30.4 C
Manado
Minggu, 14 Agustus 2022

Kali Pertama Sejak 1918, Rusia Gagal Bayar Utang Luar Negeri

MANADOPOST.ID– Rusia gagal membayar utang luar negerinya. Bukan karena tidak mampu membayar, tapi karena sanksi yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat membuat pembayaran mereka tertahan. Moskow pun membantah bahwa yang terjadi saat ini adalah gagal bayar utang luar negeri alias default.

’’Penyelesaian internasional dan sistem kliring telah menerima dana secara penuh di muka, tetapi pembayaran tidak ditransfer ke penerima akhir karena tindakan pihak ketiga,’’ bunyi pernyataan Kementerian Keuangan Rusia kemarin (27/6) seperti dikutip Agence France-Presse. Kremlin menuding bahwa itu adalah default palsu yang dirancang negara-negara Barat.

Rusia kali terakhir mengalami gagal bayar utang luar negeri pada 1918 ketika terjadi revolusi Bolshevik. Saat itu pemimpin komunis yang baru, Vladimir Lenin, menolak membayar utang kekaisaran Rusia. Pada 1998, Rusia juga gagal memenuhi pembayaran obligasi domestik. Namun, mereka berhasil membayar utang luar negerinya. Itu adalah akhir rezim Boris Yeltsin dan Rusia diguncang krisis dalam negeri.

Rusia berutang sekitar USD 40 miliar (Rp 591,98 triliun) dalam bentuk obligasi asing. Sebelum invasi, Moskow memiliki sekitar USD 640 miliar (Rp 9,4 kuadriliun) dalam mata uang asing dan cadangan emas. Namun, sebagian besar disimpan di luar negeri dan kini telah dibekukan oleh negara-negara Barat.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Dilansir BBC, utang luar negeri yang gagal dibayar Rusia saat ini mencapai USD 100 juta atau setara Rp 1,4 triliun. Pembayaran bunga utang itu jatuh tempo pada 27 Mei dan Moskow sudah membayar ke Euroclear. Itu adalah bank yang akan mendistribusikan pembayaran kepada para investor.

Uang tersebut ternyata tidak sampai ke tangan para investor hingga batas akhir, yaitu 30 hari sejak tanggal jatuh tempo atau pada Minggu (26/6) malam. Karena tidak ada pembayaran, Rusia dianggap default.

Pembayaran yang dilakukan oleh Negeri Beruang Merah itu ternyata tidak diteruskan oleh Euroclear. Perusahaan finansial yang berbasis di Brussels, Belgia, tersebut tidak secara resmi menyatakan bahwa mereka memblokir pembayaran Rusia. Namun, Euroclear menegaskan bahwa mereka mematuhi semua sanksi yang dijatuhkan pascainvasi Rusia ke Ukraina.

Sejatinya, status default itu hanya melukai harga diri Rusia. Selebihnya, ia tidak memiliki dampak signifikan bagi Moskow. Negara-negara yang gagal membayar utang luar negerinya biasanya tidak mungkin meminjam uang lagi. Namun, sanksi yang dijatuhkan negara-negara Barat sejak invasi Februari lalu sudah membuat Rusia tidak bisa meminjam kepada investor.

Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov mengklaim bahwa negaranya memang tidak berencana melakukan pinjaman luar negeri. Sebab, mereka memiliki penghasilan USD 1 miliar (Rp 14,8 triliun) per hari dari ekspor bahan bakar fosil.

CEO Macro Advisory Chris Weafer menegaskan bahwa default memang tidak memiliki efek jangka pendek dan menengah. Namun untuk jangka panjang, itu bisa membuat situasi ekonomi menggantung dan proses pemulihan menjadi lebih sulit.

Di sisi lain, Rusia juga dituding telah mencuri hasil panen biji-bijian milik Ukraina. Selama ini Kiev memang dikenal sebagai penghasil biji-bijian terbesar. Hasil citra satelit menjadi bukti bahwa Moskow mengambil hasil panen di wilayah yang berhasil mereka rebut dan membawanya ke Rusia.

Truk-truk berisi biji-bijian milik para petani itu telah dipasangi GPS. Dari hasil pelacakan, truk tersebut dibawa menuju Oktyabrske, Krimea. Hasil citra satelit juga menunjukkan hal yang sama. Setelah itu, hasil panen tersebut dibawa ke pelabuhan di Kerch ataupun Sevastopol.

Selanjutnya, biji-bijian tersebut dibawa ke kapal menuju Selat Kerch. Di selat itulah proses transfer dilakukan ke kapal yang lebih besar. Biji-bijian milik petani Ukraina dicampur dengan milik Rusia.

