alexametrics
24.4 C
Manado
Jumat, 20 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Kisah Khalid Payenda, Mantan Menteri Keuangan Afghanistan yang Jadi Sopir Uber

MANADOPOST.ID – Musim panas tahun lalu, Khalid Payenda adalah orang terpandang di negaranya. Pria 40 tahun itu merupakan menteri keuangan Afghanistan.

Dia mengatur keuangan negara senilai USD 6 miliar atau setara dengan Rp 86,04 triliun. Tapi, kini setiap hari dia hanya memegang uang ratusan dolar.

Payenda tak lagi menjabat menteri. Sebulan sebelum Afghanistan jatuh ke tangan Taliban, dia mengundurkan diri dari jabatannya. Dia tidak cocok dengan Ashraf Ghani, presiden Afghanistan kala itu.

Versi Payenda, terlalu banyak korupsi di tubuh pemerintahan. Dia akhirnya memilih terbang ke Amerika Serikat dan berkumpul dengan keluarganya yang sudah menetap di Negeri Paman Sam. Untuk menghidupi keluarganya, dia bekerja sebagai sopir Uber.

’’Jika saya menyelesaikan 50 perjalanan dalam dua hari ke depan, saya bakal mendapatkan bonus USD 95 (Rp 1,4 juta),’’ ujarnya seperti dikutip Washington Post.

Payenda tinggal di Woodbridge, Virginia. Setiap hari dia menggunakan mobil Honda Accord miliknya untuk bekerja sebagai sopir Uber di Washington D.C.

Payenda tidak merasa malu. Dia justru bersyukur karena masih memiliki kesempatan untuk menghidupi keluarganya dengan menjadi sopir taksi online.

Namun, dia tidak serta-merta menerima keadaan begitu saja. Payenda masih terjebak di antara kehidupan lamanya. Mimpi-mimpinya untuk Afghanistan dan kehidupan barunya di AS. Dia merasa tidak memiliki tempat di keduanya. ’’Saya merasa kosong,’’ terangnya.

Payenda menceritakan bahwa dirinya menjadi menteri keuangan Afghanistan setelah ibunya meninggal akibat Covid-19 pada akhir 2020. Sang ibu dirawat di rumah sakit yang kurang memadai di Kabul. Kini dia menyesal telah menerima jabatan tersebut.

’’Saya melihat banyak keburukan dan kami gagal. Saya adalah bagian dari kegagalan itu. Rasanya sulit ketika Anda melihat kesengsaraan orang-orang dan merasa bertanggung jawab,’’ tegasnya.

Dia meyakini bahwa orang-orang di Afghanistan tidak memiliki keinginan kolektif untuk melakukan reformasi. Selama 20 tahun saat lepas dari Taliban, korupsi masih menjalar.

Payenda juga menyalahkan AS karena mengkhianati komitmennya atas demokrasi dan HAM. Kini Afghanistan menghadapi krisis kemanusiaan dan perekonomian. Asetnya dibekukan dan bantuan kemanusiaan sulit mengalir. (sha/c6/bay/Jawa Pos)

MANADOPOST.ID – Musim panas tahun lalu, Khalid Payenda adalah orang terpandang di negaranya. Pria 40 tahun itu merupakan menteri keuangan Afghanistan.

Dia mengatur keuangan negara senilai USD 6 miliar atau setara dengan Rp 86,04 triliun. Tapi, kini setiap hari dia hanya memegang uang ratusan dolar.

Payenda tak lagi menjabat menteri. Sebulan sebelum Afghanistan jatuh ke tangan Taliban, dia mengundurkan diri dari jabatannya. Dia tidak cocok dengan Ashraf Ghani, presiden Afghanistan kala itu.

Versi Payenda, terlalu banyak korupsi di tubuh pemerintahan. Dia akhirnya memilih terbang ke Amerika Serikat dan berkumpul dengan keluarganya yang sudah menetap di Negeri Paman Sam. Untuk menghidupi keluarganya, dia bekerja sebagai sopir Uber.

’’Jika saya menyelesaikan 50 perjalanan dalam dua hari ke depan, saya bakal mendapatkan bonus USD 95 (Rp 1,4 juta),’’ ujarnya seperti dikutip Washington Post.

Payenda tinggal di Woodbridge, Virginia. Setiap hari dia menggunakan mobil Honda Accord miliknya untuk bekerja sebagai sopir Uber di Washington D.C.

Payenda tidak merasa malu. Dia justru bersyukur karena masih memiliki kesempatan untuk menghidupi keluarganya dengan menjadi sopir taksi online.

Namun, dia tidak serta-merta menerima keadaan begitu saja. Payenda masih terjebak di antara kehidupan lamanya. Mimpi-mimpinya untuk Afghanistan dan kehidupan barunya di AS. Dia merasa tidak memiliki tempat di keduanya. ’’Saya merasa kosong,’’ terangnya.

Payenda menceritakan bahwa dirinya menjadi menteri keuangan Afghanistan setelah ibunya meninggal akibat Covid-19 pada akhir 2020. Sang ibu dirawat di rumah sakit yang kurang memadai di Kabul. Kini dia menyesal telah menerima jabatan tersebut.

’’Saya melihat banyak keburukan dan kami gagal. Saya adalah bagian dari kegagalan itu. Rasanya sulit ketika Anda melihat kesengsaraan orang-orang dan merasa bertanggung jawab,’’ tegasnya.

Dia meyakini bahwa orang-orang di Afghanistan tidak memiliki keinginan kolektif untuk melakukan reformasi. Selama 20 tahun saat lepas dari Taliban, korupsi masih menjalar.

Payenda juga menyalahkan AS karena mengkhianati komitmennya atas demokrasi dan HAM. Kini Afghanistan menghadapi krisis kemanusiaan dan perekonomian. Asetnya dibekukan dan bantuan kemanusiaan sulit mengalir. (sha/c6/bay/Jawa Pos)

Most Read

Artikel Terbaru

/