alexametrics
23.4 C
Manado
Kamis, 19 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Presiden Ukraina Tolak Tawaran Evakuasi AS, Tetap Bertahan di Ibu Kota Meski Terkepung Rusia

MANADOPOST.ID–Pasukan militer Rusia terus merangsek masuk dan berusaha merebut kontrol terhadap ibu kota Ukraina, Kiev. Satuan-satuan kecil pasukan Rusia terlihat tiba di pinggiran kota sejak Jumat (25/2).

Mereka datang dari arah timur, timur laut, utara, dan barat. Pasukan Rusia terlibat kontak senjata dengan garnisun tentara Ukraina yang mempertahankan kota kemarin (26/2) pagi. Di sebelah barat laut, kemelut terjadi untuk memperebutkan kontrol terhadap lanud militer Hostomel Airbase. Dentuman artileri terdengar dari beberapa sudut kota.

Sampai kemarin petang atau sekitar pukul 13.00 waktu Kiev, Reuters menyebut bahwa pasukan Rusia sudah berjarak 30 kilometer dari pusat kota Kiev mengutip pernyataan Kementerian Pertahanan Inggris. Pertempuran pecah di beberapa jalan utama dan jembatan di atas Sungai Dnieper yang membelah kota menjadi barat dan timur. Beberapa jembatan dilaporkan dipertahankan mati-matian dan beberapa lainnya dihancurkan untuk menghambat penetrasi Rusia.

Meski kewalahan, Ukraina mengklaim beberapa kali berhasil menghalau serangan Rusia. Sampai berita ini ditulis tadi malam, belum ada kepastian bahwa Rusia berhasil merebut Kiev. Yang jelas, pertempuran sengit telah terjadi di Kiev.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tidak henti menyuarakan perlawanan lewat berbagai kanal komunikasi, baik dari siaran pers langsung maupun dari Twitter. Zelensky mengimbau warga Kiev tetap berada di rumah dan menyiapkan bom molotov.
Dalam pernyataannya yang disebarluaskan pada Jumat malam lalu, dia memprediksi Rusia berusaha merebut Kiev secara cepat dalam semalam. ”Malam ini akan menjadi yang tersulit, tapi kita harus bertahan. Kita tidak boleh kehilangan ibu kota,” katanya.

Militer juga mendistribusikan senapan serbu bagi warga yang berminat turut serta mempertahankan kota.

Presiden 44 tahun tersebut mendapat simpati karena menolak tawaran evakuasi dari Amerika Serikat (AS). Dia menyatakan, yang dibutuhkan saat ini bukanlah tumpangan (untuk kabur), melainkan senjata dan amunisi. Zelensky kekeh tidak akan meletakkan senjata. Dia juga memberikan jaminan bahwa militer Ukraina bakal terus mempertahankan kota.

Zelensky juga menyebut di akun Twitter-nya, bala bantuan berupa senjata dan peralatan akan datang setelah pembicaraan diplomatik dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Zelensky juga menyatakan bakal mendapatkan bantuan dari Swiss dan Yunani.

Sementara itu, Rusia mengklaim berhasil menguasai Kota Melitopol di Ukraina bagian selatan dan Lanud Hostomel. Namun, klaim itu masih diperdebatkan.

Kendati Presiden Rusia Vladimir Putin bertekad meruntuhkan pemerintah Ukraina, kedua belah pihak dilaporkan tengah memperbincangkan perundingan damai. Jubir Kremlin Dmitry Peskov menyampaikan, pihaknya siap mengirim delegasi tingkat tinggi untuk berunding di ibu kota Belarus, Minsk.

Aksi mengecam agresi Rusia juga berlangsung di PBB. Dewan Keamanan (DK) PBB menyusun resolusi untuk menentang invasi Rusia terhadap Ukraina. Saat diadakan voting, Rusia yang menjadi anggota tetap DK PBB menggunakan hak vetonya untuk menolak resolusi tersebut. Tiga negara menyatakan abstain.

