Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Israel Siap Mengakhiri Perang di Gaza Mulai Besok, tapi ....

Kenjiro Tanos • Kamis, 3 April 2025 | 18:45 WIB

 

 

Mobil dan pejalan kaki bergerak di sepanjang jalan di tengah kerusakan yang meluas akibat serangan darat dan udara militer Israel terhadap Hamas di kamp pengungsi Jabalia di Kota Gaza. (Jehad Alshrafi
Mobil dan pejalan kaki bergerak di sepanjang jalan di tengah kerusakan yang meluas akibat serangan darat dan udara militer Israel terhadap Hamas di kamp pengungsi Jabalia di Kota Gaza. (Jehad Alshrafi

MANADOPOST.ID - Israel menyatakan kesiapannya untuk mengakhiri perang di Gaza dalam waktu singkat, bahkan "besok," jika syarat-syarat yang mereka ajukan dipenuhi.

Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar, dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Prancis di Paris.

"Caranya sangat sederhana," tegas Saar. "Sandera harus dikembalikan, dan Hamas harus keluar dari Gaza." Pernyataan ini mencerminkan posisi keras Israel dalam konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan dan menelan banyak korban di kedua belah pihak.

Meskipun demikian, Israel tetap membuka pintu bagi jalur diplomasi. Saar mengungkapkan bahwa pihaknya masih memberikan peluang bagi negosiasi untuk memperpanjang gencatan senjata dan membebaskan para sandera yang masih ditahan oleh Hamas.

Upaya ini didasarkan pada usulan yang diajukan oleh utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff. Namun, menurut Saar, proses negosiasi tersebut saat ini tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Salah satu aspek krusial dalam negosiasi ini adalah perubahan dalam implementasi kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati pada Januari lalu.

Semula, kesepakatan tersebut dibagi dalam tiga fase, di mana fase pertama mencakup pembebasan sejumlah sandera secara bertahap. Setelah itu, fase kedua diharapkan menjadi titik negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen, membebaskan sandera yang tersisa, serta menarik pasukan Israel dari wilayah Gaza.

Namun, dalam perkembangan terbaru, Israel kini mengajukan tuntutan baru yang didukung oleh Presiden AS, Donald Trump. Alih-alih langsung memasuki fase kedua, Israel justru menekankan perlunya memperpanjang fase pertama terlebih dahulu. Perubahan ini tentu saja memicu ketegangan baru dalam proses negosiasi.

Israel tetap bersikukuh bahwa sebelum ada perbincangan mengenai penghentian perang, Hamas harus memenuhi tiga tuntutan utama: membebaskan seluruh sandera yang masih mereka tahan, melucuti senjata sepenuhnya, serta mengosongkan Gaza dari para pemimpin mereka.

Namun, Hamas menolak tuntutan tersebut, terutama karena tidak adanya jaminan bahwa Israel benar-benar akan menghentikan perang setelahnya.

Penolakan ini berujung pada kelanjutan serangan Israel ke Jalur Gaza. Pasukan Israel kembali menggempur wilayah kantong tersebut dengan serangan udara dan mengerahkan lebih banyak pasukan ke berbagai titik strategis.

Kondisi di Gaza pun semakin mencekam, dengan ribuan warga sipil masih terjebak di tengah konflik yang tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Sementara itu, komunitas internasional terus berupaya menekan kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan. Namun, dengan masing-masing pihak tetap bertahan pada sikapnya, jalan menuju perdamaian tampaknya masih panjang dan penuh dengan tantangan. (tkg)

Editor : Kenjiro Tanos
#palestina #Gaza #perang israel #Israel