alexametrics
30.4 C
Manado
Minggu, 29 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Suami Diduga Kawin Lagi, Tiga Anak dan Istri Ditelantarkan, Disinyalir Ada Pemalsuan Surat KUA

MANADOPOST.ID-Dugaan penelantaran istri dan anak kembali terjadi. Kali ini menimpa Juwita Sumilat (28) bersama tiga orang anaknya. Pun di momen 111 tahun hari Perempuan Internasional 8 Maret 2022 lalu, dirinya meminta keadilan ditegakkan.

 

Diketahui dugaan kasus ini diduga dilakukan oleh DM alias Dumran (30), yang merupakan suami dari JS atau Juwita. Lebih mirisnya, pria asal Desa Buata, Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara ini, diduga sudah menikah lagi di kampung halamannya. Padahal dirinya masih berstatus suami dan ayah bagi tiga anaknya yang masih kecil.

 

Hal ini disampaikan langsung oleh Juwita, saat ditemui usai konsultasi dengan Subdit Renakta Ditreskrimum Polda Sulut pekan lalu. Menurutnya dirinya dan suaminya tersebut, bertemu sekira tahun 2011 lalu. “Awalnya bertemu di tempat kerja. Dan tahun 2013 ketika sudah ada anak satu, kami rencananya akan menikah. Namun masih terkendala domisili,” katanya.

 

Pasalnya untuk pemberkatan nikah, harus satu agama. Namun saat suaminya masih berbeda agama. Akhirnya diputuskan tahun 2018, suaminya pindah memeluk agama Kristen. “Namun kan untuk pemberkatan harus agama satu. Yakni Kristen. Dan nanti ketika 2018, baru dia ikut (memeluk) agama Kristen. Kami melakukan perkawinan, pemberkatan,” terangnya.

 

Namun kala itu, baru dilaksanakan perkawinan agama. Sebab untuk pencatatan sipil, belum dilakukan, terkendala domisili. “Dan sudah disampai-sampaikan untuk mengurus catatan sipil. Cuman dia banyak dalih atau banyak beralasan. Sampai saat ini belum terlaksana pengurusannya,” tegasnya.

 

Akhirnya di tahun 2021 lalu, kata Juwita, suaminya berpamitan untuk pergi bekerja. “Jadi waktu tahun lalu (2021), tidak ada masalah apa-apa, dia pergi ke Gorontalo. Alasannya pergi kerja. Namun nyatanya sudah balik ke kampungnya di Atinggola dan sampai hari ini tidak lagi kembali kerumah kami di Desa Tonsewer Selatan.” katanya setelah beberapa waktu, dirinya mendapat kabar bahwa suaminya akan menikah lagi. “Kami dapat kabar dia disana, dan akan menikah. Memang waktu pertama pergi, masih saling berkabar seperti biasa. Nanti setelah dapat kabar dari facebook, bahwa dia akan melaksanakan antar harta,” tegasnya.

 

Dirinya dan ketiga anaknya juga sempat menyusul ke Desa Buata, Atinggola, untuk mediasi. “Sampai saya dan anak-anak pergi ke Gorontalo, sempat minta tolong untuk dibatalkan (pernikahan tersebut). Namun dari pihak sana tetap mengatakan, dia (Dumran) memang harus menikah,” katanya. “Ada mediasi dilaksanakan. Dan dihadiri oleh Ayahanda (kepala desa) Buata. Dan dikatakan bahwa pihaknya sudah mengetahui laki-laki ini sudah mempunyai isteri. Namun memang menurut mereka pernikahan tersebut harus dilaksanakan,” ungkapnya.

 

Bahkan dirinya mengaku juga sempat membuat surat permohonan pembatalan nikah. Namun tidak diindahkan. Pernikahan Dumran Duma di Buata, Atinggola tetap dilaksanakan. “Harapan tanggung jawab untuk anak-anak. Hanya meminta keadilan untuk anak-anak. Hanya itu,” ungkapnya.

 

Diketahui Dumran diduga menelantarkan istri dan ketiga anaknya. Yang satu berusia 9 tahun, anak kedua sekira 7 tahun dan anak bungsu baru berusia 8 bulan. Bahkan waktu dia meninggalkan rumah, isterinya sementara mengandung anak ketiga.

 

Penasehat hukum Rolly Toreh SH menegaskan, sebagai pemberi bantuan hukum, akan membantu untuk menciptakan rasa keadilan. Pun beberapa langkah sudah diambil. Yakni mendatangi UPTD PPA Sulut dan telah dilakukan pencatatan administrasi dan pengaduan nomor registrasi 046/Reg-Lap/UPTD-PPA/III/2022 sampai register nomor 049.

 

Dan kedepan akan dilakukan kajian psikologis kepada anak dan si ibu oleh UPTD PPA. “Selain itu kami sudah croscek ke Kemenag. Bagaimana si terlapor, suaminya, kenapa bisa mengurus nikah si terlapor ini di KUA Atinggola. Sebab dari sisi ibu ini, punya hak untuk membatalkan pernikahan tersebut. Sebab pada tahun 2018 tanggal 9 Desember. Mereka sudah nikah di gereja KGPM Tonsewer. Namun 19 Februari 2022 sudah melakukan pernikahan secara Islam di Atinggola. Meninggalkan istri dan tiga anak,” tegasnya.

