23.4 C
Manado
Sabtu, 20 Agustus 2022

Disebut Punya Efek Samping Kelumpuhan Wajah, Ini Penjelasan Sinovac

MANADOPOST.ID–Sebuah penelitian yang dilakukan di Hongkong menyebutkan Sinovac memiliki efek samping dan berisiko. Salah satunya adalah Bell’s Palsy atau sejenis kelumpuhan wajah.

Risikonya disebutkan lebih tinggi. Akan tetapi, temuan itu seharusnya tidak menjadi penghalang untuk vaksinasi.

Temuan tersebut diterbitkan dalam sebuah penelitian di jurnal The Lancet Infectious Diseases. Hanya saja, efek yang menguntungkan dan protektif dari vaksin Covid-19 yang tidak aktif masih jauh lebih besar daripada risiko efek samping yang umumnya sembuh sendiri ini.

Studi ini melibatkan 28 kasus Bell’s Palsy yang dikonfirmasi secara klinis setelah suntikan Sinovac di antara hampir 452 ribu orang yang menerima dosis pertama vaksin. Sementara, 16 kasus setelah mendapat vaksin Pfizer-BioNtech terdeteksi dari lebih 537 ribu orang.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Temuan kami menunjukkan peningkatan risiko Bell’s palsy secara keseluruhan setelah vaksinasi CoronaVac,” menurut penelitian tersebut.

Penelitian yang dilakukan di Hongkong itu menilai risiko efek samping dalam 42 hari setelah vaksinasi. Mengapa Bell’s palsy pada pasien setelah vaksinasi bisa terjadi, masih tidak jelas. Para peneliti menyerukan penyelidikan lebih lanjut.

Sementara itu, terkait efek samping tersebut, perwakilan Sinovac, Liu Peicheng dalam tanggapan tertulis menjelaskan Bell’s Palsy setelah vaksinasi jarang terjadi. Dan, sebagian besar gejalanya ringan dan membaik dengan sendirinya.

Liu mengatakan Sinovac belum mendeteksi risiko Bell’s Palsy dalam analisis data dari otoritas pengendalian penyakit Tiongkok, Pusat Pemantauan Uppsala dari Organisasi Kesehatan Dunia, atau database unitnya untuk efek samping setelah imunisasi.

“Menurut data saat ini, manfaat dan perlindungan CoronaVac jauh lebih besar daripada risiko yang mungkin terjadi,” kata Liu.

“Masyarakat harus divaksinasi penuh tepat waktu dengan CoronaVac untuk mencegah infeksi Covid-19 dan memblokir penularan virus,” tuturnya. (Jawapos)

MANADOPOST.ID–Sebuah penelitian yang dilakukan di Hongkong menyebutkan Sinovac memiliki efek samping dan berisiko. Salah satunya adalah Bell’s Palsy atau sejenis kelumpuhan wajah.

Risikonya disebutkan lebih tinggi. Akan tetapi, temuan itu seharusnya tidak menjadi penghalang untuk vaksinasi.

Temuan tersebut diterbitkan dalam sebuah penelitian di jurnal The Lancet Infectious Diseases. Hanya saja, efek yang menguntungkan dan protektif dari vaksin Covid-19 yang tidak aktif masih jauh lebih besar daripada risiko efek samping yang umumnya sembuh sendiri ini.

Studi ini melibatkan 28 kasus Bell’s Palsy yang dikonfirmasi secara klinis setelah suntikan Sinovac di antara hampir 452 ribu orang yang menerima dosis pertama vaksin. Sementara, 16 kasus setelah mendapat vaksin Pfizer-BioNtech terdeteksi dari lebih 537 ribu orang.

“Temuan kami menunjukkan peningkatan risiko Bell’s palsy secara keseluruhan setelah vaksinasi CoronaVac,” menurut penelitian tersebut.

Penelitian yang dilakukan di Hongkong itu menilai risiko efek samping dalam 42 hari setelah vaksinasi. Mengapa Bell’s palsy pada pasien setelah vaksinasi bisa terjadi, masih tidak jelas. Para peneliti menyerukan penyelidikan lebih lanjut.

Sementara itu, terkait efek samping tersebut, perwakilan Sinovac, Liu Peicheng dalam tanggapan tertulis menjelaskan Bell’s Palsy setelah vaksinasi jarang terjadi. Dan, sebagian besar gejalanya ringan dan membaik dengan sendirinya.

Liu mengatakan Sinovac belum mendeteksi risiko Bell’s Palsy dalam analisis data dari otoritas pengendalian penyakit Tiongkok, Pusat Pemantauan Uppsala dari Organisasi Kesehatan Dunia, atau database unitnya untuk efek samping setelah imunisasi.

“Menurut data saat ini, manfaat dan perlindungan CoronaVac jauh lebih besar daripada risiko yang mungkin terjadi,” kata Liu.

“Masyarakat harus divaksinasi penuh tepat waktu dengan CoronaVac untuk mencegah infeksi Covid-19 dan memblokir penularan virus,” tuturnya. (Jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/