29.4 C
Manado
Senin, 27 Juni 2022

Banner Mobile (Anymind)

Cina dan AS Makin Mesra, Presiden Joe Biden dan Xi Jinping Bakal Bertemu

- Advertisement -

MANADOPOST.ID – Hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok bakal terjalin lebih tegas. Dua pemimpin negara tersebut, Joe Biden dan Xi Jinping berencana untuk bertemu. Tapi tidak bertatap muka secara langsung. Melainkan lewat panggilan video. Belum ada jadwal pasti kapan itu digelar, tapi dipastikan sebelum akhir tahun ini.

’’Dua pemimpin tersebut secara prinsip sepakat untuk menggelar pertemuan bilateral secara virtual,’’ujar salah satu pejabat di Gedung Putih seperti dikutip Agence France-Presse.

Ia digelar sebagai salah satu upaya untuk mengatur persaingan dua negara. Biden berpendapat bahwa harus ada batasan untuk persaingan yang berkembang antara dua kekuatan ekonomi dunia tersebut.

Pejabat itu juga menegaskan bahwa Biden senang bakal bertemu dengan Xi. Selama beberapa tahun mereka tidak bertatap muka. Ketika jadi presiden AS, Biden hanya 2 kali berbiara via telepon dengan Xi. Yang terakhir dilakukan selama 90 menit pada bulan lalu.

- Advertisement -

Biden dan Xi sejatinya bisa bersua langsung di sela-sela pertemuan G-20 di Roma, Italia 30-31 Oktober nanti. Namun sayangnya Xi memutuskan untuk tidak hadir di acara tersebut. Dia juga tidak akan menghadiri KTT COP26 dan APEC.

Pertemuan virtual itu terselenggara setelah Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan bertemu dengan Diplomat Tiongkok Yang Jiechi di Zurich. Dalam pembicaraan yang berlangsung selama 6 jam tersebut, Yang menyerukan agar dua negara bekerjasama.

’’Ketika Tiongkok dan AS bekerjasama, dua negara dan dunia akan diuntungkan. Jika Tiongkok dan AS berkonfrontasi, dua negara dan dunia bakal sangat menderita,’’ tegas Yang seperti dikutip Xinhua.

Hubungan AS-Tiongkok memang jarang sekali hangat. Bahkan memburuk ketika Donald Trump berkuasa. Saat itu perang dagang dua negara berlangsung sengit. Masing-masing memberikan pajak tinggi untuk barang impor dari negara lawan. Hal itu masih berlangsung hingga sekarang.

Senin (4/10) Perwakilan Dagang AS Katherine Tai menuduh Tiongkok telah gagal memenuhi komitmennya di bawah kesepakatan perdagangan fase 1 era Trump. Tai berjanji untuk membela kepentingan ekonomi AS.

Ketika Biden memimpin, dua negara bersitegang terkait dengan urusan sengketa Taiwan dan Laut China Selatan. AS menjual senjata ke Taiwan. Sedangkan Tiongkok berulang kali menyatakan bahwa Taiwan adalah bagian dari negara tersebut. Tiongkok juga ingin menguasai sebagian besar Laut China Selatan dan beberapa wilayah lainnya. Ia bersengketa dengan negara-negara sekutu AS seperti Jepang dan Korsel.

Tak cukup sampai di situ, AS juga menjual kapal selam bertenaga nuklir ke Australia. Tujuannya supaya Australia mampu melindungi diri dari tekanan Tiongkok di teritori maritim. Washington selama ini juga tak segan mengkritik Beijing terkait pelanggaran HAM yang mereka lakukan pada penduduk Uighur di Xinjiang serta Hongkong. (Jawa Pos)

MANADOPOST.ID – Hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok bakal terjalin lebih tegas. Dua pemimpin negara tersebut, Joe Biden dan Xi Jinping berencana untuk bertemu. Tapi tidak bertatap muka secara langsung. Melainkan lewat panggilan video. Belum ada jadwal pasti kapan itu digelar, tapi dipastikan sebelum akhir tahun ini.

’’Dua pemimpin tersebut secara prinsip sepakat untuk menggelar pertemuan bilateral secara virtual,’’ujar salah satu pejabat di Gedung Putih seperti dikutip Agence France-Presse.

Ia digelar sebagai salah satu upaya untuk mengatur persaingan dua negara. Biden berpendapat bahwa harus ada batasan untuk persaingan yang berkembang antara dua kekuatan ekonomi dunia tersebut.

Pejabat itu juga menegaskan bahwa Biden senang bakal bertemu dengan Xi. Selama beberapa tahun mereka tidak bertatap muka. Ketika jadi presiden AS, Biden hanya 2 kali berbiara via telepon dengan Xi. Yang terakhir dilakukan selama 90 menit pada bulan lalu.

Biden dan Xi sejatinya bisa bersua langsung di sela-sela pertemuan G-20 di Roma, Italia 30-31 Oktober nanti. Namun sayangnya Xi memutuskan untuk tidak hadir di acara tersebut. Dia juga tidak akan menghadiri KTT COP26 dan APEC.

Pertemuan virtual itu terselenggara setelah Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan bertemu dengan Diplomat Tiongkok Yang Jiechi di Zurich. Dalam pembicaraan yang berlangsung selama 6 jam tersebut, Yang menyerukan agar dua negara bekerjasama.

’’Ketika Tiongkok dan AS bekerjasama, dua negara dan dunia akan diuntungkan. Jika Tiongkok dan AS berkonfrontasi, dua negara dan dunia bakal sangat menderita,’’ tegas Yang seperti dikutip Xinhua.

Hubungan AS-Tiongkok memang jarang sekali hangat. Bahkan memburuk ketika Donald Trump berkuasa. Saat itu perang dagang dua negara berlangsung sengit. Masing-masing memberikan pajak tinggi untuk barang impor dari negara lawan. Hal itu masih berlangsung hingga sekarang.

Senin (4/10) Perwakilan Dagang AS Katherine Tai menuduh Tiongkok telah gagal memenuhi komitmennya di bawah kesepakatan perdagangan fase 1 era Trump. Tai berjanji untuk membela kepentingan ekonomi AS.

Ketika Biden memimpin, dua negara bersitegang terkait dengan urusan sengketa Taiwan dan Laut China Selatan. AS menjual senjata ke Taiwan. Sedangkan Tiongkok berulang kali menyatakan bahwa Taiwan adalah bagian dari negara tersebut. Tiongkok juga ingin menguasai sebagian besar Laut China Selatan dan beberapa wilayah lainnya. Ia bersengketa dengan negara-negara sekutu AS seperti Jepang dan Korsel.

Tak cukup sampai di situ, AS juga menjual kapal selam bertenaga nuklir ke Australia. Tujuannya supaya Australia mampu melindungi diri dari tekanan Tiongkok di teritori maritim. Washington selama ini juga tak segan mengkritik Beijing terkait pelanggaran HAM yang mereka lakukan pada penduduk Uighur di Xinjiang serta Hongkong. (Jawa Pos)

Most Read

Artikel Terbaru

/