25.4 C
Manado
Sabtu, 31 Juli 2021

Oxford Campur AstraZeneca dan Pfizer-BioNTech, Kekebalan Meningkat

MANADOPOST.ID– Tidak perlu takut jika vaksin pertama dan kedua berbeda. Sebab, berdasar penelitian Oxford University, itu justru membuat daya perlindungannya lebih kuat jika dibandingkan dengan pemberian vaksin jenis yang sama. Tapi, ada kombinasinya. Yaitu, yang diproduksi AstraZeneca dan Pfizer-BioNTech.

Penelitian yang diberi nama Com-Cov tersebut mengamati tiga kelompok. Yaitu, kelompok yang diberi dua dosis AstraZeneca, kelompok yang diberi dua dosis Pfizer-BioNTech, serta kelompok yang diberi AstraZeneca di dosis pertama dan diberi Pfizer-BioNTech pada dosis kedua. Antara dosis pertama dan kedua, rentang waktunya 4 pekan.

’’Ini tentu menggembirakan bahwa antibodi dan respons sel T ini terlihat bagus dengan campuran vaksin tersebut,’’ ujar Profesor Matthew Snape dari Oxford seperti dikutip BBC.

Itu menjadi kabar baik bagi beberapa negara Eropa yang menawarkan vaksin selain AstraZeneca kepada penduduknya. Ada peluang kecil AstraZeneca bisa menyebabkan pembekuan darah. Karena itu, mereka yang sudah mendapatkan dosis pertama dan ketakutan divaksin AstraZeneca lagi bisa ditawarkan merek vaksin lain. Spanyol dan Jerman, misalnya, menawarkan Pfizer atau Moderna untuk dosis kedua.

Hasil penelitian tersebut membuat program vaksinasi lebih fleksibel. Meski begitu, Snape tetap menyarankan agar proses vaksinasi sesuai rencana semula. Yaitu, dengan dosis dari jenis yang sama.

Mereka yang sudah divaksin lengkap dengan AstraZeneca juga bisa memiliki imunitas lebih kuat jika diberi suntikan booster vaksin jenis lain 6 bulan kemudian. Tapi, tentu dengan syarat, jika persediaan vaksin di negara yang bersangkutan sudah berlebih. Sebab, dengan booster artinya satu orang mendapatkan tiga dosis.

Wakil Ketua Staf Medis Inggris Profesor Jonathan Van-Tam menegaskan, tidak ada alasan untuk mengubah pemberian jenis vaksin merek sama seperti yang dilakukan Inggris saat ini. Sebab, teknik itu terbukti juga berhasil. Meski begitu, tidak tertutup kemungkinan mereka akan melakukan pencampuran vaksin di masa depan.

Di lain pihak, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan khawatir dengan persebaran virus SARS CoV-2 varian Delta. Varian tersebut jauh lebih menular dibanding yang lain. Varian Delta memang membuat banyak negara harus mengubah rencananya. Kenormalan baru yang sudah diberlakukan terpaksa harus kembali ditunda. Australia salah satunya. Penularan terus menyebar hingga membuat jumlah kota besar yang lockdown terus bertambah.

Setelah Sydney dan Darwin, kemarin (29/6) giliran Perth dan Brisbane yang mengambil kebijakan serupa. Itu berarti sekitar 12 juta penduduk dikuntara. Jumlah tersebut setara dengan hampir separo populasi di negara tersebut. Perth lockdown selama 4 hari, sedangkan Brisbane hanya 3 hari. ’’Lockdown berlaku selama 3 hari dan saya tidak ingin itu menjadi 30 hari,’’ ujar Perdana Menteri Queensland Annastacia Palaszczuk mengungkapkan harapannya.

Australia telah berhasil mengendalikan klaster penularan virus melalui pelacakan dan karantina yang efektif. Namun, program vaksinasi di negara tersebut berjalan lambat. Penduduk yang sudah divaksin penuh kurang dari 5 persen. Begitu varian Delta tiba, mereka kurang siap. Perdana Menteri Australia Scott Morrison kini mewajibkan vaksin bagi mereka yang bekerja di panti jompo dan hotel untuk karantina. (jawapos)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru