alexametrics
26.4 C
Manado
Kamis, 19 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

GAK HABIS-HABIS! Peneliti Wuhan Peringatkan Dunia, Temukan Corona Jenis baru yang Lebih Mematikan

MANADOPOST.ID–Peneliti asal Wuhan, Tiongkok, memperingatkan dunia untuk waspada terkait penemuan jenis baru dari Coronavirus yakni NeoCov.

Ditemukan pada kelelawar di Afrika Selatan, sejauh ini NeoCov memang belum menular ke manusia. Namun, hanya tinggal butuh 1 mutasi lagi, virus NeoCov bahaya dan mematikan.

Jika menyusup ke sel manusia maka peluang kematiannya yakni 1 banding 3. Virus ini lebih mirip pada Coronavirus jenis Middle East Respiratory Syndrome coronavirus (MERS)-CoV.

Menurut para ilmuwan dari Universitas Wuhan, NeoCov dapat menembus sel manusia dengan cara yang sama seperti virus SARS-CoV-2.

“Hanya satu mutasi lagi menjadi berbahaya bagi manusia,” kata para peneliti dalam sebuah makalah yang diposting di situs web pracetak bioRxiv yang belum ditinjau oleh rekan sejawat.

MERS-CoV dan beberapa virus Korona kelelawar menggunakan ‘DPP4’ sebagai reseptor fungsionalnya. Namun, reseptor untuk NeoCoV, kerabat terdekat MERS-CoV yang pernah ditemukan pada kelelawar, tetap dianggap berbahaya.

Dalam studi tersebut, para peneliti secara tak terduga menemukan bahwa NeoCoV dan kerabat dekatnya, PDF-2180-CoV, dapat secara efisien menggunakan beberapa jenis enzim pengubah Angiotensin 2 (ACE2) kelelawar dan, yang kurang menguntungkan, ACE2 manusia untuk masuk. NeoCoV secara efisien menginfeksi sel pengekspresi ACE2 manusia setelah mutasi T510F pada receptor-binding motif (RBM).

“Khususnya, infeksi tidak dapat dinetralisir silang oleh antibodi yang menargetkan SARS-CoV-2 atau MERS-CoV,” beber laporan penelitian.

Artinya, baik antibodi maupun molekul protein yang dihasilkan oleh penderita penyakit pernapasan atau yang telah divaksinasi lengkap tidak dapat melindungi terhadap NeoCoV.

Studi ini menunjukkan kasus pertama penggunaan ACE2 pada virus terkait MERS, menyoroti potensi ancaman keamanan hayati dari kemunculan ACE2 pada manusia menggunakan MERS-CoV-2 dengan tingkat kematian dan penularan yang tinggi.

Terkait dengan virus MERS-CoV, virus baru ditemukan pada wabah di negara-negara Timur Tengah pada tahun 2012 dan 2015 dan mirip dengan SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 pada manusia.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), NeoCov masih memerlukan penelitian lebih lanjut. WHO memantau dan menanggapi ancaman penyakit zoonosis yang muncul.(Jawapos)

MANADOPOST.ID–Peneliti asal Wuhan, Tiongkok, memperingatkan dunia untuk waspada terkait penemuan jenis baru dari Coronavirus yakni NeoCov.

Ditemukan pada kelelawar di Afrika Selatan, sejauh ini NeoCov memang belum menular ke manusia. Namun, hanya tinggal butuh 1 mutasi lagi, virus NeoCov bahaya dan mematikan.

Jika menyusup ke sel manusia maka peluang kematiannya yakni 1 banding 3. Virus ini lebih mirip pada Coronavirus jenis Middle East Respiratory Syndrome coronavirus (MERS)-CoV.

Menurut para ilmuwan dari Universitas Wuhan, NeoCov dapat menembus sel manusia dengan cara yang sama seperti virus SARS-CoV-2.

“Hanya satu mutasi lagi menjadi berbahaya bagi manusia,” kata para peneliti dalam sebuah makalah yang diposting di situs web pracetak bioRxiv yang belum ditinjau oleh rekan sejawat.

MERS-CoV dan beberapa virus Korona kelelawar menggunakan ‘DPP4’ sebagai reseptor fungsionalnya. Namun, reseptor untuk NeoCoV, kerabat terdekat MERS-CoV yang pernah ditemukan pada kelelawar, tetap dianggap berbahaya.

Dalam studi tersebut, para peneliti secara tak terduga menemukan bahwa NeoCoV dan kerabat dekatnya, PDF-2180-CoV, dapat secara efisien menggunakan beberapa jenis enzim pengubah Angiotensin 2 (ACE2) kelelawar dan, yang kurang menguntungkan, ACE2 manusia untuk masuk. NeoCoV secara efisien menginfeksi sel pengekspresi ACE2 manusia setelah mutasi T510F pada receptor-binding motif (RBM).

“Khususnya, infeksi tidak dapat dinetralisir silang oleh antibodi yang menargetkan SARS-CoV-2 atau MERS-CoV,” beber laporan penelitian.

Artinya, baik antibodi maupun molekul protein yang dihasilkan oleh penderita penyakit pernapasan atau yang telah divaksinasi lengkap tidak dapat melindungi terhadap NeoCoV.

Studi ini menunjukkan kasus pertama penggunaan ACE2 pada virus terkait MERS, menyoroti potensi ancaman keamanan hayati dari kemunculan ACE2 pada manusia menggunakan MERS-CoV-2 dengan tingkat kematian dan penularan yang tinggi.

Terkait dengan virus MERS-CoV, virus baru ditemukan pada wabah di negara-negara Timur Tengah pada tahun 2012 dan 2015 dan mirip dengan SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 pada manusia.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), NeoCov masih memerlukan penelitian lebih lanjut. WHO memantau dan menanggapi ancaman penyakit zoonosis yang muncul.(Jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/