29.4 C
Manado
Senin, 27 Juni 2022

Banner Mobile (Anymind)

Terungkap Fakta Mengejutkan Pelaku Penembakan SD di Texas: Kerap Dirundung, Beli Senjata saat Ultah

- Advertisement -

MANADOPOST.ID– Eva Mireles mungkin tak pernah menyangka Selasa (24/5) bakal menjadi hari terakhirnya mengajar. Dia dan satu guru lainnya, Irma Garcia, menjadi korban tewas penembakan di Robb Elementary School, Uvalde, Texas, Amerika Serikat. Penembakan itu terjadi pukul 11.32 waktu setempat.

Sebanyak 22 orang dipastikan tewas dalam insiden tersebut. Yaitu, 19 siswa kelas 4 serta 2 orang guru dan pelaku yang bernama Salvador Ramos. Belasan siswa lainnya mengalami luka-luka. Hingga kemarin (25/5) baru dua guru dan beberapa siswa yang sudah selesai diidentifikasi lewat tes DNA. Polisi belum merilis nama-nama korban.

’’Pelaku melakukan kejahatan keji ini sendirian,’’ ujar Kepala Polisi Distrik Sekolah Independen Uvalde Pete Arredondo seperti dikutip BBC.

Begitu informasi penembakan itu tersebar, para orang tua berdatangan ke sekolah maupun rumah sakit. Mereka menanti dengan ketidakpastian. Salah satunya Ryan Ramirez, wali murid kelas 4. ’’Saya tidak diberi informasi apa pun (tentang penembakan, Red),’’ ujarnya panik.

- Advertisement -

CNN mengungkapkan bahwa Ramos tinggal bersama neneknya. Pagi itu mereka berdua bertengkar karena Ramos tak lulus sekolah. Remaja 18 tahun tersebut lalu menembak neneknya. Sang nenek dilarikan ke rumah sakit oleh tetangganya dalam kondisi kritis. Sementara itu, Ramos pergi mengendarai mobil dan menabrak area di dekat SD Robb.
Ramos masuk ke SD tersebut dan menembaki siapa saja yang dilihatnya. Dia lalu masuk ke kelas 4 dan mengunci diri di dalamnya serta menembaki guru dan siswa di dalam kelas.

Pada pukul 13.06, polisi berhasil memasuki kelas tempat Ramos mengunci diri dan menembaknya. Remaja yang bersekolah di Uvalde High School tersebut ditembak mati.
Motif tindakan Ramos tidak diketahui. Namun, salah seorang teman Ramos yang tak mau diungkap namanya menyatakan bahwa dia sudah bermasalah sejak kecil. Ibunya diduga pecandu narkoba. Ramos kerap dirundung di sekolahnya karena dianggap gagap, cadel, dan miskin.

Ramos juga jarang masuk sekolah. Dia kerap memakai baju hitam, sepatu bot tentara, dan mulai memanjangkan rambut. Ramos yang bekerja sambilan di Wendy’s dikenal senang bermain game penembakan dan pertempuran Call of Duty.

Pada ulang tahunnya yang ke-18, beberapa hari sebelum penembakan, dia membeli senjata serbu AR-15. Dua senjata itu diunggah di akun Instagram yang diduga milik Ramos. Akun tersebut telah dihapus. Ramos sempat mengirimkan foto senjata itu dan beberapa senjata lainnya di dalam tas ransel kepada sahabatnya. ’’Saya bertanya kenapa dia memilikinya? Tapi, dia hanya berkata jangan khawatir,’’ ujar teman Ramos tersebut.

Presiden AS Joe Biden berduka atas tragedi itu. ’’Sebagai sebuah bangsa, kapan kita akan melawan lobi senjata? Kapan kita akan melakukan semua yang bisa dilakukan?’’ ujar Biden dalam pidatonya. Partai Demokrat selama ini getol mengusung RUU untuk memperketat aturan jual beli senjata. Namun, terganjal proses di Senat. (sha/c6/bay/jawapos)

MANADOPOST.ID– Eva Mireles mungkin tak pernah menyangka Selasa (24/5) bakal menjadi hari terakhirnya mengajar. Dia dan satu guru lainnya, Irma Garcia, menjadi korban tewas penembakan di Robb Elementary School, Uvalde, Texas, Amerika Serikat. Penembakan itu terjadi pukul 11.32 waktu setempat.

Sebanyak 22 orang dipastikan tewas dalam insiden tersebut. Yaitu, 19 siswa kelas 4 serta 2 orang guru dan pelaku yang bernama Salvador Ramos. Belasan siswa lainnya mengalami luka-luka. Hingga kemarin (25/5) baru dua guru dan beberapa siswa yang sudah selesai diidentifikasi lewat tes DNA. Polisi belum merilis nama-nama korban.

’’Pelaku melakukan kejahatan keji ini sendirian,’’ ujar Kepala Polisi Distrik Sekolah Independen Uvalde Pete Arredondo seperti dikutip BBC.

Begitu informasi penembakan itu tersebar, para orang tua berdatangan ke sekolah maupun rumah sakit. Mereka menanti dengan ketidakpastian. Salah satunya Ryan Ramirez, wali murid kelas 4. ’’Saya tidak diberi informasi apa pun (tentang penembakan, Red),’’ ujarnya panik.

CNN mengungkapkan bahwa Ramos tinggal bersama neneknya. Pagi itu mereka berdua bertengkar karena Ramos tak lulus sekolah. Remaja 18 tahun tersebut lalu menembak neneknya. Sang nenek dilarikan ke rumah sakit oleh tetangganya dalam kondisi kritis. Sementara itu, Ramos pergi mengendarai mobil dan menabrak area di dekat SD Robb.
Ramos masuk ke SD tersebut dan menembaki siapa saja yang dilihatnya. Dia lalu masuk ke kelas 4 dan mengunci diri di dalamnya serta menembaki guru dan siswa di dalam kelas.

Pada pukul 13.06, polisi berhasil memasuki kelas tempat Ramos mengunci diri dan menembaknya. Remaja yang bersekolah di Uvalde High School tersebut ditembak mati.
Motif tindakan Ramos tidak diketahui. Namun, salah seorang teman Ramos yang tak mau diungkap namanya menyatakan bahwa dia sudah bermasalah sejak kecil. Ibunya diduga pecandu narkoba. Ramos kerap dirundung di sekolahnya karena dianggap gagap, cadel, dan miskin.

Ramos juga jarang masuk sekolah. Dia kerap memakai baju hitam, sepatu bot tentara, dan mulai memanjangkan rambut. Ramos yang bekerja sambilan di Wendy’s dikenal senang bermain game penembakan dan pertempuran Call of Duty.

Pada ulang tahunnya yang ke-18, beberapa hari sebelum penembakan, dia membeli senjata serbu AR-15. Dua senjata itu diunggah di akun Instagram yang diduga milik Ramos. Akun tersebut telah dihapus. Ramos sempat mengirimkan foto senjata itu dan beberapa senjata lainnya di dalam tas ransel kepada sahabatnya. ’’Saya bertanya kenapa dia memilikinya? Tapi, dia hanya berkata jangan khawatir,’’ ujar teman Ramos tersebut.

Presiden AS Joe Biden berduka atas tragedi itu. ’’Sebagai sebuah bangsa, kapan kita akan melawan lobi senjata? Kapan kita akan melakukan semua yang bisa dilakukan?’’ ujar Biden dalam pidatonya. Partai Demokrat selama ini getol mengusung RUU untuk memperketat aturan jual beli senjata. Namun, terganjal proses di Senat. (sha/c6/bay/jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/