“Aku Pernah Dikejar Massa” - Mengubah Luka Menjadi Rumah bagi Banyak Hati bagi Pelajar International di Singapura
MANADOPOST.ID - Di Singapura, nama Joice Yanto tidak hanya dikenal sebagai CEO EVO House, tetapi juga sebagai sosok yang membawa harapan dan kehangatan bagi ribuan pelajar internasional. EVO House, hunian premium yang menawarkan kenyamanan dan keamanan, mengusung filosofi yang sederhana namun mendalam: Where Your Heart Lives: Di mana hatimu hidup. Di balik kesuksesan ini, ada kisah kehidupan yang penuh dengan perjuangan, keajaiban, dan sebuah komitmen untuk memberikan lebih dari sekadar tempat tinggal.
Joice Yanto bukanlah nama yang asing dalam dunia real estate. Dengan lebih dari 20 tahun pengalaman lintas negara dan gelar prestisius dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, ia telah membuktikan dirinya sebagai seorang profesional yang mumpuni. Namun, sedikit yang tahu bahwa kesuksesan Joice tidak datang begitu saja. Ia harus melalui perjalanan hidup yang penuh rintangan, yang tak hanya mengubah arah hidupnya, tetapi juga memberi dampak luar biasa bagi banyak orang hingga hari ini.
Kisah Perjuangan yang Mengubah Segalanya
Sejak kecil, Joice telah dibesarkan dengan nilai-nilai Pancasila dan nasionalisme yang kuat. Dari taman kanak-kanak hingga universitas, ia diajarkan bahwa Indonesia adalah tanah tumpah darahku—tanah yang harus dihargai dan dijaga. Nasionalisme yang tertanam dalam dirinya sangat kokoh dan solid, menghormati setiap bagian dari bangsanya. Namun, tragedi yang terjadi pada tahun 1998 membuka matanya akan kenyataan pahit yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tahun 1998 adalah tahun yang mengubah segalanya bagi Joice. Saat itu, Indonesia dilanda kerusuhan besar, dan rumah keluarganya menjadi sasaran kebrutalan massa. Dalam kegelapan malam yang dipenuhi suara bom molotov, keluarga Yanto terjebak dalam ketakutan yang tak terbayangkan.
Joice kala itu sedang tertidur di kamarnya yang berada di lantai 2, ketika sebuah botol menghantam jendela kamarnya. Itu adalah bom molotov pertama yang dilemparkan ke dalam rumah mereka. Rumah mereka dikerubungi asap hitam, akibat massa yang membakar sebuah mobil di luar rumah mereka. Suara ledakan dan api yang membakar di luar semakin mendekatkan teror yang tak bisa lagi dihindari. Di luar, riuh suara teriakan massa terdengar: "Bakar rumah ini, ini rumah orang Chinese!" Situasi yang semakin memburuk membuat keluarga Joice memutuskan untuk keluar dari rumah, mencari tempat yang aman dari amukan massa yang saat itu berniat membunuh orang Cina.
Setiap kali bom molotov atau batu besar dilemparkan ke arah rumah mereka, Joice merasakan rumah itu bergetar hebat. Setiap ledakan membuat rumah berguncang, seolah-olah dindingnya akan runtuh dalam sekejap. Dalam ketakutan yang mencekam, Joice terus mencoba menelepon polisi untuk meminta bantuan, namun setiap kali ia menghubungi nomor darurat, tidak ada yang mengangkat teleponnya. Ketakutan semakin melanda, dan rumah yang tadinya aman dan nyaman kini menjadi perangkap yang menakutkan.
Pada saat itu, keluarga Yanto takut akan dibakar hidup-hidup. Namun, mereka juga tidak bisa keluar begitu saja karena massa sudah mengepung rumah mereka di lantai satu. Mereka terjebak, tak tahu harus berbuat apa. Dalam keputusasaan, mereka akhirnya memutuskan untuk melompat ke rumah tetangga yang terletak di sebelah mereka, dengan menggunakan tembok yang menyatu antara rumah mereka dan rumah tetangga, seperti rumah teras. Dari lantai empat, Joice dan keluarganya melompat ke rumah tetangga yang kosong di lantai atas. Namun, rumah tersebut sudah dirusak dan dibobol oleh massa. Meskipun mereka masuk dari lantai atas, rumah itu telah menjadi puing-puing. Begitu mereka turun ke lantai satu, ratusan massa yang telah mengepung rumah tetangga langsung mengejar mereka.
Setelah mereka berhasil keluar dari rumah yang hampir dibakar, keluarga Yanto berlari, dengan ratusan perusuh mengejar mereka. Mereka merasa nyawa mereka sangat terancam. Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah keajaiban terjadi. Sementara rumah mereka mengalami kerusakan parah akibat serangan bom dan batu, keluarga Joice tetap selamat berkat bantuan tak terduga dari seorang pria asing yang tiba-tiba muncul di hadapan massa.