Yakni, Tiongkok, Uni Emirat Arab, dan India. Namun, mayoritas menyetujui resolusi yang digagas AS dan Albania tersebut. Di luar anggota DK PBB yang berjumlah 15 negara itu, ada puluhan negara lain yang menyatakan sikap. Mereka sepakat dengan draf resolusi menentang Rusia tersebut.

Hingga kemarin, lebih dari 70 negara mendukung resolusi. Namun, Indonesia tidak terdapat dalam daftar tersebut. Meski demikian, Presiden Joko Widodo menyatakan sikapnya sejak awal agresi. Indonesia, menurut Jokowi, mengecam dan meminta Putin menghentikan serangan terhadap Ukraina.

Pada bagian lain, Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha menuturkan, pemerintah tengah mengupayakan proses evakuasi bagi WNI yang berada di Ukraina ke Polandia dan Rumania. Meski begitu, dia belum bisa memastikan waktu pelaksanaannya. Evakuasi bakal dilakukan sesuai dengan kondisi di lapangan.

”Kami lakukan secepatnya. Kita akan melihat situasi di lapangan. Evakuasi akan dilakukan ketika memang sudah ada jalur aman bagi pergerakan warga negara kita menuju Polandia dan Rumania,” katanya dalam press briefing tadi malam.

Data terkini, total terdapat 153 WNI yang tinggal di negara pecahan Uni Soviet itu. Judha memastikan, seluruhnya aman. Tim KBRI Kiev mengimbau WNI di Ukraina untuk mendekat ke kantor KBRI maupun safe house yang telah disediakan.

Bagi WNI yang kesulitan transportasi, lanjut dia, KBRI membantu untuk melakukan penjemputan. Pemerintah telah menyiapkan pesawat dan tim untuk proses evakuasi. Saat ini penjemputan diupayakan bagi WNI di Odessa, wilayah selatan Ukraina.

”Kami meminta mereka berkumpul di beberapa titik. Begitu pula yang berada di Lviv, kota yang dekat dengan perbatasan dengan Polandia. Tim kita sedang memantau,” jelas Judha.(Jawapos)

MANADOPOST.ID–Pasukan militer Rusia terus merangsek masuk dan berusaha merebut kontrol terhadap ibu kota Ukraina, Kiev. Satuan-satuan kecil pasukan Rusia terlihat tiba di pinggiran kota sejak Jumat (25/2).

Mereka datang dari arah timur, timur laut, utara, dan barat. Pasukan Rusia terlibat kontak senjata dengan garnisun tentara Ukraina yang mempertahankan kota kemarin (26/2) pagi. Di sebelah barat laut, kemelut terjadi untuk memperebutkan kontrol terhadap lanud militer Hostomel Airbase. Dentuman artileri terdengar dari beberapa sudut kota.

Sampai kemarin petang atau sekitar pukul 13.00 waktu Kiev, Reuters menyebut bahwa pasukan Rusia sudah berjarak 30 kilometer dari pusat kota Kiev mengutip pernyataan Kementerian Pertahanan Inggris. Pertempuran pecah di beberapa jalan utama dan jembatan di atas Sungai Dnieper yang membelah kota menjadi barat dan timur. Beberapa jembatan dilaporkan dipertahankan mati-matian dan beberapa lainnya dihancurkan untuk menghambat penetrasi Rusia.

Meski kewalahan, Ukraina mengklaim beberapa kali berhasil menghalau serangan Rusia. Sampai berita ini ditulis tadi malam, belum ada kepastian bahwa Rusia berhasil merebut Kiev. Yang jelas, pertempuran sengit telah terjadi di Kiev.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tidak henti menyuarakan perlawanan lewat berbagai kanal komunikasi, baik dari siaran pers langsung maupun dari Twitter. Zelensky mengimbau warga Kiev tetap berada di rumah dan menyiapkan bom molotov.
Dalam pernyataannya yang disebarluaskan pada Jumat malam lalu, dia memprediksi Rusia berusaha merebut Kiev secara cepat dalam semalam. ”Malam ini akan menjadi yang tersulit, tapi kita harus bertahan. Kita tidak boleh kehilangan ibu kota,” katanya.

