alexametrics
30.4 C
Manado
Minggu, 29 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Malaysia Cabut Aturan Covid-19, Lebaran Boleh Open House, Tak Lagi Diwajibkan Pakai Masker

MANADOPOST.ID- Pemerintah Malaysia mencabut hampir semua aturan pembatasan pencegahan penularan Covid-19. Ia berlaku per 1 Mei esok atau sehari sebelum lebaran.

Penduduk tak lagi diwajibkan memakai masker di luar ruangan. Tapi di dalam ruangan, seperti pusat perbelanjaan serta transportasi umum, masker tetap wajib dipakai. Masker di dalam ruangan boleh dibuka saat makan, memberi pidato atau tampil dalam suatu acara.

Jaga jarak tak lagi berlaku. Itu artinya tidak ada lagi batasan kapasitas untuk tempat umum seperti restoran, bioskop, café dan lain sebagainya. Khusus kelab malam baru boleh buka pada 15 Mei. Penduduk juga tidak perlu lagi check in di aplikasi My Sejahtera jika ingin memasuki suatu gedung.

Orang yang masuk Malaysia juga tidak perlu lagi tes Covid-19. Baik sebelum berangkat atau saat tiba di negeri jiran tersebut. Itu berlaku untuk mereka yang sudah divaksin lengkap dan anak-anak di bawah usia 12 tahun. Turis asing juga tidak perlu lagi membayar asuransi pengobatan Covid-19. Masa karantina untuk mereka yang positif Covid-19 juga diperpendek. Mereka boleh keluar jika hari keempat sudah negatif, atau jika tidak maka karantina selama 7 hari.

Saat lebaran, tak ada batasan tamu yang boleh berkumpul dalam satu rumah. Artinya acara-acara open house bisa kembali dilakukan. Pemerintah menyarankan agar acara tersebut digelar di luar rumah. Jika di dalam rumah maka tetap harus memakai masker.

’’Ada lebih banyak pelonggaran, tapi jangan berasumsi bahwa tidak ada bahaya di sekitar kita. Covid-19 masih ada dan kita tidak punya pilihan selain hidup berdampingan dengannya. Karenanya kita harus tetap waspada,’’ ujar Perdana Menteri (PM) Malaysia Ismail Sabri Yaakob seperti dikutip Malay Mail kemarin (28/4).

Ismail tetap menyarankan agar penduduk memakai masker di luar ruangan jika lokasinya padat orang. Misalnya di area pemakaman. Seperti di Indonesia, penduduk Malaysia berbondong-bondong mengunjungi makam para mendiang keluarga.

Sejak awal pandemi, ada lebih dari 4,4 juta kasus Covid-19 di Malaysia dan sekitar 35.500 kematian. Mereka bisa percaya diri hidup berdampingan dengan virus SARS-CoV-2 karena angka vaksinasi penduduk yang tinggi. Sebanyak 97,6 persen penduduk sudah divaksin. Dari jumlah tersebut sekitar 81,5 persen sudah menerima setidaknya 2 dosis. Penduduk yang mendapatkan booster mencapai 68,1 persen.

Berbeda dengan Malaysia yang sudah hidup mendekati normal, Tiongkok justru sebaliknya. Mereka tetap memegang teguh prinsip nol kasus Covid-19. Sejak gelombang penularan baru tahun ini, setidaknya 27 kota di 14 provinsi yang diperintahkan lockdown.

Rabu (27/4) malam, pemerintah Hangzhou mengumumkan bakal mendirikan sekitar 10 ribu tempat tes Covid-19. Tes gratis itu dilakukan pada sebagian besar penduduk yang berada di pusat kota setiap 48 jam. ’’Tujuannya adalah agar virus tidak memiliki tempat untuk bersembunyi atau menetap,’’ bunyi pernyataan pemerintah Hangzhou.

Kabar ini membuat sebagian pihak ketir-ketir. Kota berpenduduk 12 juta jiwa tersebut adalah basis dari beberapa perusahaan. Misalnya saja Alibaba, pembuat game NetEase, Zhejiang Geely Holding Group, serta Hangzhou Hikvision Digital Technology.

Dilansir Agence France-Presse, kemarin giliran Guangzhou yang menjadi “korban”. Ratusan penerbangan ke kota berpenduduk 19 juta jiwa itu dibatalkan. Itu terjadi setelah mereka mendeteksi hasil tes abnormal di bandara. Langkah yang diambil pemerintah tersebut diyakini bakal membuat para pelancong sakit kepala.