Dengan satu kalimat yang sederhana namun penuh makna, pria tersebut berkata, “Jangan ganggu mereka. Mereka teman saya.” Kalimat itu cukup untuk menghentikan amukan massa dan menyelamatkan keluarga Yanto dari ancaman kematian yang sudah di depan mata.
Pria ini tidak tampak seperti seorang gangster atau mafia yang bisa membuat ratusan perusuh mendengarkannya dengan patuh. Joice yakin bahwa ada kelompok malaikat yang lebih besar yang dikirim oleh Tuhan Yesus, yang ada di belakang pria tersebut. Dengan keberanian yang luar biasa, pria ini kemudian mengawal keluarga Joice, sembilan orang dalam keluarganya, untuk berlari menuju rumah paman mereka yang terletak 3 km jauhnya.
Seperti yang tertulis dalam Mazmur 23:4: "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku."
Joice merasa seolah-olah Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk melindungi mereka, menjaga mereka dalam perjalanan yang penuh bahaya ini. Mereka akhirnya sampai dengan selamat di rumah pamannya, meskipun perjalanan itu penuh ketegangan dan rasa takut yang mengancam di sepanjang jalan.
Perjalanan Menuju Singapura: Ketekunan dalam Keheningan
Seminggu setelah peristiwa traumatis itu, ayah Joice mengajaknya berbicara. Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, dengan kerusuhan yang belum mereda dan masa depan bisnis yang suram, ayah Joice memberikan sebuah keputusan besar. Ia menyarankan Joice untuk menerima tawaran penerimaan di Nanyang Technological University (NTU) Singapura, tanpa menunggu lagi jawaban dari Universitas Toronto yang juga ia lamar untuk program MBA.
Sebagai anak tertua, Joice merasakan beban yang sangat berat. Ia merasa wajib untuk menjaga adik-adiknya, apalagi saat itu, tidak ada yang tahu apakah bisnis keluarganya dapat bertahan di tengah kekacauan ekonomi. Namun, ayahnya memberikan kata-kata yang menguatkan hati Joice:
"Pergilah, dan bukalah jalan bagi enam adikmu untuk keluar dari Indonesia, menuju tanah harapan - Singapura. Untuk biaya sekolahmu, biar ayah yang jamin, meski rumah kita hanya mampu makan nasi dengan garam dan air, ayah akan pastikan biaya sekolahmu tidak akan terhenti."
Joice menatap ayahnya dengan penuh tekad, dan dengan suara yang tegas ia menjawab, "Saya akan pergi, dan pastikan untuk membuka jalan bagi adik-adik saya, agar kita semua bisa pindah ke Singapura, negara yang lebih aman, di mana orang-orang Tionghoa bisa bebas dari kerusuhan rasial seperti yang terjadi di Indonesia."
Kata-kata ayahnya dan keyakinan dalam dirinya memberinya semangat baru. Meski hidup di tengah keterbatasan, ayahnya berjanji akan melakukan apa saja demi memastikan pendidikan Joice tidak terhenti. Dengan tekad yang semakin bulat, Joice memutuskan untuk melangkah ke Singapura, membawa harapan bagi masa depan dirinya dan enam adik-adiknya.
Dari Trauma ke Tanggung Jawab Sosial
Joice merasakan rasa cinta tanah air yang kuat, namun tragedi tersebut membuka matanya pada kenyataan pahit bahwa sebagai orang Tionghoa, ia sering kali diperlakukan secara berbeda, bahkan menjadi korban tak berdosa dan kambing hitam dalam kerusuhan politik. Kenyataan ini melukai hatinya, namun juga memberi kejelasan tentang betapa pentingnya mencari tempat yang aman, di mana nilai-nilai yang ia pegang bisa berkembang tanpa rasa takut.
Berangkat dengan uang pas-pasan, Joice memulai perjalanan sebagai pelajar pascasarjana di Nanyang Technological University. Ia berjalan kaki hampir satu jam setiap hari ke kampus agar bisa menghemat 32 sen. Ia bahkan makan hanya sekali sehari.
Tak ada keluarga. Tak ada yang memperhatikan apakah ia baik-baik saja. Sepi menjadi sahabat yang tidak pernah ia undang, tapi selalu datang menghampiri. Dalam doanya, ia selalu berkata: “Aku adalah biji mata-Mu. Aku percaya Engkau sediakan jalan.”Setiap langkah kaki Joice di Singapura kala itu terasa berat. Krisis moneter di Indonesia membuat rupiah sangat tidak stabil. Joice tak mau membebankan orang tuanya untuk hal ini.
