alexametrics
27.4 C
Manado
Kamis, 26 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

NGERI! Ukraina Bunuh 6.000 Tentara Musuh, Undang Ibu-ibu Rusia Jemput Jenazah Anaknya

MANADOPOST.ID– Serangan tentara Rusia di Ukraina kian intensif. Memasuki sepekan invasi, Kiev, Kharkiv dan Kherson menjadi tiga kota utama yang digempur habis-habisan oleh pasukan dari Negeri Beruang Merah. Di sisi lain, Ukraina terus melawan sekuat tenaga.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kemarin (2/3) mengklaim bahwa mereka telah membunuh hampir 6 ribu tentara Rusia. Ukraina mengundang para ibu di Rusia yang ingin mengambil jenazah putra mereka yang tewas di medan perang. Tapi korban warga sipil Ukraina juga sangat banyak. Hingga kemarin disinyalir ada lebih dari 2 ribu penduduk sipil yang terbunuh.

’’Mereka (tentara Rusia, Red) tidak tahu apapun tentang Kiev, tentang sejarah kami. Tapi mereka semua diperintahkan untuk melenyapkan sejarah kami, negara kami dan kami semua,’’ ujar Zelensky seperti dikutip The Guardian. Dia menegaskan bahwa Rusia tidak bisa mengambil negaranya dengan bom dan serangan udara.

Sejak Selasa (1/3), Rusia memang mengerahkan pasukan dalam skala besar. Mereka bahkan mengklaim telah mengambil alih Kherson. Wali Kota Kherson Igor Kolykhaiev mengakui bahwa stasiun kereta api dan pelabuhan sudah diduduki oleh Rusia. Mereka juga menjarah toko-toko dan apotik. Tapi kota tersebut masih dikuasai tentara Ukraina.

’’Divisi pasukan bersenjata Ukraina telah menguasai sepenuhnya pusat regional Kherson,’’ tegas Juru Bicara Kementerian Pertahanan Ukraina Igor Konashenkov kemarin.
Klaim siapa yang benar tidak bisa diverifikasi. Namun yang jelas gempuran pasukan Rusia kian terasa. Pasukan terjun payung Rusia mendarat di Kharkiv sekitar pukul 03.00 kemarin. Puluhan penduduk sipil tewas karena pengeboman di kota tersebut beberapa hari terakhir dan kemarin ada 4 lagi yang meninggal. Kharkiv masih di genggaman Ukraina. Tapi banyak permukiman penduduk, sekolah, rumah sakit dan berbagai fasilitas lainnya yang hancur terkena bom Rusia.

Serangan di Kiev lebih besar lagi. Ibu kota Ukraina itu terkepung. Jika ia sampai jatuh ke tangan Rusia, moral dan semangat tentara Ukraina bisa anjlok. Pemerintah Ukraina terus mendapatkan pasokan senjata dari negara-negara Barat untuk melawan, tapi tidak ada bantuan pasukan. Kota Mariupol yang berhadapan langsung dengan Laut Azov juga dikabarkan dikepung pasukan Rusia.

Pasukan Rusia juga dikabarkan telah menguasai sekitar area pembangkit tenaga nuklir Zaporizhzhia di Energodar. Itu adalah pembangkit tenaga nuklir terbesar di Eropa. Sebanyak enam dari 15 reaktor energi nuklir Ukraina ada di sana. Dirjen Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menegaskan bahwa radiasi di tempat itu masih normal. Penduduk dikabarkan berusaha mencegah pasukan Rusia menuju lokasi pembangkit dengan membangun penghalang.

Situasi yang kian genting membuat penduduk sipil memilih meninggalkan Ukraina dan mengungsi. Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengungkapkan saat ini jumlah pengungsi Ukraina mencapai 875 ribu orang. Separo dari jumlah tersebut berada di Polandia. Sebanyak 116 ribu ke Hungaria, 79 ribu ke Moldova, 67 ribu ke Slovakia, 45 ribu ke Rumania, 43 Ribu ke Rusia dan 350 orang ke Belarus. Sekitar 70 ribu lainnya ke negara-negara Eropa lainnya. Pengungsi di Rusia dan Belarus kemungkinan merupakan warga sipil di wilayah Donetsk dan Luhansk yang dikuasai oleh pemberontak Pro-Rusia.

Sementara itu Kepala Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina Oleksiy Danilov menyatakan bahwa mereka berhasil menggagalkan plot pembunuhan Zelensky. Satu unit pasukan khusus elit Chechnya yang dikenal dengan sebutan Kadyrovites berada di balik rencana pembunuhan presiden. Tapi rencana mereka telah digagalkan. ’’Kami sangat menyadari ada operasi khusus oleh Kadyrovites untuk menghilangkan presiden kami,’’ tegas Danilov.

