MANADOPOST.ID--Pengurus Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sulawesi Utara dan Panitia North Sulawesi Architecture Festival 2026 (NS-ARCHIFEST 2026) resmi menggelar rapat perdana pada 21 Februari 2026 bertempat di Gedung Graha Pena sebagai langkah awal persiapan menuju pelaksanaan kegiatan pada Juni 2026 di Atrium Manado Town Square III.
Dalam rapat perdana tersebut, turut dilakukan penyerahan Surat Keputusan Kepanitiaan oleh Pengurus Provinsi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sulawesi Utara kepada Ketua dan jajaran panitia sebagai bentuk legitimasi dan penguatan mandat organisasi dalam menjalankan agenda festival.
Ketua IAI Provinsi Sulawesi Utara, Ar. Salem Suak, ST., IAI, menegaskan bahwa NS-ARCHIFEST 2026 bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang konsolidasi profesi yang selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2017 tentang Arsitek.
Menurutnya, regulasi tersebut menegaskan kewajiban registrasi, standar kompetensi, serta tanggung jawab hukum dan etika arsitek dalam praktik profesional.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan arsitek di Sulawesi Utara semakin profesional, taat regulasi, dan berperan aktif dalam pembangunan daerah yang berkelanjutan serta berakar pada karakter lokal,” ujarnya.
Ketua Panitia NS-ARCHIFEST 2026, Ir. Ar. Alvin Tinangon, ST., MT., IPU., IAI, memaparkan empat pilar utama kegiatan yang akan menjadi kerangka besar festival:
- ARCHIEXPO, sebagai ruang pameran karya arsitek Sulawesi utara dan mahasiswa arsitektur, serta promosi inovasi material, produk, dan teknologi konstruksi dari lebih 30 exhibitor.
- ARCHITALK, seminar nasional dan forum dialog kebijakan menghadirkan arsitek, perwakilan kementerian teknis, dan pemerintah daerah. Forum ini akan membahas pembangunan berkelanjutan, tata kota, serta penerapan prinsip Bangunan Gedung Hijau untuk mendukung target eNDC 2030 dan NZE 2060.
- ARCHIWORKS, klinik arsitektur gratis bagi masyarakat, serta lomba sketsa dan fotografi yang difokuskan pada bangunan-bangunan heritage atau iconic di Sulawesi Utara.
- ARCHIGEN, memadukan arsitektur dengan seni budaya lokal sebagai refleksi identitas daerah dan penguatan karakter ruang.
“Empat pilar ini dirancang saling terintegrasi agar kegiatan ini memberi dampak luas bagi profesi, masyarakat, dan pengembangan budaya lokal,” jelas Alvin.
NS-ARCHIFEST 2026 juga menegaskan komposisi panitia yang beragam, terdiri dari arsitek profesional, akademisi dari perguruan tinggi arsitektur, serta Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berlatar belakang arsitek.
Struktur ini dipilih untuk memastikan perspektif profesional, akademik, dan administratif saling melengkapi dalam menyelenggarakan festival.
Sekretaris IAI Sulawesi Utara, Ar. Rendy Tambengi, ST., IAI, menyampaikan target partisipasi NS-ARCHIFEST 2026 meliputi lebih dari 200 arsitek profesional, sekitar 300 anggota IAI, ratusan lulusan arsitektur, lima institusi pendidikan arsitektur di Sulawesi Utara, perwakilan Kementerian teknis terkait (PU/PKP), 15 pemerintah kabupaten/kota se-Sulut, serta lebih dari 30 exhibitor, dan seluruh Masyarakat Sulawesi Utara yang ini berkunjung.
Dengan dimulainya tahapan resmi melalui rapat perdana, penyerahan SK kepanitiaan, dan komposisi panitia yang representatif, NS-ARCHIFEST 2026 diharapkan menjadi momentum strategis penguatan jejaring profesi, pengabdian masyarakat, serta kebangkitan arsitektur Sulawesi Utara di tingkat nasional.
Editor : Clavel Lukas