Tuhan menjawab lewat pintu-pintu yang Ia bukakan. Uang Tabungan ayahnya yang tadinya bisa membiayai uang sekolah Joice untuk 1 tahun, hanya bisa bertahan untuk 1 bulan, karena menurunnya nilai tukar Rupiah ke dalam kurs Dollar. Beasiswa datang di saat paling tepat. Pekerjaan menyusul. Joice menolong adik-adiknya hingga melanjutkan studi ke Singapura, dan mereka bisa berdiri tegak.
Namun di balik keberhasilan yang ia raih, ia tidak pernah melupakan rasa kesepian yang pernah menjeratnya. Ia mengingat dirinya yang dulu: seorang perantau yang hidup dalam ketakutan, kelelahan, dan kebingungan, tanpa sosok yang memastikan bahwa ia baik-baik saja.
Pada titik itulah Tuhan menempatkan sebuah tanggung jawab di hatinya, tanggung jawab yang bentuknya adalah kasih untuk orang lain. Saat ia membawa adik-adiknya mengenyam pendidikan di negeri Singa. Singapura, tak semudah itu, Ia mulai melihat betapa banyak pelajar asing datang ke Singapura dengan mimpi yang besar, tetapi tanpa dukungan emosional dan keluarga yang menjadi sandaran. bahkan mencari tempat nyaman dan aman pun, sangat sulit. Ia seperti melihat kembali dirinya sewaktu awal berjuang di Singapura.
Hari itu, ia memutuskan: pengalaman pahitnya tidak boleh sia-sia. Trauma yang dulu hampir mematikan hidupnya, akan diubah menjadi alasan untuk menjaga masa depan orang lain. Dari keputusan itu lahirlah sebuah rumah—bukan sekadar tempat tidur dan meja belajar, melainkan rumah bagi hati yang jauh dari rumah. Joice menamainya EVO House. Rumah yang bertumbuh bukan karena bisnis, tetapi karena panggilan. Rumah yang dibangun dari iman, syukur, dan keinginan untuk membalas cinta Tuhan yang pernah menyelamatkannya.
Di EVO House, pelajar tidak sekadar tinggal. Mereka diperhatikan, didampingi, didengar, ditemani. Para pendamping menjadi keluarga pengganti ketika jarak membentang terlalu jauh. Rindu pada kampung halaman tidak lagi memotong napas, karena selalu ada seseorang yang siap mengatakan: “Kamu tidak sendiri.”
Tagline EVO House “Where Your Heart Lives” lahir dari perjalanan panjang itu. Baginya, rumah adalah tempat hati bisa pulang. Tempat seseorang merasa aman untuk menangis, berproses, dan bangkit lagi. Tempat diinspirasi untuk menjadi manusia yang lebih baik bagi dunia.
“EVO House adalah tempat terbaik yang pernah saya temukan selama studi di luar negeri. Di sini kami bukan hanya tinggal bersama—kami saling bantu seperti keluarga sendiri. Pengalaman yang luar biasa, dan saya akan sangat merekomendasikannya kepada siapa pun.” Ujar Ericko Setiawan, Mahasiswa SIM University.
Sejak tahun 2008 hingga kini, sudah ribuan lebih pelajar dari berbagai negara telah menjadi bagian dari keluarga besar EVO House. Mereka datang membawa ketakutan dan keraguan, lalu pulang membawa keyakinan dan karakter yang matang. Setiap dari mereka adalah bukti bahwa pertolongan yang pernah disalurkan kepada Joice dulu, kini sedang diteruskan kepada banyak nyawa lain.
Joice tidak pernah melupakan bagaimana Tuhan menyelamatkan keluarganya. Ia tidak lupa bagaimana seseorang berdiri melindungi mereka di tengah kerusuhan. Karena itu ia memilih untuk juga berdiri—di depan pintu situasi sulit para pelajar muda—menawarkan perlindungan dan kasih yang sama.
“Kalau hidup saya diselamatkan, maka hidup ini harus menjadi alat keselamatan bagi orang lain,” ujar Joice.
Dari rumah yang pernah hangus terbakar, Tuhan menumbuhkan rumah yang kini menjadi tempat banyak hati pulang. Dari gadis yang pernah gemetar ketakutan, Tuhan membentuk sosok yang berdiri tegak menguatkan banyak mimpi. Meski perjalanan itu penuh luka, Tuhan telah mengubahnya menjadi terang yang tak pernah padam.
Dan di EVO House, terang itu terus menyala. Untuk setiap anak yang datang dengan harapan, untuk setiap hati yang butuh tempat pulang, untuk setiap mimpi yang menunggu dijaga, dan untuk orang tua yang menanti anaknya meraih mimpi.
Di sinilah rumah itu, tempat di mana Tuhan yang dulu menyelamatkan satu keluarga, kini memakai satu keluarga itu untuk menyelamatkan begitu banyak masa depan. EVO House – Where Your Heart Lives. (JIB)