alexametrics
29.4 C
Manado
Sabtu, 21 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

NATO-Uni Eropa Ditantang China soal Perang Rusia-Ukraina, Harus Kembali Lakukan Strategi Ini

MANADOPOST.ID-China kembali menyatakan sikap terkait konflik Rusia-Ukraina. Negeri Tirai Bambu mendukung inisiatif Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Uni Eropa untuk kembali berdialog tentang keamanan dengan Rusia.

 

Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyatakan hal tersebut pada percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock, Sabtu (26/2).

 

Keduanya membicarakan situasi yang terjadi di Ukraina. Menurut Wang Yi, dukungan Tiongkok tersebut menjadi upaya untuk membangun mekanisme keamanan Eropa yang seimbang, efektif, dan berkelanjutan sehingga bisa tercipta stabilitas dalam jangka panjang di Eropa.

 

Dia juga mengingatkan NATO untuk mempertimbangkan kembali posisi dan tanggung jawabnya dengan meninggalkan mentalitas perang dingin yang lebih mengutamakan konfrontasi blok, padahal itu sudah lama berlalu.

 

“Kami sangat prihatin dengan situasi di Ukraina dan mendorong segala upaya untuk menurunkan eskalasi dan solusi politik yang kondusif,” kata anggota Dewan Pemerintahan Tiongkok setingkat menteri koordinator tersebut.

 

Menurut Wang, tuntutan masalah keamanan yang disampaikan Rusia harus ditindaklanjuti, mengingat NATO terus berupaya melakukan ekspansi ke wilayah timur.

 

Di tengah konflik Rusia-Ukraina, China menyatakan mendukung langkah NATO dan Uni Eropa terkait hal ini.

 

“Oleh sebab itu Tiongkok tidak setuju penanganan masalah melalui sanksi dan sanksi unilateral, itu tidak berdasarkan hukum internasional,” ujarnya mengomentari sanksi dari berbagai negara terhadap Rusia.

 

Dia kembali menegaskan negaranya sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB selalu memenuhi tanggung jawab dalam memelihara perdamaian dan keamanan global.

 

Jika Dewan Keamanan PBB mengambil tindakan, maka dianggapnya akan membantu mengatasi krisis saat ini.

 

“Tiongkok akan terus memainkan peran konstruktif dalam mencari perdamaian dan mewujudkan perdamaian,” ujar diplomat senior di pemerintahan Xi Jinping itu.(Antara/Reuters)

MANADOPOST.ID-China kembali menyatakan sikap terkait konflik Rusia-Ukraina. Negeri Tirai Bambu mendukung inisiatif Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Uni Eropa untuk kembali berdialog tentang keamanan dengan Rusia.

 

Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyatakan hal tersebut pada percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock, Sabtu (26/2).

 

Keduanya membicarakan situasi yang terjadi di Ukraina. Menurut Wang Yi, dukungan Tiongkok tersebut menjadi upaya untuk membangun mekanisme keamanan Eropa yang seimbang, efektif, dan berkelanjutan sehingga bisa tercipta stabilitas dalam jangka panjang di Eropa.

 

Dia juga mengingatkan NATO untuk mempertimbangkan kembali posisi dan tanggung jawabnya dengan meninggalkan mentalitas perang dingin yang lebih mengutamakan konfrontasi blok, padahal itu sudah lama berlalu.

 

“Kami sangat prihatin dengan situasi di Ukraina dan mendorong segala upaya untuk menurunkan eskalasi dan solusi politik yang kondusif,” kata anggota Dewan Pemerintahan Tiongkok setingkat menteri koordinator tersebut.

 

Menurut Wang, tuntutan masalah keamanan yang disampaikan Rusia harus ditindaklanjuti, mengingat NATO terus berupaya melakukan ekspansi ke wilayah timur.

 

Di tengah konflik Rusia-Ukraina, China menyatakan mendukung langkah NATO dan Uni Eropa terkait hal ini.

 

“Oleh sebab itu Tiongkok tidak setuju penanganan masalah melalui sanksi dan sanksi unilateral, itu tidak berdasarkan hukum internasional,” ujarnya mengomentari sanksi dari berbagai negara terhadap Rusia.

 

Dia kembali menegaskan negaranya sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB selalu memenuhi tanggung jawab dalam memelihara perdamaian dan keamanan global.

 

Jika Dewan Keamanan PBB mengambil tindakan, maka dianggapnya akan membantu mengatasi krisis saat ini.

 

“Tiongkok akan terus memainkan peran konstruktif dalam mencari perdamaian dan mewujudkan perdamaian,” ujar diplomat senior di pemerintahan Xi Jinping itu.(Antara/Reuters)

Most Read

Artikel Terbaru

/