alexametrics
24.4 C
Manado
Jumat, 27 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Jaga Jarak Diberlakukan Lagi di Masjidilharam, WHO: Omicron-Delta Bisa Picu Tsunami Kasus

MANADOPOST.ID– Pemerintah Arab Saudi yang sempat melonggarkan aturan dan mulai membuka lagi layanan umrah kini juga memperketat kebijakannya. Aturan jaga jarak kembali diberlakukan di Masjidilharam.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan terlalu dini untuk meyakini bahwa varian Omicron mengakibatkan gejala penyakit yang lebih ringan. Namun, satu hal yang pasti, persebaran varian terbaru virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 itu lebih tinggi daripada Delta.

’’Saya sangat prihatin bahwa Omicron yang lebih menular telah beredar pada saat yang sama dengan Delta bakal memicu terjadinya tsunami kasus,’’ ujar Sekjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti dikutip Agence France-Presse.

Omicron telah memicu lonjakan penularan di AS, Inggris, Prancis, dan beberapa negara Eropa lainnya. Secara global, selama sepekan terakhir, angka penularan harian tembus 1 juta kasus. Itu adalah kali pertama sejak pandemi terjadi dua tahun lalu.

Peningkatan kasus tersebut membuat sebagian besar pemerintah menerapkan kebijakan baru untuk mengerem laju penularan. Termasuk membatasi acara-acara perayaan pergantian tahun. Sebagian lainnya malah meniadakannya.

Inggris, misalnya, memilih untuk membiarkan perayaan tahun baru tetap berlangsung. Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson mendapat banyak perlawanan untuk menerapkan aturan pembatasan. Meski begitu, mereka sudah bersiap jika terjadi lonjakan pasien rawat inap Covid-19. Layanan Kesehatan Nasional (NHS) Inggris kemarin (30/12) memaparkan telah membuka rumah sakit lapangan sementara. ’’Menilik tingginya angka infeksi Covid-19 dan meningkatnya pasien yang dirawat di rumah sakit, NHS saat ini seperti bersiap perang,’’ kata Direktur Medis Nasional Stephen Powis.

Di Prancis, mulai hari ini (31/12), masker kembali diwajibkan ketika berjalan di jalanan Paris untuk penduduk usia 11 tahun ke atas. Kelab malam juga ditutup hingga Januari. Di Spanyol, hampir semua perayaan pergantian tahun dibatalkan, kecuali di Madrid. Itu pun hanya dibatasi maksimal 7 ribu orang. Sebelum pandemi, biasanya ada 18 ribu orang yang mengikuti malam tahun baru.

Ghebreyesus menegaskan bahwa situasi saat ini akan membuat petugas medis yang sudah kelelahan kian tertekan. Bahkan, sistem kesehatan berada di ambang keruntuhan.

Sementara itu, di Meksiko, ratusan penduduk memilih jalan untuk menggugat WHO dan Tiongkok. Mereka menginginkan kompensasi atas pandemi yang telah merenggut keluarga. Salah satunya Jaime Michaus yang harus kehilangan putrinya untuk selamanya karena Covid-19. ’’Tidak ada sejumlah uang yang akan membawa putri saya kembali, tapi saya melakukan ini demi masa depan cucu saya,’’ ujar pensiunan yang sudah berusia 63 tahun tersebut.

Michaus baru-baru ini menandatangani klaim hukum internasional atas Tiongkok dan WHO yang diajukan Kantor Hukum Internasional Poplavsky yang berbasis di Buenos Aires. Peluang menang atas kasus itu memang kecil, tapi mereka tidak mau menyerah. ’’Klaim ini diajukan karena kelalaian Tiongkok dan WHO dalam penanganan Covid-19,’’ kata perwakilan Poplavsky di Meksiko Denisse Gonzalez.

