alexametrics
28.4 C
Manado
Sabtu, 21 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

NATO Tak Akan Kirim Pasukan, Pilih Damai Daripada Perang Nuklir, Rusia Diminta Tarik Pasukan

MANADOPOST.ID–NATO memilih upaya damai. Mereka tidak berencana mengirim pasukan ke Ukraina yang tengah berperang dengan Rusia. Presiden Putin diminta segera tarik pasukan.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan aliansi tersebut tidak berencana mengirim pasukan ke Ukraina yang tengah berperang dengan Rusia.

NATO mengatakan akan berusaha secara substansial mendukung upaya perdamaian antara Rusia dan Ukraina.

“Kami mendukung upaya perdamaian. Kami meminta Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menarik pasukannya,” kata Stoltenberg seperti diberitakan AFP, Rabu (16/3).

“Tapi kami tidak berencana mengerahkan pasukan NATO ke Ukraina,” tuturnya.

Hal tersebut Stoltenberg sampaikan usai bertemu dpara menteri pertahanan NATO. NATO juga telah menolak permintaan Ukraina, yang bukan anggota mereka, untuk campur tangan dalam konflik, termasuk memberlakukan zona larangan terbang demi menghentikan bom dari Rusia.

Aliansi yang dipimpin AS tersebut menyatakan keterlibatan langsung mereka dapat memicu konfrontasi dengan Rusia. Hal tersebut dikhawatirkan bisa memicu perang nuklir.

Namun, sekutu NATO mengirim senjata untuk membantu pasukan Ukraina mempertahankan negara mereka.

“Para menteri membahas hal itu hari ini. Mereka memperkuat pesan tentang pentingnya memberikan dukungan dengan peralatan canggih, sisstem pertahanan udara, dan lainnya,” kata Stoltenberg.

“Tapi tidak ada pengerahan pasukan udara atau darat NATO di Ukraina,” Stoltenberg menegaskan.

Sebelumnya, Moskow juga telah memperingatkan setiap pengiriman adalah target yang sah untuk diserang militer Rusia.

Sementara itu, para pemimpin NATO akan mengadakan pertemuan puncak darurat di Brussel pekan depan. Mereka akan membahas perang di Ukraina dan tanggapan terhadap serangan Rusia.

Belum terdapat perkembangan terbaru mengenai negosiasi perdamaian antara Ukraina dan Rusia.

Kremlin mendorong Ukraina untuk membatalkan ambisi bergabung dengan NATO, sementara Kyiv menegaskan perlu jaminan keamanan konkret yang mencegah serangan di masa depan. (ral/int/pojoksatu)

MANADOPOST.ID–NATO memilih upaya damai. Mereka tidak berencana mengirim pasukan ke Ukraina yang tengah berperang dengan Rusia. Presiden Putin diminta segera tarik pasukan.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan aliansi tersebut tidak berencana mengirim pasukan ke Ukraina yang tengah berperang dengan Rusia.

NATO mengatakan akan berusaha secara substansial mendukung upaya perdamaian antara Rusia dan Ukraina.

“Kami mendukung upaya perdamaian. Kami meminta Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menarik pasukannya,” kata Stoltenberg seperti diberitakan AFP, Rabu (16/3).

“Tapi kami tidak berencana mengerahkan pasukan NATO ke Ukraina,” tuturnya.

Hal tersebut Stoltenberg sampaikan usai bertemu dpara menteri pertahanan NATO. NATO juga telah menolak permintaan Ukraina, yang bukan anggota mereka, untuk campur tangan dalam konflik, termasuk memberlakukan zona larangan terbang demi menghentikan bom dari Rusia.

Aliansi yang dipimpin AS tersebut menyatakan keterlibatan langsung mereka dapat memicu konfrontasi dengan Rusia. Hal tersebut dikhawatirkan bisa memicu perang nuklir.

Namun, sekutu NATO mengirim senjata untuk membantu pasukan Ukraina mempertahankan negara mereka.

“Para menteri membahas hal itu hari ini. Mereka memperkuat pesan tentang pentingnya memberikan dukungan dengan peralatan canggih, sisstem pertahanan udara, dan lainnya,” kata Stoltenberg.

“Tapi tidak ada pengerahan pasukan udara atau darat NATO di Ukraina,” Stoltenberg menegaskan.

Sebelumnya, Moskow juga telah memperingatkan setiap pengiriman adalah target yang sah untuk diserang militer Rusia.

Sementara itu, para pemimpin NATO akan mengadakan pertemuan puncak darurat di Brussel pekan depan. Mereka akan membahas perang di Ukraina dan tanggapan terhadap serangan Rusia.

Belum terdapat perkembangan terbaru mengenai negosiasi perdamaian antara Ukraina dan Rusia.

Kremlin mendorong Ukraina untuk membatalkan ambisi bergabung dengan NATO, sementara Kyiv menegaskan perlu jaminan keamanan konkret yang mencegah serangan di masa depan. (ral/int/pojoksatu)

Most Read

Artikel Terbaru

/