Penularan Covid-19 Meluas, Junta Militer Minta Bantuan Internasional
Kenjiro Tanos• Minggu, 1 Agustus 2021 | 09:45 WIB
Penyebaran Covid-19 di Myanmar kian meluas (Istimewa)MANADOPOST.ID - Junta militer Myanmar meminta bantuan internasional. Mereka kewalahan menghadapi gelombang penularan Covid-19. Selama ini hanya Tiongkok, sekutu mereka, yang membantu negara yang tengah berkonflik tersebut. ’’Bantuan internasional dibutuhkan untuk mengendalikan dan menghilangkan virus korona dari Myanmar,’’ ujar Pemimpin Junta Militer Jendral Min Aung Hlaing seperti dikutip Global New Light of Myanmar. Pemimpin 65 tahun itu secara spesifik berharap mendapatkan bantuan dari negara-negara anggota ASEAN dan negara sahabat lainnya. ASEAN memiliki anggaran pengendalian Covid-19 dan Myanmar berharap bisa mendapatkannya. Pembicaraan sedang dilakukan, namun belum ada rincian lebih lanjut. Saat ini baru 1,75 juta penduduk Myanmar yang divaksin Covid-19. Itu baru 3,2 persen dari 54 juta populasi penduduk di negara tersebut. Angka penularan harian Rabu (28/7) di kisaran 5 ribu kasus. Melonjak dibanding awal Mei yang sekitar 50an per hari. Angka di lapangan potensial lebih tinggi. Gelombang penularan tiba ketika sistem kesehatan di negara tersebut lumpuh. Pasca kudeta dan militer berkuasa Februari lalu, banyak tenaga kesehatan yang mogok kerja. Mereka tidak lagi mengabdi di rumah sakit milik pemerintah. Kurangnya tenaga medis, obat dan peralatan membuat rumah sakit kewalahan menampung pasien. Sebagian penderita Covid-19 akhirnya meninggal di rumah. Usaha junta militer dengan menerapkan larangan keluar rumah sepertinya tidak berhasil mengerem penularan. Para relawan turun tangan untuk mengambil jenazah pasien Covid-19 di rumah masing-masing dan membantu pemakamannya. Kementerian Kesehatan Myanmar mengungkap sejak 1 Juni ada 4.629 kematian akibat Covid-19. Pemerintah berencana membangun 10 krematorium baru di Yangon untuk mengatasi lonjakan kematian. Utusan Khusus PBB untuk HAM di Myanmar Tom Andrews mengungkapkan bahwa jumlah pasti kasus dan kematian akibat pandemi di negara tersebut memang tidak jelas. Dokter dan jurnalis menjadi target serangan sehingga sulit mendapatkan data yang pasti. ’’Myanmar menjadi super spreader Covid-19 dengan varian yang sangat mematikan yaitu Delta dan lainnya,’’ tegas Andrews seperti dikutip The Guardian. Dia menegaskan bahwa virus SARS-CoV-2 tidak mengenal kebangsaan, perbatasan, ideologi atau partai politik. Semua orang berpeluang sama untuk tertular dan meninggal karenanya. Andrews mendesak Dewan Keamanan (DK) PBB menyerukan gencatan senjata di Myanmar. Dengan begitu situasi bisa lebih terkendali. Saat ini ada tiga antrian yang jamak terlihat di Myanmar. Yaitu di depan ATM, di tempat pengisian oksigen dan di depan krematorium maupun tempat pemakaman. ’’Aksi internasional kini kian mendesak,’’ tegasnya. Penduduk juga kekurangan pangan. Mereka mengibarkan bendera kuning dan putih sebagai tanda butuh makanan dan obat. Media sosial juga dipenuhi dengan permintaan tolong dan pengumuman kematian. Mereka yang antri oksigen kadang ditembak oleh militer Myanmar. Junta militer Myanmar sudah memesan 4 juta dosis vaksin dari Tiongkok. Beijing akan menambah donasi 2 juta dosis lagi. Awal tahun ini, Yangon sudah mendapatkan vaksin dari India sebanyak 1,5 juta dosis. Tiongkok berusaha agar lonjakan kasus di Myanmar tidak merambat ke negaranya. Saat ini varian Delta sudah menyebar ke tiga provinsi di Tiongkok. Yaitu Sichuan, Jiangsu dan Beijing. Penularan bermula dari 9 orang petugas di bandara Nanjing. Hingga kemarin ada sekitar 200 kasus yang terkait varian Delta. Itu adalah penularan terbesar di Tiongkok sepanjang tahun ini. (Jawa Pos) Editor : Kenjiro Tanos