23C
Manado
Minggu, 7 Maret 2021

Biden Disumpah dengan Alkitab Berusia 127 Tahun

MANADOPOST.ID—Amerika Serikat (AS) resmi punya kepala negara baru. Kemarin, Joe Biden dilantik sebagai presiden negara adidaya itu.

Ada yang menarik dari pelantikan Biden. Mantan Wakil Presiden AS di era Presiden Barack Obama tersebut, disumpah di atas kitab suci bersejarah bagi keluarganya. Sebab usianya telah mencapai 127 tahun.

Sumpah presiden di atas teks agama bukan sebuah kewajiban, melainkan lebih seperti tradisi yang ada sejak Presiden AS pertama George Washington dilantik. Sebanyak 45 presiden mengucap sumpah di atas Alkitab yang berbeda.

Beberapa di antara mereka ada yang memilih Alkitab dari keluarganya atau Alkitab bersejarah yang digunakan para pendahulunya. Contohnya, Presiden Barack Obama yang memilih menggunakan milik Abraham Lincoln pada pelantikannya tahun 2009.

Sementara itu, pada pelantikan yang paling berbeda dari sejarah AS, karena pandemi Covid-19 dan pengamanan super ketat setelah kerusuhan gedung Capitol, Biden menggunakan Alkitab milik keluarganya yang digunakan sejak 1893.

Hal ini diungkapkan Biden dan Ibu Negara Jill Biden dalam acara The Late Show with Stephen Colbert. “Itu hanya pusaka keluarga Biden, dan setiap tanggal penting ada di sana. Misalnya, setiap kali saya disumpah untuk apa pun, tanggalnya selalu sama dan tertulis di Alkitab,” kata Biden seperti dikutip dari The Oprah Magazine.

Menilik sejarah kitab suci yang berukuran 5 inchi ini, Biden telah menggunakannya dalam berbagai momen penting dalam hidupnya, di antaranya adalah saat pertama kali disumpah menjadi anggota Senat di Delaware.

Saat itu dia mengucap sumpah di samping dua anak laki-lakinya yang dirawat pasca-kecelakaan yang merenggut nyawa istri dan anak perempuannya. Sejak saat itu, Biden menggunakannya sebanyak enam kali upacara Senator AS dan juga dua kali saat menjabat sebagai Wakil Presiden AS mendampingi Obama.

Salah satu kenangan pada Alkitab tersebut juga tercatat saat mendiang anaknya, Beau yang meninggal pada 2015 karena sakit kanker otak, saat diangkat menjadi pengacara umum delaware pada 2007.

Sementara itu, Biden menyampaikan pidato pertamanya sebagai Presiden AS Rabu (20/1). Setelah mengangkat sumpah sebagai Presiden AS di Gedung Capitol, Washington DC, AS, Biden meminta seluruh rakyat AS untuk bersatu.

Dia juga berbicara tentang tantangan yang akan dihadapi pemerintahannya termasuk pandemi virus corona dan kebangkitan supremasi kulit putih.

Dengan adanya tantangan itu, Biden mengatakan dia akan menghadapinya dan pemerintahannya akan mengalahkan setiap rintangan.

Dia mengulangi sumpah kampanyenya untuk memulihkan jiwa masa depan Amerika sambil menekankan bahwa aski nyata diperlukan lebih dari sekadar kata-kata. “Itu membutuhkan hal yang paling sulit dipahami dari semua hal dalam demokrasi: persatuan,” tutur Biden sebagaimana dilansir dari BBC.

Biden menyerukan rakyat AS untuk lebih saling menghormati satu sama lain di dalam kehidupan bermasyarakat.

Dia mengatakan bahwa persatuan diperlukan untuk kebesaran Amerika. “Hentikan teriakan dan turunkan suhu. Tanpa persatuan tidak ada perdamaian,” tutur Biden. “Persatuan adalah jalan ke depan. Dan kita harus bertemu momen ini sebagai Amerika Serikat,” imbuh Biden.

Di sisi lain, pelantikan Biden diyakini akan berdampak positif bagi Indonesia, khususnya Sulawesi Utara (Sulut). Harga sejumlah hasil pertanian di Nyiur Melambai berpotensi melejit.

Pengamat ekonomi Dr Robert Winerungan berpendapat, Indonesia termasuk Sulut harus menganggap Amerika Serikat penting bagi perdagangan dan investasi serta teknologi. Bagi Indonesia, hubungan akan menjadi lebih baik jika Amerika dan China menjaga kerjasama daripada konflik berkepanjangan. Kepentingan Sulut terhadap AS adalah ekspor utamanya yakni kelapa dan turunannya. Seperti minyak kelapa, ikan.

“Yang jika perdagangan AS makin terbuka dan ekonomi AS membaik, ekspor kelapa kita akan makin lancar dan dengan demikian harga kelapa milik petani Sulut akan makin membaik dan tentunya akan berdampak pada naiknya kesejahteraan petani,” tuturnya.

Selain itu, program stimulus fiskal yang direncanakan Biden dalam kebijakan ekonominya berjanji memberikan stimulus fiskal yang jauh lebih besar dibanding Presiden sebelumnya, Donald Trump.

Karena ekonomi Amerika merupakan 30% dari ekonomi dunia. Maka ketika AS melakukan stimulus besar pasti dampaknya juga mempengaruhi negara emerging market atau negara yang kondisi ekonomi rendah yang menuju ekonomi menengah. Maupun di seluruh dunia.

“Pemulihan ekonomi dunia akan semakin cepat. Dengan pemerintahan yang baru, Biden akan kembali ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berusaha untuk memimpin penanganan pandemi virus corona. Ini bisa berdampak pada penemuan vaksi dan obat untuk penyembuhan Covid-19 akan bisa makin cepat,” tukasnya. (ayu/jen)

Artikel Terbaru