22.4 C
Manado
Jumat, 12 Agustus 2022

Tingkatkan Baruan EBT, Uji Coba Cofiring Biomass, PLTU Unit 2 Amurang Manfaatkan Serbuk Kayu dan Eceng Gondok

MANADOPOST.ID—Komitmen untuk mendorong peningkatan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam baruan energi nasional terus ditunjukan oleh PT PLN (Persero). Salah satunya, PLTU Unit 2 Amurang, yang merupakan unit kerja dari PLN UIKL Sulawesi.

Komitmen itu dibuktikan, dengan adanya uji coba co-firing penggunaan Biomass sebagai pembangkit energi di PLTU Unit 2 Amurang, Jumat, (25/6) pekan lalu. Dengan sumber energi premiernya menggunakan sawdust, serbuk kayu woodchip, potongan kayu limbah industri rumah panggung dan eceng gondok.

Manager PLN UPKD Minahasa, Andreas Arthur Napitupulu, menuturkan, proses pengujian ini membutuhkan proses yang cukup lama dengan persiapan yang matang.

Dia bersyukur, di Sulut, khususnya wikayah Minahasa dan Tondano nemiliki banyak sumber untuk Biomass.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Dia memastikan, jika hasil uji coba tidak memberikan dampak katastropi pada pembangkit, maka co-firing tetap dilanjutkan. Dia memiliki keyakinan, jika uci coba tersebut bisa berhasil karena di luar negeri, co-firing sukses dan 100 persen Biomass.

“Awalnya kita akan mencoba formula 5 persen biomass dari total volume batubara yang diperlukan. Estimasi harga batubara rata-rata Rp 650 per kg dan biaya persiapan biomass sebesar Rp 550 per kg,” sebutnya.

Dia menjelaskan, Co-firing batu bara dengan biomass yang terdiri dari campuran sawdust, woodchip dan eceng gondok menghasilkan efisiensi Rp 4,25 per kWh.

Dengan asumsi daya yang dihasilkan PLTU Amurang 25 MW (Megawatt) dengan co-firing 85 persen, dalam satu tahun bisa menghemat Rp 791 juta atau Rp 1,5 miliar untuk dua unit pembangkit.

Lanjutnya, potensi sawdust dari industri rumah kayu menjadi bahan biomass sangat menjanjikan karena tingkat panasnya 3.986 kCal/kg. Sementara woodchip dari Kayu Kaliandra memiliki tingkat panas sampai dengan 4.700 kCal/kg. Sedangkan eceng gondok yang digunakan batangnya punya tingkat panas 2.200 kCal/kg

“Ini bagian dari kampanye green energy, mengurangi emisi gas buang. Sejalan dengan itu, cadangan bahan bakar fosil kian menipis yang konsekuensinya harga makin naik. Tentu tidak efisien jika kita bicara Biaya Pokok Produksi,” jelasnya.

Di sisi lain, sambungnya, PLN bertujuan memberdayakan masyarakat. PLN menggandeng kelompok masyarakat dan UMKM sebagai penyuplai bahan baku biomass.

Pada kesempatan yang sama, GM PLN UIKL Sulawesi Munawwar Furqan menambahkan, penggunaan Biomass ini juga sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat setempat. Dia berharap program ini bisa memberi nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat di Sulut.

“Nantinya bahan baku biomass disediakan dalam harga keekonomiannya. Jangan sampai justru harganya lebih mahal dari batubara,” harapnya.

Oleh karena itu, peran pemerintah daerah untuk mendorong masyarakat, khususnya UMKM diperlukan untuk menjamin ketersediaan pasokan biomass.

Komitmen PLN ini pun mendapatkan dukungan dari Pemkab Minesl. Assisten Dua Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Minsel
James Tomboken menuturkan, terobosan yang dilakukan Ini akan berdampak positif pada pembangunan karena mengurangi emisi. Dan juga juga memberdayakan masyarakat.

