32.4 C
Manado
Rabu, 17 Agustus 2022

Resmi Dilantik!! Putra Totabuan Ini Orang Sulut Pertama yang Jadi Ketua PT

Masuk ke dunia Lembaga peradilan sejak tahun 1976, putra Totabuan yang lahir di Desa Moyag, Kotamobagu ini kini dipercaya sebagai Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Maluku Utara. Dialah Lexsy Mamonto, orang Sulut pertama yang menjadi Ketua PT.

Laporan: Foggen Bolung, Jakarta

LAHIR 8 Juni 64 tahun lalu, suami dari Fitriwaty Kato ini mengawali karir di dunia peradilan sejak lulus S1 tahun 1975. Menamatkan gelar sarjana hukum di Universitas Sam Ratulangi Manado, Lexsy Mamonto kemudian langsung ikut seleksi calon hakim agung.

Usahanya langsung membuahkan hasil. Ayah tiga anak ini diangkat menjadi calon hakim di Pengadilan Negeri (PN) Manado tahun 1978. Menghabiskan 13 tahun di PN Manado, Lexsy kemudian diangkat jadi hakim tahun 1991 dan ditugaskan di PN Kolaka, Sulawesi Tenggara.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Enam tahun lebih tugas di Kolaka, tahun 1997 saya dimutasi ke PN Kendari. Selanjutnya, dua tahun kemudian tahun 1999 saya ditugaskan di PN Ambon. Di sana saya mengemban tugas salah satunya menangani konflik Ambon,” cerita Lexsy saat diwawanrai Manado Post di Jakarta, kemarin.

Di Ambon, lanjutnya, saat menangani konflik horisontal selain sebagai hakim juga menjadi juru damai. “Saat itu kasusnya berakhir damai. Itu sekira tahun 1999 sampai tahun 2000,” sebutnya.

Kemudian, setelah di Ambon selama sekira setahun, Lexsy kemudian ‘pulang kampung’. Dirinya dipercayakan tugas mengabdi di Sulawesi Utara, tepatnya di PN Bitung. “Saya di Bitung sejak tahun 2000. Saya bertugas di Bitung selama sekira empat tahun, hingga 2004. Namun saat masa tugas di Bitung saya beberapa kali ditugaskan ke Ambon sebagai hakim detasering. Dalam rangka penanganan konflik di sana,” kata Lexsy.

Setelah itu, tahun  2004 dia melanjutkan, dipromosi menjadi Wakil Ketua PN di Gowa, Sulsel. “Sementara tugas di Gowa, saya mengambil pendidikan S2 di Universitas Hasanudin Makassar. Lulus tahun 2006 mengambil spesial tindak pidana korupsi (tipikor),” ujarnya.

Selanjutnya, di tahun 2007, dimutasi ke PN Jakarta Pusat. Di ibu kota, Lexsy dipercaya sebagai hakim niaga tipikor dan PHI. “Tahun 2009 saya dipromosi lagi, menjadi Wakil Ketua PN di Jakarta Timur. Di tahun yang sama saya mengambil program doktor di Universitas Jayabaya mengambil spesial recovery aset tipikor,” sebut Lexsy yang saat itu lulus yudisium cumlaude.

Masih dipercaya di peradilan ibu kota, tahun 2011 Lexsy dipromosi jadi Ketua PN Jakarta Barat. Saat menjadi Ketua PT Jakbar, putra Sulut ini sempat menangani perkara teroris internasional, Umar Patek.

“Umar Patek adalah teroris Internasional, wakil Osama Bin Laden, buron CIA saat itu. Perkara tersebut diperebutkan tiga negara, Indonesia AS dan Afganistan. Tapi karena terdakwa memegang KTP Indonesia, jadi kita yang memenangi peradilan. Saat itu terdakwa divonis 15 tahun. Proses peradilan saat itu mendapat pengawalan langsung Kadensus 88 saat itu. Pak Tito Karnavian,” kata Lexsy.

Hingga kemudian, dua tahun kemudian dimutasi menjadi hakim tinggi di Pengadilan Tinggi (PT) Sumatera Utara tahun 2013. “Kemudian, tahun 2015 saya kembali ke Pulau Jawa. Saya dipercaya sebagai Hakim Tinggi di PT Jawa Barat sebelum dipromosi menjadi Wakil PT di Sulawesi Tengah,” ujarnya. Di tahun 2015, dirinya sempat mengikuti calon hakim agung. “Tahun 2015 jadi calon hakim agung. Namun gagal saat wawancara tahap akhir,” katanya.

