alexametrics
25.4 C
Manado
Selasa, 21 September 2021
spot_img

Karena Pembelajaran Tatap Muka, Muncul Klaster Covid-19 di Tiongkok

MANADOPOST.ID – Pembelajaran tatap muka (PTM) di Putian, Provinsi Fujian, Tiongkok berdampak luar biasa. Terjadi klaster penularan baru Covid-19 di kota tersebut yang berhubungan dengan anak-anak sekolah.

Awalnya hanya guru dan siswa saja yang diuji Covid-19, tapi begitu kasus tidak terkendali kini seluruh penduduk dites. Kota tersebut memiliki sekitar 3,2 juta penghuni.

Dilansir Agence France-Presse, pasien pertama yang dicurigai menyebabkan wabah di Fujian adalah seorang pria yang baru kembali dari Singapura. Dia mengalami gejala penularan justru setelah dikarantina selama 14 hari. Di akhir masa karantina, hasil tesnya negatif.

Pria ini memiliki putra yang berusia 12 tahun. Bocah tersebut dan seorang temannya termasuk pasien awal yang terdeteksi pekan lalu. Kasus ini ketahuan tak lama setelah masa sekolah baru dimulai. Virus yang diduga didominasi varian Delta ini menyebar melalui ruang kelas dan menginfeksi lebih dari 36 siswa. Sebanyak 8 di antaranya adalah siswa TK.

‘’Ini penyebaran terkait sekolah yang terbesar pertama sejak awal pandemi,’’ ujar otoritas setempat kemarin (14/9).

Kini kasus total kasus di Fujian mencapai lebih dari 100. Senin (13/9) ada 59 kasus penularan lokal baru. Padahal sehari sebelumnya kasus baru hanya 22 saja. Sebagian besar kasus baru ini ada di Fujian.

Hingga kemarin Tiongkok sudah menginjeksikan lebih dari 2 miliar dosis vaksin Covid-19. Itu cukup untuk memvaksinasi sekitar 70 persen penduduknya. Namun kasus di Putian ini menimbulkan kehawatiran pada anak-anak yang masih rentan tertular dan belum divaksin.

Saat ini pemerintah setempat memerintahkan agar sekolah menghentikan PTM. Kota Xiamen yang dekat dengan Putian juga menerapkan aturan serupa. Mereka juga menghentikan layanan bus jarak jauh dan mengetes seluruh penduduknya.

Sementara itu kedutaan besar Tiongkok di Singapura juga memperingatkan penduduknya agar lebih waspada ketika bepergian ke negara tersebut. Mereka harus bersiap menghadapi kesulitan psikologis dan ekonomi jika pulang kembali ke Tiongkok. (Jawa Pos)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru