alexametrics
24.4 C
Manado
Minggu, 29 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Jurnalis Asing di China Kerap Diintimidasi, Anggota Keluarga Turut Jadi Korban

MANADOPOST.ID – Tiongkok sudah lama dikenal sebagai medan yang sulit bagi jurnalis asing. Mereka kerap menghadapi tantangan tersendiri ketika melaporkan berita.

Namun belakangan ini, kebebasan pers di negara tersebut terus merosot tajam. Hal itu diungkap dalam survei tahunan Foreign Correspondents Club (FCC) di Tiongkok yang dirilis kemarin (31/1).

FCC melakukan survey pada 127 dari 192 anggota mereka di Tiongkok. Mereka mengaku mengalami trolling online, serangan fisik, peretasan dunia maya, dan penolakan visa.

Jurnalis lokal di daratan utama Tiongkok dan Hongkong juga jadi target. Tindakan perundungan terhadap para pekerja media itu mayoritas dilakukan di Twitter.

Padahal, Twitter adalah salah satu media sosial terlarang di Tiongkok. Itu mengindikasikan bahwa kemungkinan besar tindakan penyerangan tersebut dilakukan dengan persetujuan pihak berwenang.

Intimidasi pada jurnalis asing juga melibatkan keluarga mereka. Pihak berwenang kerap melecehkan anggota keluarga mereka.

Jurnalis Australia Cheng Lei dan jurnalis Tiongkok Haze Fan telah ditahan selama setahun lebih, dengan dakwaan terlibat dalam kasus keamanan negara.

’’Kebijakan nol-Covid yang berkelanjutan, masalah kepegawaian, meningkatnya ketegangan geopolitik, meningkatnya ketidakpercayaan, dan terkadang permusuhan langsung terhadap media Barat di Tiongkok telah menciptakan badai yang sempurna,’’ tulis editor di laporan FCC tersebut seperti dikutip BBC. (Jawa Pos)

MANADOPOST.ID – Tiongkok sudah lama dikenal sebagai medan yang sulit bagi jurnalis asing. Mereka kerap menghadapi tantangan tersendiri ketika melaporkan berita.

Namun belakangan ini, kebebasan pers di negara tersebut terus merosot tajam. Hal itu diungkap dalam survei tahunan Foreign Correspondents Club (FCC) di Tiongkok yang dirilis kemarin (31/1).

FCC melakukan survey pada 127 dari 192 anggota mereka di Tiongkok. Mereka mengaku mengalami trolling online, serangan fisik, peretasan dunia maya, dan penolakan visa.

Jurnalis lokal di daratan utama Tiongkok dan Hongkong juga jadi target. Tindakan perundungan terhadap para pekerja media itu mayoritas dilakukan di Twitter.

Padahal, Twitter adalah salah satu media sosial terlarang di Tiongkok. Itu mengindikasikan bahwa kemungkinan besar tindakan penyerangan tersebut dilakukan dengan persetujuan pihak berwenang.

Intimidasi pada jurnalis asing juga melibatkan keluarga mereka. Pihak berwenang kerap melecehkan anggota keluarga mereka.

Jurnalis Australia Cheng Lei dan jurnalis Tiongkok Haze Fan telah ditahan selama setahun lebih, dengan dakwaan terlibat dalam kasus keamanan negara.

’’Kebijakan nol-Covid yang berkelanjutan, masalah kepegawaian, meningkatnya ketegangan geopolitik, meningkatnya ketidakpercayaan, dan terkadang permusuhan langsung terhadap media Barat di Tiongkok telah menciptakan badai yang sempurna,’’ tulis editor di laporan FCC tersebut seperti dikutip BBC. (Jawa Pos)

Most Read

Artikel Terbaru

/