Ukraina tidak sendiri dalam mengungkap plot pembunuhan itu. Mereka dibantu oleh mata-mata Rusia yang diam-diam menentang Presiden Rusia Vladimir Putin. (jawapos)

MANADOPOST.ID– Serangan tentara Rusia di Ukraina kian intensif. Memasuki sepekan invasi, Kiev, Kharkiv dan Kherson menjadi tiga kota utama yang digempur habis-habisan oleh pasukan dari Negeri Beruang Merah. Di sisi lain, Ukraina terus melawan sekuat tenaga.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kemarin (2/3) mengklaim bahwa mereka telah membunuh hampir 6 ribu tentara Rusia. Ukraina mengundang para ibu di Rusia yang ingin mengambil jenazah putra mereka yang tewas di medan perang. Tapi korban warga sipil Ukraina juga sangat banyak. Hingga kemarin disinyalir ada lebih dari 2 ribu penduduk sipil yang terbunuh.

’’Mereka (tentara Rusia, Red) tidak tahu apapun tentang Kiev, tentang sejarah kami. Tapi mereka semua diperintahkan untuk melenyapkan sejarah kami, negara kami dan kami semua,’’ ujar Zelensky seperti dikutip The Guardian. Dia menegaskan bahwa Rusia tidak bisa mengambil negaranya dengan bom dan serangan udara.

Sejak Selasa (1/3), Rusia memang mengerahkan pasukan dalam skala besar. Mereka bahkan mengklaim telah mengambil alih Kherson. Wali Kota Kherson Igor Kolykhaiev mengakui bahwa stasiun kereta api dan pelabuhan sudah diduduki oleh Rusia. Mereka juga menjarah toko-toko dan apotik. Tapi kota tersebut masih dikuasai tentara Ukraina.

’’Divisi pasukan bersenjata Ukraina telah menguasai sepenuhnya pusat regional Kherson,’’ tegas Juru Bicara Kementerian Pertahanan Ukraina Igor Konashenkov kemarin.
Klaim siapa yang benar tidak bisa diverifikasi. Namun yang jelas gempuran pasukan Rusia kian terasa. Pasukan terjun payung Rusia mendarat di Kharkiv sekitar pukul 03.00 kemarin. Puluhan penduduk sipil tewas karena pengeboman di kota tersebut beberapa hari terakhir dan kemarin ada 4 lagi yang meninggal. Kharkiv masih di genggaman Ukraina. Tapi banyak permukiman penduduk, sekolah, rumah sakit dan berbagai fasilitas lainnya yang hancur terkena bom Rusia.

Serangan di Kiev lebih besar lagi. Ibu kota Ukraina itu terkepung. Jika ia sampai jatuh ke tangan Rusia, moral dan semangat tentara Ukraina bisa anjlok. Pemerintah Ukraina terus mendapatkan pasokan senjata dari negara-negara Barat untuk melawan, tapi tidak ada bantuan pasukan. Kota Mariupol yang berhadapan langsung dengan Laut Azov juga dikabarkan dikepung pasukan Rusia.

Pasukan Rusia juga dikabarkan telah menguasai sekitar area pembangkit tenaga nuklir Zaporizhzhia di Energodar. Itu adalah pembangkit tenaga nuklir terbesar di Eropa. Sebanyak enam dari 15 reaktor energi nuklir Ukraina ada di sana. Dirjen Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menegaskan bahwa radiasi di tempat itu masih normal. Penduduk dikabarkan berusaha mencegah pasukan Rusia menuju lokasi pembangkit dengan membangun penghalang.

Situasi yang kian genting membuat penduduk sipil memilih meninggalkan Ukraina dan mengungsi. Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengungkapkan saat ini jumlah pengungsi Ukraina mencapai 875 ribu orang. Separo dari jumlah tersebut berada di Polandia. Sebanyak 116 ribu ke Hungaria, 79 ribu ke Moldova, 67 ribu ke Slovakia, 45 ribu ke Rumania, 43 Ribu ke Rusia dan 350 orang ke Belarus. Sekitar 70 ribu lainnya ke negara-negara Eropa lainnya. Pengungsi di Rusia dan Belarus kemungkinan merupakan warga sipil di wilayah Donetsk dan Luhansk yang dikuasai oleh pemberontak Pro-Rusia.

Sementara itu Kepala Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina Oleksiy Danilov menyatakan bahwa mereka berhasil menggagalkan plot pembunuhan Zelensky. Satu unit pasukan khusus elit Chechnya yang dikenal dengan sebutan Kadyrovites berada di balik rencana pembunuhan presiden. Tapi rencana mereka telah digagalkan. ’’Kami sangat menyadari ada operasi khusus oleh Kadyrovites untuk menghilangkan presiden kami,’’ tegas Danilov.

Ukraina tidak sendiri dalam mengungkap plot pembunuhan itu. Mereka dibantu oleh mata-mata Rusia yang diam-diam menentang Presiden Rusia Vladimir Putin. (jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/