alexametrics
24.4 C
Manado
Rabu, 18 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Tunda Divaksin, Warga Singapura Ceritakan Bisa Lolos dari Kematian Usai Terpapar Covid

MANADOPOST.ID–Warga Singapura bernama Lee Sock Lee mengalami pengalaman haru terkait Covid-19. Ia tak menyangka bisa selamat dari maut usai terkena Covid-19. Padahal, ia sudah dalam kondisi kritis dan jantung serta paru-parunya sudah memburuk.

Awalnya pada 13 September lalu, ia mendapat hasil positif saat tes cepat antigen Covid-19. Akan tetapi, keadaan dengan cepat berubah menjadi lebih buruk. Dalam 24 jam berikutnya, dia dalam perawatan kritis dan berjuang untuk bertahan hidup.

Ibu rumah tangga berusia 43 tahun itu pingsan dan dilarikan ke ruang gawat darurat Rumah Sakit Umum Ng Teng Fong (NTFGH) pada 13 September. Ia berada di ambang kolaps dengan gangguan kardiovaskular dan hampir meninggal.

Ia langsung diintervensi dengan pengobatan oksigenasi membran ekstrakorporeal (Ecmo). Ecmo adalah mesin penyelamat hidup yang mengambil alih fungsi jantung dan paru-paru.

Lee memang belum divaksin Covid-19. Ia menunda vaksinasi karena punya riwayat alergi makanan, tetapi tidak memiliki penyakit penyerta yang sudah ada sebelumnya. Keluarga sedang menunggu kedatangan Novavax, vaksin Covid-19 berbasis protein.

“Ini adalah kesempatan kedua dalam hidup saya. Jika saya meninggal, suami saya yang merawat keempat anak kami yang masih muda. Bagi yang masih ragu untuk mendapatkan vaksin, memang ada risiko efek samping, tapi tolong jangan tunda lagi,” tukasnya.

Ia menggambarkan pengalamannya sebagai traumatis bagi keluarganya, terutama suaminya. Lee menambahkan vaksinasi berpotensi menyelamatkan hidup seseorang.

“Anda tidak perlu melalui apa yang saya alami dan apa yang saya berikan kepada keluarga saya,” katanya.

MANADOPOST.ID–Warga Singapura bernama Lee Sock Lee mengalami pengalaman haru terkait Covid-19. Ia tak menyangka bisa selamat dari maut usai terkena Covid-19. Padahal, ia sudah dalam kondisi kritis dan jantung serta paru-parunya sudah memburuk.

Awalnya pada 13 September lalu, ia mendapat hasil positif saat tes cepat antigen Covid-19. Akan tetapi, keadaan dengan cepat berubah menjadi lebih buruk. Dalam 24 jam berikutnya, dia dalam perawatan kritis dan berjuang untuk bertahan hidup.

Ibu rumah tangga berusia 43 tahun itu pingsan dan dilarikan ke ruang gawat darurat Rumah Sakit Umum Ng Teng Fong (NTFGH) pada 13 September. Ia berada di ambang kolaps dengan gangguan kardiovaskular dan hampir meninggal.

Ia langsung diintervensi dengan pengobatan oksigenasi membran ekstrakorporeal (Ecmo). Ecmo adalah mesin penyelamat hidup yang mengambil alih fungsi jantung dan paru-paru.

Lee memang belum divaksin Covid-19. Ia menunda vaksinasi karena punya riwayat alergi makanan, tetapi tidak memiliki penyakit penyerta yang sudah ada sebelumnya. Keluarga sedang menunggu kedatangan Novavax, vaksin Covid-19 berbasis protein.

“Ini adalah kesempatan kedua dalam hidup saya. Jika saya meninggal, suami saya yang merawat keempat anak kami yang masih muda. Bagi yang masih ragu untuk mendapatkan vaksin, memang ada risiko efek samping, tapi tolong jangan tunda lagi,” tukasnya.

Ia menggambarkan pengalamannya sebagai traumatis bagi keluarganya, terutama suaminya. Lee menambahkan vaksinasi berpotensi menyelamatkan hidup seseorang.

“Anda tidak perlu melalui apa yang saya alami dan apa yang saya berikan kepada keluarga saya,” katanya.

Most Read

Artikel Terbaru

/