Orang tua dari Rio Putra, M Aditya dan Nadira Athia ini kejudian kembali dipercaya pulang kampung. Kali ini dirinya mengabdi di Sulawesi Utara sebagai Wakil Ketua PT Sulut. “Itu merupakan salah satu kebanggaan saya. Mengabdi di kampung halaman,” kata Lexsy.

Kemudian, hanya dua tahun sebagai Wakil Ketua PT Sulut, dirinya kemudian kembali dipromosi. Kali ini menjadi Ketua PT di Maluku Utara. Menariknya, Lexsy menjadi orang Sulut pertama yang meraih pencapaian sebagai Ketua PT.

Saat menjalani karir di dunia peradilan, Lexsy memiliki kiprah yang cukup membanggakan. Sempat mewakili Ketua MA saat menjadi pemakalah di seminar nasional yang diikuti oleh dekan fakultas hukum dari seluruh universitas negeri di Indonesia.

“Saat itu saya mewakili ketua MA menjadi pemakalah. Bersama pemakalah lainnya yaitu Ketua KPK dan Jaksa Agung. Saat itu saya membahas materi tantangan dan jawaban MA di era revolusi industri 4.0 yang antara lain adalah e-court, e-litigasi, e-payment, SIPP dan lainnya,” sebut Lexsy.

Dirinya juga sering ikut studi banding dalam rangka tipikor dan peradilan niaga serta pembangunan reformasi birokrasi di lembaga peradilan di China, Jepang, Korea, Turki, Kanada, Prancis, Belanda dan Australia. Selain itu, Lexsy sempat memperoleh penghargaan dari Presiden terkait masa bakti. Puluhan tahun berkarir di dunia Lembaga peradilan, Lexsy sudah malang melintang di PN dan PT se-Indonesia.

Dirinya pun didambakan bisa kembali ke daerah, sebagai Ketua PT Sulut. “Jika memang dipercayakan, akan tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Menjadi Ketua PT di daerah sendiri. Namun untuk sekarang, saya akan menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan sepenuh hati dan dengan bersungguh-sungguh,” pungkas Lexsy.(fgn)

Masuk ke dunia Lembaga peradilan sejak tahun 1976, putra Totabuan yang lahir di Desa Moyag, Kotamobagu ini kini dipercaya sebagai Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Maluku Utara. Dialah Lexsy Mamonto, orang Sulut pertama yang menjadi Ketua PT.

Laporan: Foggen Bolung, Jakarta

LAHIR 8 Juni 64 tahun lalu, suami dari Fitriwaty Kato ini mengawali karir di dunia peradilan sejak lulus S1 tahun 1975. Menamatkan gelar sarjana hukum di Universitas Sam Ratulangi Manado, Lexsy Mamonto kemudian langsung ikut seleksi calon hakim agung.

Usahanya langsung membuahkan hasil. Ayah tiga anak ini diangkat menjadi calon hakim di Pengadilan Negeri (PN) Manado tahun 1978. Menghabiskan 13 tahun di PN Manado, Lexsy kemudian diangkat jadi hakim tahun 1991 dan ditugaskan di PN Kolaka, Sulawesi Tenggara.

“Enam tahun lebih tugas di Kolaka, tahun 1997 saya dimutasi ke PN Kendari. Selanjutnya, dua tahun kemudian tahun 1999 saya ditugaskan di PN Ambon. Di sana saya mengemban tugas salah satunya menangani konflik Ambon,” cerita Lexsy saat diwawanrai Manado Post di Jakarta, kemarin.

Di Ambon, lanjutnya, saat menangani konflik horisontal selain sebagai hakim juga menjadi juru damai. “Saat itu kasusnya berakhir damai. Itu sekira tahun 1999 sampai tahun 2000,” sebutnya.

Kemudian, setelah di Ambon selama sekira setahun, Lexsy kemudian ‘pulang kampung’. Dirinya dipercayakan tugas mengabdi di Sulawesi Utara, tepatnya di PN Bitung. “Saya di Bitung sejak tahun 2000. Saya bertugas di Bitung selama sekira empat tahun, hingga 2004. Namun saat masa tugas di Bitung saya beberapa kali ditugaskan ke Ambon sebagai hakim detasering. Dalam rangka penanganan konflik di sana,” kata Lexsy.