Lembaga yang memiliki cabang di beberapa negara itu juga mengajukan gugatan untuk penduduk di Kolombia serta Argentina. Mereka mengajukan kompensasi USD 200 ribu untuk yang sakit dan USD 800 ribu untuk yang meninggal. (sha/c19/fal/jpg)

MANADOPOST.ID– Pemerintah Arab Saudi yang sempat melonggarkan aturan dan mulai membuka lagi layanan umrah kini juga memperketat kebijakannya. Aturan jaga jarak kembali diberlakukan di Masjidilharam.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan terlalu dini untuk meyakini bahwa varian Omicron mengakibatkan gejala penyakit yang lebih ringan. Namun, satu hal yang pasti, persebaran varian terbaru virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 itu lebih tinggi daripada Delta.

’’Saya sangat prihatin bahwa Omicron yang lebih menular telah beredar pada saat yang sama dengan Delta bakal memicu terjadinya tsunami kasus,’’ ujar Sekjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti dikutip Agence France-Presse.

Omicron telah memicu lonjakan penularan di AS, Inggris, Prancis, dan beberapa negara Eropa lainnya. Secara global, selama sepekan terakhir, angka penularan harian tembus 1 juta kasus. Itu adalah kali pertama sejak pandemi terjadi dua tahun lalu.

Peningkatan kasus tersebut membuat sebagian besar pemerintah menerapkan kebijakan baru untuk mengerem laju penularan. Termasuk membatasi acara-acara perayaan pergantian tahun. Sebagian lainnya malah meniadakannya.

Inggris, misalnya, memilih untuk membiarkan perayaan tahun baru tetap berlangsung. Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson mendapat banyak perlawanan untuk menerapkan aturan pembatasan. Meski begitu, mereka sudah bersiap jika terjadi lonjakan pasien rawat inap Covid-19. Layanan Kesehatan Nasional (NHS) Inggris kemarin (30/12) memaparkan telah membuka rumah sakit lapangan sementara. ’’Menilik tingginya angka infeksi Covid-19 dan meningkatnya pasien yang dirawat di rumah sakit, NHS saat ini seperti bersiap perang,’’ kata Direktur Medis Nasional Stephen Powis.

Di Prancis, mulai hari ini (31/12), masker kembali diwajibkan ketika berjalan di jalanan Paris untuk penduduk usia 11 tahun ke atas. Kelab malam juga ditutup hingga Januari. Di Spanyol, hampir semua perayaan pergantian tahun dibatalkan, kecuali di Madrid. Itu pun hanya dibatasi maksimal 7 ribu orang. Sebelum pandemi, biasanya ada 18 ribu orang yang mengikuti malam tahun baru.

Ghebreyesus menegaskan bahwa situasi saat ini akan membuat petugas medis yang sudah kelelahan kian tertekan. Bahkan, sistem kesehatan berada di ambang keruntuhan.

Sementara itu, di Meksiko, ratusan penduduk memilih jalan untuk menggugat WHO dan Tiongkok. Mereka menginginkan kompensasi atas pandemi yang telah merenggut keluarga. Salah satunya Jaime Michaus yang harus kehilangan putrinya untuk selamanya karena Covid-19. ’’Tidak ada sejumlah uang yang akan membawa putri saya kembali, tapi saya melakukan ini demi masa depan cucu saya,’’ ujar pensiunan yang sudah berusia 63 tahun tersebut.

Michaus baru-baru ini menandatangani klaim hukum internasional atas Tiongkok dan WHO yang diajukan Kantor Hukum Internasional Poplavsky yang berbasis di Buenos Aires. Peluang menang atas kasus itu memang kecil, tapi mereka tidak mau menyerah. ’’Klaim ini diajukan karena kelalaian Tiongkok dan WHO dalam penanganan Covid-19,’’ kata perwakilan Poplavsky di Meksiko Denisse Gonzalez.

Lembaga yang memiliki cabang di beberapa negara itu juga mengajukan gugatan untuk penduduk di Kolombia serta Argentina. Mereka mengajukan kompensasi USD 200 ribu untuk yang sakit dan USD 800 ribu untuk yang meninggal. (sha/c19/fal/jpg)

Most Read

Artikel Terbaru

/