24.4 C
Manado
Senin, 8 Agustus 2022

Kabur ke UEA, Presiden Afghanistan Dituding Bawa Lari Rp 2,4 Triliun

MANADOPOST.ID— Presiden Afghanistan Ashraf Ghani kini berada di Uni Emirat Arab (UEA). Duta Besar Afghanistan untuk Tajikistan Zahir Aghbar menuding, Ghani membawa lari uang USD 169 juta (Rp 2,4 triliun) ketika kabur dari Kabul. Tudingan serupa dilontarkan Kedutaan Besar Rusia untuk Afghanistan.

Aghbar menegaskan bahwa Ghani telah mengkhianati tanah air dan negaranya karena melarikan diri. “Kedutaan bakal mengakui Wakil Presiden Amrullah Saleh sebagai presiden sementara,” terang Aghbar dalam sesi konferensi pers di Dushanbe, Tajikistan.

Saleh juga mengeluarkan pernyataan bahwa kini dirinya adalah presiden sementara Aghanistan. Dia juga menegaskan bahwa perang dengan Taliban belum berakhir.

Sementara itu, proses evakuasi warga asing terus berlangsung. Pun demikian penduduk Afghanistan yang ingin lari dari pemerintahan Taliban. Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul mulai beroperasi kembali. AS mengevakuasi 9 ribu orang per hari. Hingga kemarin AS sudah mengevakuasi 3.200 orang. Negara lain seperti Jerman, Inggris, Prancis, dan India juga berusaha memulangkan penduduknya sebanyak-banyaknya.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Di sisi lain, demo anti-Taliban mulai mencuat di Jalalabad. Mereka menolak bendera Afghanistan diturunkan dan diganti dengan banner milik Taliban. Imbas dari aksi tersebut, setidaknya tiga orang dilaporkan meninggal. Puluhan orang lainnya luka-luka. Aksi serupa kini menjalar ke kota-kota lain di sekitarnya. Babrak Amirzada, reporter kantor berita lokal, mengungkapkan bahwa dirinya dan kameramennya dipukuli oleh Taliban karena berusaha meliput aksi protes tersebut.

Terpisah, remaja putri di Herat kembali sekolah seperti biasa. Hingga kemarin Taliban masih memenuhi janjinya untuk membiarkan perempuan mengenyam pendidikan. Herat selama ini dikenal sebagai kota kosmopolitan. Perempuan dan remaja putri berjalan bebas di jalan, bersekolah, dan kuliah. Ia berbeda dengan beberapa wilayah lain yang lebih konservatif. Tapi, sampai kapan mereka bisa sekolah, hanya Taliban yang tahu. Sebab, ketika Taliban berkuasa lebih dari dua dekade lalu, perempuan dilarang sekolah dan bekerja.(jawapos)

MANADOPOST.ID— Presiden Afghanistan Ashraf Ghani kini berada di Uni Emirat Arab (UEA). Duta Besar Afghanistan untuk Tajikistan Zahir Aghbar menuding, Ghani membawa lari uang USD 169 juta (Rp 2,4 triliun) ketika kabur dari Kabul. Tudingan serupa dilontarkan Kedutaan Besar Rusia untuk Afghanistan.

Aghbar menegaskan bahwa Ghani telah mengkhianati tanah air dan negaranya karena melarikan diri. “Kedutaan bakal mengakui Wakil Presiden Amrullah Saleh sebagai presiden sementara,” terang Aghbar dalam sesi konferensi pers di Dushanbe, Tajikistan.

Saleh juga mengeluarkan pernyataan bahwa kini dirinya adalah presiden sementara Aghanistan. Dia juga menegaskan bahwa perang dengan Taliban belum berakhir.

Sementara itu, proses evakuasi warga asing terus berlangsung. Pun demikian penduduk Afghanistan yang ingin lari dari pemerintahan Taliban. Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul mulai beroperasi kembali. AS mengevakuasi 9 ribu orang per hari. Hingga kemarin AS sudah mengevakuasi 3.200 orang. Negara lain seperti Jerman, Inggris, Prancis, dan India juga berusaha memulangkan penduduknya sebanyak-banyaknya.

Di sisi lain, demo anti-Taliban mulai mencuat di Jalalabad. Mereka menolak bendera Afghanistan diturunkan dan diganti dengan banner milik Taliban. Imbas dari aksi tersebut, setidaknya tiga orang dilaporkan meninggal. Puluhan orang lainnya luka-luka. Aksi serupa kini menjalar ke kota-kota lain di sekitarnya. Babrak Amirzada, reporter kantor berita lokal, mengungkapkan bahwa dirinya dan kameramennya dipukuli oleh Taliban karena berusaha meliput aksi protes tersebut.

Terpisah, remaja putri di Herat kembali sekolah seperti biasa. Hingga kemarin Taliban masih memenuhi janjinya untuk membiarkan perempuan mengenyam pendidikan. Herat selama ini dikenal sebagai kota kosmopolitan. Perempuan dan remaja putri berjalan bebas di jalan, bersekolah, dan kuliah. Ia berbeda dengan beberapa wilayah lain yang lebih konservatif. Tapi, sampai kapan mereka bisa sekolah, hanya Taliban yang tahu. Sebab, ketika Taliban berkuasa lebih dari dua dekade lalu, perempuan dilarang sekolah dan bekerja.(jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/