 

Tak hanya itu, langkah hukum juga akan diambil. “Kami sudah konsultasi dengan SPKT dan Subdit Renakta Polda Sulut. Jadi menuntut keadilan terhadap anak-anak. Kebutuhan bagi dan perawatan anak. Kalau tidak dikabulkan kami akan menuntut secara pidana dan perdata. Pidana diduga ada pemalsuan dan perdata gugatan ganti rugi,” terangnya.

 

Adapun beberapa pasal yang diduga dilakukan oleh Dumran Duma. Yakni Pidana. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana penelantaran Anak memuat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 304, Pasal 305, Pasal 306, Pasal 307.

 

Adapun di dalam undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Jo Undang-Undang No 35 Tahun 2014 Jo Undang-Undang No 17 Tahun 2016 Tentang perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yang dimaksud pada pasal 76B yang berbunyi setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam situasi perlakuan salah dan penelantaran.

 

Pasal 77B, setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76B, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan atau denda paling banyak Rp100 juta.

 

Juga Perdata Islam. Terlapor atau suami Dumran Duma sudah jelas Murtad. Sebab saat menikah kristen dengan pelapor atau Istri Juwita Sumilat, sudah menyatakan pindah agama kristen, sudah dibaptis, dan sudah nikah kristen di Gereja KGPM Tonsewer. Itu berarti Dumran Duma yang menikah lagi secara Islam oleh KUA Atinggola tanggal 19 Februari 2022, bersyarat dibatalkan karena memenuhi pasal 75 Kompilasi hukum Islam, karena perbuatan Murtad dapat menjadi sebab batalnya perkawinan.

 

Serta Perdata biasa. Berdasarkan KUH Perdata Pasal 1365, Menuntut ganti rugi atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan Dumran Duma kepada Juwita Sumilat, sebab meninggalkan 3 orang anak, istri serta kerugian-kerugian lainnya selama mereka hidup bersama sejak 2011 sampai 2021.

 

Terakhir adalah maladministrasi dan dugaan pemalsuan. Ketika dicatatkan pernikahan oleh KUA setempat tapi ternyata Dumran sudah murtad menjadi kristen, maka kuat dugaan adanya maladministrasi dan pemalsuan surat oleh pejabat KUA setempat.

 

Juwita juga turut diadvokasi oleh Ormas POSPERA Kota Manado yang di ketuai Roy Liow SH dan Ketua LP-KPK Sulut Caroline Joel.(rez)

MANADOPOST.ID-Dugaan penelantaran istri dan anak kembali terjadi. Kali ini menimpa Juwita Sumilat (28) bersama tiga orang anaknya. Pun di momen 111 tahun hari Perempuan Internasional 8 Maret 2022 lalu, dirinya meminta keadilan ditegakkan.

 

Diketahui dugaan kasus ini diduga dilakukan oleh DM alias Dumran (30), yang merupakan suami dari JS atau Juwita. Lebih mirisnya, pria asal Desa Buata, Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara ini, diduga sudah menikah lagi di kampung halamannya. Padahal dirinya masih berstatus suami dan ayah bagi tiga anaknya yang masih kecil.

 

Hal ini disampaikan langsung oleh Juwita, saat ditemui usai konsultasi dengan Subdit Renakta Ditreskrimum Polda Sulut pekan lalu. Menurutnya dirinya dan suaminya tersebut, bertemu sekira tahun 2011 lalu. “Awalnya bertemu di tempat kerja. Dan tahun 2013 ketika sudah ada anak satu, kami rencananya akan menikah. Namun masih terkendala domisili,” katanya.

 

Pasalnya untuk pemberkatan nikah, harus satu agama. Namun saat suaminya masih berbeda agama. Akhirnya diputuskan tahun 2018, suaminya pindah memeluk agama Kristen. “Namun kan untuk pemberkatan harus agama satu. Yakni Kristen. Dan nanti ketika 2018, baru dia ikut (memeluk) agama Kristen. Kami melakukan perkawinan, pemberkatan,” terangnya.

 

Namun kala itu, baru dilaksanakan perkawinan agama. Sebab untuk pencatatan sipil, belum dilakukan, terkendala domisili. “Dan sudah disampai-sampaikan untuk mengurus catatan sipil. Cuman dia banyak dalih atau banyak beralasan. Sampai saat ini belum terlaksana pengurusannya,” tegasnya.

 

Akhirnya di tahun 2021 lalu, kata Juwita, suaminya berpamitan untuk pergi bekerja. “Jadi waktu tahun lalu (2021), tidak ada masalah apa-apa, dia pergi ke Gorontalo. Alasannya pergi kerja. Namun nyatanya sudah balik ke kampungnya di Atinggola dan sampai hari ini tidak lagi kembali kerumah kami di Desa Tonsewer Selatan.” katanya setelah beberapa waktu, dirinya mendapat kabar bahwa suaminya akan menikah lagi. “Kami dapat kabar dia disana, dan akan menikah. Memang waktu pertama pergi, masih saling berkabar seperti biasa. Nanti setelah dapat kabar dari facebook, bahwa dia akan melaksanakan antar harta,” tegasnya.

