alexametrics
29.4 C
Manado
Senin, 6 Desember 2021
spot_img

Junta Militer Myanmar Bebaskan Demonstran

MANADOPOST.ID – Suasana di depan penjara Insein, Yangon, Myanmar penuh haru Selasa (19/10). Tangis pecah di mana-mana. Bukan karena sedih, tapi suka cita karena keluarga mereka dibebaskan dari penjara. Jumlahnya mencapai ribuan. Mereka adalah para demonstran yang menentang kudeta militer di Myanmar.

’’Saya sangat rindu padamu. Saya bangga,’’ ujar seorang ibu sembari bercucuran air mata saat melihat putranya bebas.

Pemimpin Junta militer Min Aung Hlaing pada Senin (18/10) menyatakan bakal membebaskan 5.636 tahanan dalam rangka Festival Buddha Thadingyut. Pembebasan bukan hanya di Yangon, tapi juga di Mandalay, Lashio, Meiktila dan Myeik.

Begitu informasi tersebut keluar, keluarga orang-orang yang ditahan langsung menunggu di depan penjara. Beberapa bahkan sejak dini hari. Tahanan keluar dengan dibawa bus. Beberapa dari mereka tetap memberikan isyarat 3 jari yang menjadi simbol perlawanan.

Tidak diungkapkan siapa saja yang bakal dibebaskan dan apakah benar jumlahnya ribuan. Penduduk pun menanti sambil harap-harap cemas. Tak semua beruntung bertemu dengan keluarga tercintanya kembali. Nwet Nwet San salah satunya. Putranya yang merupakan tentara Myanmar ditangkap setelah melarikan diri dari militer. Di awal kudeta, beberapa polisi dan tentara memilih berpihak pada demonstran setelah melihat kekejian junta militer.

’’Dia sudah ditahan selama 8 bulan. Meski sebagian besar yang dibebaskan adalah demonstran, tapi saya dengar yang lain juga dibebaskan. Karena itulah saya menunggu di sini,’’ harap Nwet Nwet San seperti dikutip Agence France-Presse.

Selain demonstran, beberapa tahanan politik juga dibebaskan. Salah satunya adalah juru bicara Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) Monywa Aung Shin pada Democratic Voice of Burma. NLD adalah partai yang digawangi Aung San Suu Kyi. Monywa Aung Shin ditangkap pada 1 Februari lalu, yakni hari pertama kudeta. Dia ditahan bersama tokoh-tokoh pro-demokrasi lainnya.

Sejak kudeta, lebih dari 1.100 penduduk sipil tewas dan lebih dari 8 ribu orang lainnya ditangkap. Para aktivis menilai pembebasan itu adalah cara yang digunakan junta militer guna membangun reputasi internasional. Yang terbaru, Myanmar tidak diundang di KTT ASEAN. Keputusan semacam itu tidak pernah diambil oleh ASEAN sebelumnya.

Utusan Khusus PBB untuk Myanmar Tom Andrews menyambut baik pembebasan tersebut. Namun dia juga mengkritik bahwa sejak awal seharusnya para demonstran itu tidak ditahan. Tindakan junta militer selama ini juga keterlaluan.

’’Junta membebaskan tahanan politik di Myanmar bukan karena berubah pikiran, tapi karena tekanan,’’ tegas Andrews seperti dikutip NBC News. (Jawa Pos)

spot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru