperti pada masa pre Covid -19 untuk jangka waktu yang lama.

Memang, kegiatan ekonomi akan sedikit meningkat dibanding dengan masa sebelum pelonggaran dilakukan. Namun angka peningkatan yang ada itu tidak signifikan dan justru berpotensi untuk menurun lagi karena ketakutan akan potensi gelombang kedua.

Gelombang kedua ini berpotensi terjadi jika kita belum mampu mengidentifikasi semua orang terpapar yaitu jika jumlah kasus belum mencapai titik puncak, apalagi masyarakat kita masih belum tertib menjalankan protokol kesehatan.

Dibalik semuanya itu, Sulawesi Utara patut bersyukur karena sektor pertanian yang memiliki kontribusi terbesar   dampak covid 19 terhadap industri kuliner karena masyarakat masih bisa membeli secara online.

“Di era New Normal kegiatan ekonomi bagi sektor pertanian, industri kuliner, maupun industri lainnya bisa mengalami sedikit peningkatan produksi tapi tidak signifikan,” tukasnya. (ayu)

Most Read

Artikel Terbaru

/