 

Dirinya dan ketiga anaknya juga sempat menyusul ke Desa Buata, Atinggola, untuk mediasi. “Sampai saya dan anak-anak pergi ke Gorontalo, sempat minta tolong untuk dibatalkan (pernikahan tersebut). Namun dari pihak sana tetap mengatakan, dia (Dumran) memang harus menikah,” katanya. “Ada mediasi dilaksanakan. Dan dihadiri oleh Ayahanda (kepala desa) Buata. Dan dikatakan bahwa pihaknya sudah mengetahui laki-laki ini sudah mempunyai isteri. Namun memang menurut mereka pernikahan tersebut harus dilaksanakan,” ungkapnya.

 

Bahkan dirinya mengaku juga sempat membuat surat permohonan pembatalan nikah. Namun tidak diindahkan. Pernikahan Dumran Duma di Buata, Atinggola tetap dilaksanakan. “Harapan tanggung jawab untuk anak-anak. Hanya meminta keadilan untuk anak-anak. Hanya itu,” ungkapnya.

 

Diketahui Dumran diduga menelantarkan istri dan ketiga anaknya. Yang satu berusia 9 tahun, anak kedua sekira 7 tahun dan anak bungsu baru berusia 8 bulan. Bahkan waktu dia meninggalkan rumah, isterinya sementara mengandung anak ketiga.

 

Penasehat hukum Rolly Toreh SH menegaskan, sebagai pemberi bantuan hukum, akan membantu untuk menciptakan rasa keadilan. Pun beberapa langkah sudah diambil. Yakni mendatangi UPTD PPA Sulut dan telah dilakukan pencatatan administrasi dan pengaduan nomor registrasi 046/Reg-Lap/UPTD-PPA/III/2022 sampai register nomor 049.

 

Dan kedepan akan dilakukan kajian psikologis kepada anak dan si ibu oleh UPTD PPA. “Selain itu kami sudah croscek ke Kemenag. Bagaimana si terlapor, suaminya, kenapa bisa mengurus nikah si terlapor ini di KUA Atinggola. Sebab dari sisi ibu ini, punya hak untuk membatalkan pernikahan tersebut. Sebab pada tahun 2018 tanggal 9 Desember. Mereka sudah nikah di gereja KGPM Tonsewer. Namun 19 Februari 2022 sudah melakukan pernikahan secara Islam di Atinggola. Meninggalkan istri dan tiga anak,” tegasnya.

 

Tak hanya itu, langkah hukum juga akan diambil. “Kami sudah konsultasi dengan SPKT dan Subdit Renakta Polda Sulut. Jadi menuntut keadilan terhadap anak-anak. Kebutuhan bagi dan perawatan anak. Kalau tidak dikabulkan kami akan menuntut secara pidana dan perdata. Pidana diduga ada pemalsuan dan perdata gugatan ganti rugi,” terangnya.

 

Adapun beberapa pasal yang diduga dilakukan oleh Dumran Duma. Yakni Pidana. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana penelantaran Anak memuat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 304, Pasal 305, Pasal 306, Pasal 307.

 

Adapun di dalam undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Jo Undang-Undang No 35 Tahun 2014 Jo Undang-Undang No 17 Tahun 2016 Tentang perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yang dimaksud pada pasal 76B yang berbunyi setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam situasi perlakuan salah dan penelantaran.

 

Pasal 77B, setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76B, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan atau denda paling banyak Rp100 juta.

 

Juga Perdata Islam. Terlapor atau suami Dumran Duma sudah jelas Murtad. Sebab saat menikah kristen dengan pelapor atau Istri Juwita Sumilat, sudah menyatakan pindah agama kristen, sudah dibaptis, dan sudah nikah kristen di Gereja KGPM Tonsewer. Itu berarti Dumran Duma yang menikah lagi secara Islam oleh KUA Atinggola tanggal 19 Februari 2022, bersyarat dibatalkan karena memenuhi pasal 75 Kompilasi hukum Islam, karena perbuatan Murtad dapat menjadi sebab batalnya perkawinan.

 

Serta Perdata biasa. Berdasarkan KUH Perdata Pasal 1365, Menuntut ganti rugi atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan Dumran Duma kepada Juwita Sumilat, sebab meninggalkan 3 orang anak, istri serta kerugian-kerugian lainnya selama mereka hidup bersama sejak 2011 sampai 2021.

 

Terakhir adalah maladministrasi dan dugaan pemalsuan. Ketika dicatatkan pernikahan oleh KUA setempat tapi ternyata Dumran sudah murtad menjadi kristen, maka kuat dugaan adanya maladministrasi dan pemalsuan surat oleh pejabat KUA setempat.

 

Juwita juga turut diadvokasi oleh Ormas POSPERA Kota Manado yang di ketuai Roy Liow SH dan Ketua LP-KPK Sulut Caroline Joel.(rez)

Most Read

Artikel Terbaru

/