Setelah itu, tahun  2004 dia melanjutkan, dipromosi menjadi Wakil Ketua PN di Gowa, Sulsel. “Sementara tugas di Gowa, saya mengambil pendidikan S2 di Universitas Hasanudin Makassar. Lulus tahun 2006 mengambil spesial tindak pidana korupsi (tipikor),” ujarnya.

Selanjutnya, di tahun 2007, dimutasi ke PN Jakarta Pusat. Di ibu kota, Lexsy dipercaya sebagai hakim niaga tipikor dan PHI. “Tahun 2009 saya dipromosi lagi, menjadi Wakil Ketua PN di Jakarta Timur. Di tahun yang sama saya mengambil program doktor di Universitas Jayabaya mengambil spesial recovery aset tipikor,” sebut Lexsy yang saat itu lulus yudisium cumlaude.

Masih dipercaya di peradilan ibu kota, tahun 2011 Lexsy dipromosi jadi Ketua PN Jakarta Barat. Saat menjadi Ketua PT Jakbar, putra Sulut ini sempat menangani perkara teroris internasional, Umar Patek.

“Umar Patek adalah teroris Internasional, wakil Osama Bin Laden, buron CIA saat itu. Perkara tersebut diperebutkan tiga negara, Indonesia AS dan Afganistan. Tapi karena terdakwa memegang KTP Indonesia, jadi kita yang memenangi peradilan. Saat itu terdakwa divonis 15 tahun. Proses peradilan saat itu mendapat pengawalan langsung Kadensus 88 saat itu. Pak Tito Karnavian,” kata Lexsy.

Hingga kemudian, dua tahun kemudian dimutasi menjadi hakim tinggi di Pengadilan Tinggi (PT) Sumatera Utara tahun 2013. “Kemudian, tahun 2015 saya kembali ke Pulau Jawa. Saya dipercaya sebagai Hakim Tinggi di PT Jawa Barat sebelum dipromosi menjadi Wakil PT di Sulawesi Tengah,” ujarnya. Di tahun 2015, dirinya sempat mengikuti calon hakim agung. “Tahun 2015 jadi calon hakim agung. Namun gagal saat wawancara tahap akhir,” katanya.

Orang tua dari Rio Putra, M Aditya dan Nadira Athia ini kejudian kembali dipercaya pulang kampung. Kali ini dirinya mengabdi di Sulawesi Utara sebagai Wakil Ketua PT Sulut. “Itu merupakan salah satu kebanggaan saya. Mengabdi di kampung halaman,” kata Lexsy.

Kemudian, hanya dua tahun sebagai Wakil Ketua PT Sulut, dirinya kemudian kembali dipromosi. Kali ini menjadi Ketua PT di Maluku Utara. Menariknya, Lexsy menjadi orang Sulut pertama yang meraih pencapaian sebagai Ketua PT.

Saat menjalani karir di dunia peradilan, Lexsy memiliki kiprah yang cukup membanggakan. Sempat mewakili Ketua MA saat menjadi pemakalah di seminar nasional yang diikuti oleh dekan fakultas hukum dari seluruh universitas negeri di Indonesia.

“Saat itu saya mewakili ketua MA menjadi pemakalah. Bersama pemakalah lainnya yaitu Ketua KPK dan Jaksa Agung. Saat itu saya membahas materi tantangan dan jawaban MA di era revolusi industri 4.0 yang antara lain adalah e-court, e-litigasi, e-payment, SIPP dan lainnya,” sebut Lexsy.

Dirinya juga sering ikut studi banding dalam rangka tipikor dan peradilan niaga serta pembangunan reformasi birokrasi di lembaga peradilan di China, Jepang, Korea, Turki, Kanada, Prancis, Belanda dan Australia. Selain itu, Lexsy sempat memperoleh penghargaan dari Presiden terkait masa bakti. Puluhan tahun berkarir di dunia Lembaga peradilan, Lexsy sudah malang melintang di PN dan PT se-Indonesia.

Dirinya pun didambakan bisa kembali ke daerah, sebagai Ketua PT Sulut. “Jika memang dipercayakan, akan tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Menjadi Ketua PT di daerah sendiri. Namun untuk sekarang, saya akan menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan sepenuh hati dan dengan bersungguh-sungguh,” pungkas Lexsy.(fgn)

Most Read

Artikel Terbaru

/