alexametrics
25.4 C
Manado
Sabtu, 28 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Hasil KTT Perubahan Iklim COP26 Kecewakan Aktivis dan PBB

MANADOPOST.ID – Kecewa. Itulah yang dirasakan oleh para aktivis lingkungan atas hasil kesepakatan KTT Perubahan Iklim COP26 di Glasgow, Inggris. Sebab di detik terakhir ada revisi. Hanya satu kata, tapi bisa mengubah segalanya. Yaitu dari menghapuskan bahan bakar fosil menjadi hanya mengurangi penggunaannya saja.

Revisi itu adalah usulan India yang didukung Tiongkok. Dua negara tersebut adalah pengguna batu bara tertinggi di dunia. Tiongkok yang pertama, disusul India dan Amerika Serikat di urutan ketiga. Dengan kata lain, mereka adalah negara-negara penghasil polusi terbesar.

’’#COP26 sudah berakhir. Ini ringkasan singkatnya: bla..bla..bla.. Tapi pekerjaan sebenarnya terus berlanjut di luar pertemuan tersebut. Dan kami tidak akan pernah menyerah, selamanya,’’ cuit aktivis lingkungan asal Swedia Greta Thunberg mengkritisi hasil kesepakatan 200 negara itu seperti dikutip Agence France-Presse.

Selama konferensi, Thunberg dan aktivis lainnya juga sudah mengecam negara-negara peserta COP26. Menurut mereka, para pemimpin dunia telah gagal mencocokkan kata-kata mereka dengan tindakan nyata di lapangan. Mereka belum mampu memenuhi kesepakatan perubahan iklim di Paris pada 2015 lalu.

Sekjen PBB Antonio Guterres juga turut memberikan kritik. Tapi tidak blak-blakan seperti Thunberg. Dia memperingatkan bencana karena perubahan iklim bakal tiba. Menurutnya hasil COP26 adalah kompromi yang mencerminkan kepentingan, kontrakdiksi dan kemauan politik dunia saat ini. Kesepakatan itu tidak cukup. Guterres juga mengirimkan pesan pada para pemuda, komunitas adat, pemimpin peremuan dan semua pihak yang memimpin aksi perubahan iklim.

’’Saya tahu kalian mungkin kecewa. Tapi kita tengah berjuang untuk hidup kita dan pertarungan ini harus dimenangkan,’’ cuit Guterres. Presiden COP26 Alok Sharma juga menyesali proses negosiasi yang panjang dan berlarut-larut namun akhirnya harus berubah di akhir. ’’Saya sangat menyesalinya,’’ ujarnya.

Batu bara masih menjadi bisnis yang menjanjikan. Australia bahkan terang-terangan menyatakan bahwa mereka akan tetap menjual batu bara termal untuk beberapa dekade mendatang. Itu karena permintaan pasar masih tinggi. Mereka beralasan jika tidak menjualnya, negara lain akan mengisi kekosongan tersebut. Austalia adalah pengekspor terbesar kedua, sumber pembangkit listrik tenaga batu bara tersebut. (Jawa Pos)

MANADOPOST.ID – Kecewa. Itulah yang dirasakan oleh para aktivis lingkungan atas hasil kesepakatan KTT Perubahan Iklim COP26 di Glasgow, Inggris. Sebab di detik terakhir ada revisi. Hanya satu kata, tapi bisa mengubah segalanya. Yaitu dari menghapuskan bahan bakar fosil menjadi hanya mengurangi penggunaannya saja.

Revisi itu adalah usulan India yang didukung Tiongkok. Dua negara tersebut adalah pengguna batu bara tertinggi di dunia. Tiongkok yang pertama, disusul India dan Amerika Serikat di urutan ketiga. Dengan kata lain, mereka adalah negara-negara penghasil polusi terbesar.

’’#COP26 sudah berakhir. Ini ringkasan singkatnya: bla..bla..bla.. Tapi pekerjaan sebenarnya terus berlanjut di luar pertemuan tersebut. Dan kami tidak akan pernah menyerah, selamanya,’’ cuit aktivis lingkungan asal Swedia Greta Thunberg mengkritisi hasil kesepakatan 200 negara itu seperti dikutip Agence France-Presse.

Selama konferensi, Thunberg dan aktivis lainnya juga sudah mengecam negara-negara peserta COP26. Menurut mereka, para pemimpin dunia telah gagal mencocokkan kata-kata mereka dengan tindakan nyata di lapangan. Mereka belum mampu memenuhi kesepakatan perubahan iklim di Paris pada 2015 lalu.

Sekjen PBB Antonio Guterres juga turut memberikan kritik. Tapi tidak blak-blakan seperti Thunberg. Dia memperingatkan bencana karena perubahan iklim bakal tiba. Menurutnya hasil COP26 adalah kompromi yang mencerminkan kepentingan, kontrakdiksi dan kemauan politik dunia saat ini. Kesepakatan itu tidak cukup. Guterres juga mengirimkan pesan pada para pemuda, komunitas adat, pemimpin peremuan dan semua pihak yang memimpin aksi perubahan iklim.

’’Saya tahu kalian mungkin kecewa. Tapi kita tengah berjuang untuk hidup kita dan pertarungan ini harus dimenangkan,’’ cuit Guterres. Presiden COP26 Alok Sharma juga menyesali proses negosiasi yang panjang dan berlarut-larut namun akhirnya harus berubah di akhir. ’’Saya sangat menyesalinya,’’ ujarnya.

Batu bara masih menjadi bisnis yang menjanjikan. Australia bahkan terang-terangan menyatakan bahwa mereka akan tetap menjual batu bara termal untuk beberapa dekade mendatang. Itu karena permintaan pasar masih tinggi. Mereka beralasan jika tidak menjualnya, negara lain akan mengisi kekosongan tersebut. Austalia adalah pengekspor terbesar kedua, sumber pembangkit listrik tenaga batu bara tersebut. (Jawa Pos)

Most Read

Artikel Terbaru

/