’’Pada beberapa kasus, mereka berlayar ke selat tersebut hanya untuk memberi kesan bahwa kapal itu diisi dengan biji-bijian dari Rusia,’’ ujar pakar dari Institute for Black Sea Strategic Studies Andrii Klymenko. (sha/c6/bay/jawapos)

MANADOPOST.ID– Rusia gagal membayar utang luar negerinya. Bukan karena tidak mampu membayar, tapi karena sanksi yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat membuat pembayaran mereka tertahan. Moskow pun membantah bahwa yang terjadi saat ini adalah gagal bayar utang luar negeri alias default.

’’Penyelesaian internasional dan sistem kliring telah menerima dana secara penuh di muka, tetapi pembayaran tidak ditransfer ke penerima akhir karena tindakan pihak ketiga,’’ bunyi pernyataan Kementerian Keuangan Rusia kemarin (27/6) seperti dikutip Agence France-Presse. Kremlin menuding bahwa itu adalah default palsu yang dirancang negara-negara Barat.

Rusia kali terakhir mengalami gagal bayar utang luar negeri pada 1918 ketika terjadi revolusi Bolshevik. Saat itu pemimpin komunis yang baru, Vladimir Lenin, menolak membayar utang kekaisaran Rusia. Pada 1998, Rusia juga gagal memenuhi pembayaran obligasi domestik. Namun, mereka berhasil membayar utang luar negerinya. Itu adalah akhir rezim Boris Yeltsin dan Rusia diguncang krisis dalam negeri.

Rusia berutang sekitar USD 40 miliar (Rp 591,98 triliun) dalam bentuk obligasi asing. Sebelum invasi, Moskow memiliki sekitar USD 640 miliar (Rp 9,4 kuadriliun) dalam mata uang asing dan cadangan emas. Namun, sebagian besar disimpan di luar negeri dan kini telah dibekukan oleh negara-negara Barat.

Dilansir BBC, utang luar negeri yang gagal dibayar Rusia saat ini mencapai USD 100 juta atau setara Rp 1,4 triliun. Pembayaran bunga utang itu jatuh tempo pada 27 Mei dan Moskow sudah membayar ke Euroclear. Itu adalah bank yang akan mendistribusikan pembayaran kepada para investor.

Uang tersebut ternyata tidak sampai ke tangan para investor hingga batas akhir, yaitu 30 hari sejak tanggal jatuh tempo atau pada Minggu (26/6) malam. Karena tidak ada pembayaran, Rusia dianggap default.

Pembayaran yang dilakukan oleh Negeri Beruang Merah itu ternyata tidak diteruskan oleh Euroclear. Perusahaan finansial yang berbasis di Brussels, Belgia, tersebut tidak secara resmi menyatakan bahwa mereka memblokir pembayaran Rusia. Namun, Euroclear menegaskan bahwa mereka mematuhi semua sanksi yang dijatuhkan pascainvasi Rusia ke Ukraina.

Sejatinya, status default itu hanya melukai harga diri Rusia. Selebihnya, ia tidak memiliki dampak signifikan bagi Moskow. Negara-negara yang gagal membayar utang luar negerinya biasanya tidak mungkin meminjam uang lagi. Namun, sanksi yang dijatuhkan negara-negara Barat sejak invasi Februari lalu sudah membuat Rusia tidak bisa meminjam kepada investor.

Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov mengklaim bahwa negaranya memang tidak berencana melakukan pinjaman luar negeri. Sebab, mereka memiliki penghasilan USD 1 miliar (Rp 14,8 triliun) per hari dari ekspor bahan bakar fosil.

CEO Macro Advisory Chris Weafer menegaskan bahwa default memang tidak memiliki efek jangka pendek dan menengah. Namun untuk jangka panjang, itu bisa membuat situasi ekonomi menggantung dan proses pemulihan menjadi lebih sulit.

Di sisi lain, Rusia juga dituding telah mencuri hasil panen biji-bijian milik Ukraina. Selama ini Kiev memang dikenal sebagai penghasil biji-bijian terbesar. Hasil citra satelit menjadi bukti bahwa Moskow mengambil hasil panen di wilayah yang berhasil mereka rebut dan membawanya ke Rusia.

Truk-truk berisi biji-bijian milik para petani itu telah dipasangi GPS. Dari hasil pelacakan, truk tersebut dibawa menuju Oktyabrske, Krimea. Hasil citra satelit juga menunjukkan hal yang sama. Setelah itu, hasil panen tersebut dibawa ke pelabuhan di Kerch ataupun Sevastopol.

Selanjutnya, biji-bijian tersebut dibawa ke kapal menuju Selat Kerch. Di selat itulah proses transfer dilakukan ke kapal yang lebih besar. Biji-bijian milik petani Ukraina dicampur dengan milik Rusia.

’’Pada beberapa kasus, mereka berlayar ke selat tersebut hanya untuk memberi kesan bahwa kapal itu diisi dengan biji-bijian dari Rusia,’’ ujar pakar dari Institute for Black Sea Strategic Studies Andrii Klymenko. (sha/c6/bay/jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/