” Apalagi enceng gondok. Setiap tahun Pemkab Minahasa menganggarkan Rp7 miliar untuk mengatasi eceng gondok. Tapi ternyata punya fungsi yang besar untuk pembangkit listrik.
“Semoga bisa sukses, kami dari pihak pemerintah sangat mendukung dan meminta masyarakat bisa bekerja sama dalam menyediakan Biomass yang diperlukan,” kuncinya

(ayu)

 

 

 

 

MANADOPOST.ID—Komitmen untuk mendorong peningkatan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam baruan energi nasional terus ditunjukan oleh PT PLN (Persero). Salah satunya, PLTU Unit 2 Amurang, yang merupakan unit kerja dari PLN UIKL Sulawesi.

Komitmen itu dibuktikan, dengan adanya uji coba co-firing penggunaan Biomass sebagai pembangkit energi di PLTU Unit 2 Amurang, Jumat, (25/6) pekan lalu. Dengan sumber energi premiernya menggunakan sawdust, serbuk kayu woodchip, potongan kayu limbah industri rumah panggung dan eceng gondok.

Manager PLN UPKD Minahasa, Andreas Arthur Napitupulu, menuturkan, proses pengujian ini membutuhkan proses yang cukup lama dengan persiapan yang matang.

Dia bersyukur, di Sulut, khususnya wikayah Minahasa dan Tondano nemiliki banyak sumber untuk Biomass.

Dia memastikan, jika hasil uji coba tidak memberikan dampak katastropi pada pembangkit, maka co-firing tetap dilanjutkan. Dia memiliki keyakinan, jika uci coba tersebut bisa berhasil karena di luar negeri, co-firing sukses dan 100 persen Biomass.

“Awalnya kita akan mencoba formula 5 persen biomass dari total volume batubara yang diperlukan. Estimasi harga batubara rata-rata Rp 650 per kg dan biaya persiapan biomass sebesar Rp 550 per kg,” sebutnya.

Dia menjelaskan, Co-firing batu bara dengan biomass yang terdiri dari campuran sawdust, woodchip dan eceng gondok menghasilkan efisiensi Rp 4,25 per kWh.

Dengan asumsi daya yang dihasilkan PLTU Amurang 25 MW (Megawatt) dengan co-firing 85 persen, dalam satu tahun bisa menghemat Rp 791 juta atau Rp 1,5 miliar untuk dua unit pembangkit.

Lanjutnya, potensi sawdust dari industri rumah kayu menjadi bahan biomass sangat menjanjikan karena tingkat panasnya 3.986 kCal/kg. Sementara woodchip dari Kayu Kaliandra memiliki tingkat panas sampai dengan 4.700 kCal/kg. Sedangkan eceng gondok yang digunakan batangnya punya tingkat panas 2.200 kCal/kg

“Ini bagian dari kampanye green energy, mengurangi emisi gas buang. Sejalan dengan itu, cadangan bahan bakar fosil kian menipis yang konsekuensinya harga makin naik. Tentu tidak efisien jika kita bicara Biaya Pokok Produksi,” jelasnya.

Di sisi lain, sambungnya, PLN bertujuan memberdayakan masyarakat. PLN menggandeng kelompok masyarakat dan UMKM sebagai penyuplai bahan baku biomass.

Pada kesempatan yang sama, GM PLN UIKL Sulawesi Munawwar Furqan menambahkan, penggunaan Biomass ini juga sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat setempat. Dia berharap program ini bisa memberi nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat di Sulut.

“Nantinya bahan baku biomass disediakan dalam harga keekonomiannya. Jangan sampai justru harganya lebih mahal dari batubara,” harapnya.

Oleh karena itu, peran pemerintah daerah untuk mendorong masyarakat, khususnya UMKM diperlukan untuk menjamin ketersediaan pasokan biomass.

Komitmen PLN ini pun mendapatkan dukungan dari Pemkab Minesl. Assisten Dua Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Minsel
James Tomboken menuturkan, terobosan yang dilakukan Ini akan berdampak positif pada pembangunan karena mengurangi emisi. Dan juga juga memberdayakan masyarakat.

” Apalagi enceng gondok. Setiap tahun Pemkab Minahasa menganggarkan Rp7 miliar untuk mengatasi eceng gondok. Tapi ternyata punya fungsi yang besar untuk pembangkit listrik.
“Semoga bisa sukses, kami dari pihak pemerintah sangat mendukung dan meminta masyarakat bisa bekerja sama dalam menyediakan Biomass yang diperlukan,” kuncinya

(ayu)

 

 

 

 

Most Read

Artikel Terbaru

/