Militer juga mendistribusikan senapan serbu bagi warga yang berminat turut serta mempertahankan kota.

Presiden 44 tahun tersebut mendapat simpati karena menolak tawaran evakuasi dari Amerika Serikat (AS). Dia menyatakan, yang dibutuhkan saat ini bukanlah tumpangan (untuk kabur), melainkan senjata dan amunisi. Zelensky kekeh tidak akan meletakkan senjata. Dia juga memberikan jaminan bahwa militer Ukraina bakal terus mempertahankan kota.

Zelensky juga menyebut di akun Twitter-nya, bala bantuan berupa senjata dan peralatan akan datang setelah pembicaraan diplomatik dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Zelensky juga menyatakan bakal mendapatkan bantuan dari Swiss dan Yunani.

Sementara itu, Rusia mengklaim berhasil menguasai Kota Melitopol di Ukraina bagian selatan dan Lanud Hostomel. Namun, klaim itu masih diperdebatkan.

Kendati Presiden Rusia Vladimir Putin bertekad meruntuhkan pemerintah Ukraina, kedua belah pihak dilaporkan tengah memperbincangkan perundingan damai. Jubir Kremlin Dmitry Peskov menyampaikan, pihaknya siap mengirim delegasi tingkat tinggi untuk berunding di ibu kota Belarus, Minsk.

Aksi mengecam agresi Rusia juga berlangsung di PBB. Dewan Keamanan (DK) PBB menyusun resolusi untuk menentang invasi Rusia terhadap Ukraina. Saat diadakan voting, Rusia yang menjadi anggota tetap DK PBB menggunakan hak vetonya untuk menolak resolusi tersebut. Tiga negara menyatakan abstain.

Yakni, Tiongkok, Uni Emirat Arab, dan India. Namun, mayoritas menyetujui resolusi yang digagas AS dan Albania tersebut. Di luar anggota DK PBB yang berjumlah 15 negara itu, ada puluhan negara lain yang menyatakan sikap. Mereka sepakat dengan draf resolusi menentang Rusia tersebut.

Hingga kemarin, lebih dari 70 negara mendukung resolusi. Namun, Indonesia tidak terdapat dalam daftar tersebut. Meski demikian, Presiden Joko Widodo menyatakan sikapnya sejak awal agresi. Indonesia, menurut Jokowi, mengecam dan meminta Putin menghentikan serangan terhadap Ukraina.

Pada bagian lain, Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha menuturkan, pemerintah tengah mengupayakan proses evakuasi bagi WNI yang berada di Ukraina ke Polandia dan Rumania. Meski begitu, dia belum bisa memastikan waktu pelaksanaannya. Evakuasi bakal dilakukan sesuai dengan kondisi di lapangan.

”Kami lakukan secepatnya. Kita akan melihat situasi di lapangan. Evakuasi akan dilakukan ketika memang sudah ada jalur aman bagi pergerakan warga negara kita menuju Polandia dan Rumania,” katanya dalam press briefing tadi malam.

Data terkini, total terdapat 153 WNI yang tinggal di negara pecahan Uni Soviet itu. Judha memastikan, seluruhnya aman. Tim KBRI Kiev mengimbau WNI di Ukraina untuk mendekat ke kantor KBRI maupun safe house yang telah disediakan.

Bagi WNI yang kesulitan transportasi, lanjut dia, KBRI membantu untuk melakukan penjemputan. Pemerintah telah menyiapkan pesawat dan tim untuk proses evakuasi. Saat ini penjemputan diupayakan bagi WNI di Odessa, wilayah selatan Ukraina.

”Kami meminta mereka berkumpul di beberapa titik. Begitu pula yang berada di Lviv, kota yang dekat dengan perbatasan dengan Polandia. Tim kita sedang memantau,” jelas Judha.(Jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/