alexametrics
24.4 C
Manado
Kamis, 19 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Facebook Blokir Dua Laman Media yang Terafiliasi dengan Pemerintah Rusia

MANADOPOST.ID–Kecaman terus datang dari berbagai pihak terkait invasi Rusia ke Ukraina. Dalam berbagai bentuk, banyak negara mengecam aksi Rusia. Salah satunya seperti yang dilakukan Facebook.

Facebook dilaporkan memblokir laman media yang terafiliasi pemerintah Rusia yakni Russia Today atau RT dan Sputnik di kawasan Uni Eropa (UE). Aksi tersebut dikatakan pihak Meta, induk perusahaan Facebook, berkenaan dengan banyaknya desakan ke platform tersebut.

“Kami telah menerima permintaan dari sejumlah pemerintah dan UE untuk mengambil langkah lebih lanjut sehubungan dengan media yang dikendalikan negara Rusia. Mengingat sifat luar biasa dari situasi saat ini, kami akan membatasi akses ke RT dan Sputnik di seluruh UE saat ini,” kata Nick Clegg, wakil presiden urusan global di induk Facebook, Meta.

Selain Facebook, dikutip dari NPR, platform lainnya juga melakukan aksi yang sama. Dia adalah TikTok. Seorang juru bicara TikTok mengatakan kepada NPR bahwa mereka juga memblokir dua sumber berita tersebut di kawasan Uni Eropa.

Langkah tersebut berarti orang yang menggunakan aplikasi media sosial di negara-negara Uni Eropa tidak akan dapat mengakses halaman atau konten yang diposting oleh RT ataupun Sputnik.

Microsoft juga demikian. Raksasa perangkat lunak itu mengatakan bakal menghapus aplikasi berita RT dari toko aplikasi ponsel cerdasnya. Tidak menampilkan konten RT atau Sputnik apapun di feed berita Microsoft Start dan MSN.com.

Sebelumnya, Presiden Uni Eropa Ursula von der Leyen mengumumkan larangan dua sumber berita tersebut, yang dia gambarkan sebagai “mesin media Kremlin. “Rusia Today dan Sputnik milik negara, dan anak perusahaan mereka, tidak akan lagi dapat menyebarkan kebohongan mereka untuk membenarkan perang Vladimir Putin,” katanya melalui cuitan di Twitter pribadinya.

Sebagai informasi, RT dan Sputnik telah mengumpulkan banyak pengikut di aplikasi termasuk Facebook, Instagram, dan YouTube. Mereka mendorong agenda pro-Kremlin.

RT, yang memiliki lebih dari 7 juta pengikut di halaman Facebook utamanya dan 4,6 juta pelanggan di saluran YouTube utamanya, telah membingkai invasi Rusia sebagai tanggapan terhadap agresi Ukraina dan mengikuti garis Kremlin dengan menyebutnya sebagai operasi khusus.

Sebelumnya, Google dan Facebook juga memblokir media pemerintah Rusia di Ukraina atas permintaan pemerintah di sana. Bersama dengan Microsoft, mereka juga telah memotong outlet yang didukung negara untuk menggunakan alat periklanan mereka.

Sementara, Twitter mengatakan akan memberi label peringatan pada tweet dengan tautan ke cerita dari media pemerintah Rusia. Itu membuat kecil kemungkinan orang akan melihat tweet ini, mirip dengan apa yang telah dilakukan dengan berita hoaks terkait Covid-19.(Jawapos)

MANADOPOST.ID–Kecaman terus datang dari berbagai pihak terkait invasi Rusia ke Ukraina. Dalam berbagai bentuk, banyak negara mengecam aksi Rusia. Salah satunya seperti yang dilakukan Facebook.

Facebook dilaporkan memblokir laman media yang terafiliasi pemerintah Rusia yakni Russia Today atau RT dan Sputnik di kawasan Uni Eropa (UE). Aksi tersebut dikatakan pihak Meta, induk perusahaan Facebook, berkenaan dengan banyaknya desakan ke platform tersebut.

“Kami telah menerima permintaan dari sejumlah pemerintah dan UE untuk mengambil langkah lebih lanjut sehubungan dengan media yang dikendalikan negara Rusia. Mengingat sifat luar biasa dari situasi saat ini, kami akan membatasi akses ke RT dan Sputnik di seluruh UE saat ini,” kata Nick Clegg, wakil presiden urusan global di induk Facebook, Meta.

Selain Facebook, dikutip dari NPR, platform lainnya juga melakukan aksi yang sama. Dia adalah TikTok. Seorang juru bicara TikTok mengatakan kepada NPR bahwa mereka juga memblokir dua sumber berita tersebut di kawasan Uni Eropa.

Langkah tersebut berarti orang yang menggunakan aplikasi media sosial di negara-negara Uni Eropa tidak akan dapat mengakses halaman atau konten yang diposting oleh RT ataupun Sputnik.

Microsoft juga demikian. Raksasa perangkat lunak itu mengatakan bakal menghapus aplikasi berita RT dari toko aplikasi ponsel cerdasnya. Tidak menampilkan konten RT atau Sputnik apapun di feed berita Microsoft Start dan MSN.com.

Sebelumnya, Presiden Uni Eropa Ursula von der Leyen mengumumkan larangan dua sumber berita tersebut, yang dia gambarkan sebagai “mesin media Kremlin. “Rusia Today dan Sputnik milik negara, dan anak perusahaan mereka, tidak akan lagi dapat menyebarkan kebohongan mereka untuk membenarkan perang Vladimir Putin,” katanya melalui cuitan di Twitter pribadinya.

Sebagai informasi, RT dan Sputnik telah mengumpulkan banyak pengikut di aplikasi termasuk Facebook, Instagram, dan YouTube. Mereka mendorong agenda pro-Kremlin.

RT, yang memiliki lebih dari 7 juta pengikut di halaman Facebook utamanya dan 4,6 juta pelanggan di saluran YouTube utamanya, telah membingkai invasi Rusia sebagai tanggapan terhadap agresi Ukraina dan mengikuti garis Kremlin dengan menyebutnya sebagai operasi khusus.

Sebelumnya, Google dan Facebook juga memblokir media pemerintah Rusia di Ukraina atas permintaan pemerintah di sana. Bersama dengan Microsoft, mereka juga telah memotong outlet yang didukung negara untuk menggunakan alat periklanan mereka.

Sementara, Twitter mengatakan akan memberi label peringatan pada tweet dengan tautan ke cerita dari media pemerintah Rusia. Itu membuat kecil kemungkinan orang akan melihat tweet ini, mirip dengan apa yang telah dilakukan dengan berita hoaks terkait Covid-19.(Jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/