Banyak libur nasional di awal Mei. Mulai hari buruh hingga festival Qingming. Banyak pihak meyakini bahwa libur nasional tersebut bakal membuat penularan kembali merebak. Artinya, lockdown juga bakal diperbanyak. (sha/bay/jawapos)

MANADOPOST.ID- Pemerintah Malaysia mencabut hampir semua aturan pembatasan pencegahan penularan Covid-19. Ia berlaku per 1 Mei esok atau sehari sebelum lebaran.

Penduduk tak lagi diwajibkan memakai masker di luar ruangan. Tapi di dalam ruangan, seperti pusat perbelanjaan serta transportasi umum, masker tetap wajib dipakai. Masker di dalam ruangan boleh dibuka saat makan, memberi pidato atau tampil dalam suatu acara.

Jaga jarak tak lagi berlaku. Itu artinya tidak ada lagi batasan kapasitas untuk tempat umum seperti restoran, bioskop, café dan lain sebagainya. Khusus kelab malam baru boleh buka pada 15 Mei. Penduduk juga tidak perlu lagi check in di aplikasi My Sejahtera jika ingin memasuki suatu gedung.

Orang yang masuk Malaysia juga tidak perlu lagi tes Covid-19. Baik sebelum berangkat atau saat tiba di negeri jiran tersebut. Itu berlaku untuk mereka yang sudah divaksin lengkap dan anak-anak di bawah usia 12 tahun. Turis asing juga tidak perlu lagi membayar asuransi pengobatan Covid-19. Masa karantina untuk mereka yang positif Covid-19 juga diperpendek. Mereka boleh keluar jika hari keempat sudah negatif, atau jika tidak maka karantina selama 7 hari.

Saat lebaran, tak ada batasan tamu yang boleh berkumpul dalam satu rumah. Artinya acara-acara open house bisa kembali dilakukan. Pemerintah menyarankan agar acara tersebut digelar di luar rumah. Jika di dalam rumah maka tetap harus memakai masker.

’’Ada lebih banyak pelonggaran, tapi jangan berasumsi bahwa tidak ada bahaya di sekitar kita. Covid-19 masih ada dan kita tidak punya pilihan selain hidup berdampingan dengannya. Karenanya kita harus tetap waspada,’’ ujar Perdana Menteri (PM) Malaysia Ismail Sabri Yaakob seperti dikutip Malay Mail kemarin (28/4).

Ismail tetap menyarankan agar penduduk memakai masker di luar ruangan jika lokasinya padat orang. Misalnya di area pemakaman. Seperti di Indonesia, penduduk Malaysia berbondong-bondong mengunjungi makam para mendiang keluarga.

Sejak awal pandemi, ada lebih dari 4,4 juta kasus Covid-19 di Malaysia dan sekitar 35.500 kematian. Mereka bisa percaya diri hidup berdampingan dengan virus SARS-CoV-2 karena angka vaksinasi penduduk yang tinggi. Sebanyak 97,6 persen penduduk sudah divaksin. Dari jumlah tersebut sekitar 81,5 persen sudah menerima setidaknya 2 dosis. Penduduk yang mendapatkan booster mencapai 68,1 persen.

Berbeda dengan Malaysia yang sudah hidup mendekati normal, Tiongkok justru sebaliknya. Mereka tetap memegang teguh prinsip nol kasus Covid-19. Sejak gelombang penularan baru tahun ini, setidaknya 27 kota di 14 provinsi yang diperintahkan lockdown.

Rabu (27/4) malam, pemerintah Hangzhou mengumumkan bakal mendirikan sekitar 10 ribu tempat tes Covid-19. Tes gratis itu dilakukan pada sebagian besar penduduk yang berada di pusat kota setiap 48 jam. ’’Tujuannya adalah agar virus tidak memiliki tempat untuk bersembunyi atau menetap,’’ bunyi pernyataan pemerintah Hangzhou.

Kabar ini membuat sebagian pihak ketir-ketir. Kota berpenduduk 12 juta jiwa tersebut adalah basis dari beberapa perusahaan. Misalnya saja Alibaba, pembuat game NetEase, Zhejiang Geely Holding Group, serta Hangzhou Hikvision Digital Technology.

Dilansir Agence France-Presse, kemarin giliran Guangzhou yang menjadi “korban”. Ratusan penerbangan ke kota berpenduduk 19 juta jiwa itu dibatalkan. Itu terjadi setelah mereka mendeteksi hasil tes abnormal di bandara. Langkah yang diambil pemerintah tersebut diyakini bakal membuat para pelancong sakit kepala.

Banyak libur nasional di awal Mei. Mulai hari buruh hingga festival Qingming. Banyak pihak meyakini bahwa libur nasional tersebut bakal membuat penularan kembali merebak. Artinya, lockdown juga bakal diperbanyak. (sha/bay/jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/