23.4 C
Manado
Sabtu, 20 Agustus 2022

Terkait Pembukaan Rumah Ibadah, Ini Penegasan Wali Kota

MANADOPOST.ID–Kasus Coronavirus Disease (Covid-19) di Kota Manado terus mengalami peningkatan. Karena itu, Pemkot Manado belum mengizinkan rumah ibadah buka. Hal ini ditegaskan Wali Kota Manado GS Vicky Lumentut (GSVL).

Menurut wali kota, karena sejak Senin lalu Kota Manado bersama Tomohon dan Kabupaten Minahasa masuk dalam kategori zona merah kasus Covid-19.

Namun GSVL mengembalikan keputusan tersebut bagi pemimpin rumah ibadah, apabila mereka merasa siap untuk melakukan aktivitas sesuai dengan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

“Kita tidak akan memberikan izin, tetapi silahkan di cek sendiri kesiapan rumah ibadah untuk dibuka, apakah sesuai dengan protap. Kalau pemimpin di rumah ibadat merasa siap silahkan dibuka.Tidak ada yang bilang saya kasih izin  saya minta kesiapan mereka yang menyatakan siap. Namun bila ditemukan ada case akan ditutup sampai sementara waktu sampai betul clear,” tegas wali kota.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Keputusan wali kota merujuk pada Surat Edaran Menteri Agama Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah Dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman Covid di masa pandemi.

“Nantinya mereka yang meminta dan memberikan surat pernyataan bahwa rumah ibadah kami sudah siap dengan segala protokol kesehatan yang diarahkan oleh pemerintah.Tolong para rohaniawan jaga kota kita jangan sampai lock down,” pintanya.

Kasubag Umum dan Humas Kantor Kemenag Sulut Hartono Bawenti mengatakan, ketentuan pembukaan tempat ibadah berdasarkan SE Menteri Agama No 15 Tahun 2020 yaitu, rumah ibadah yang dibenarkan untuk menyelenggarakan kegiatan berjamaah/kolektif adalah yang berdasarkan fakta lapangan serta angka R-Naught/RO dan angka Effectiue Reproduction Number/Rt, berada di kawasan/llngkungan yang aman dari Covid- 19.

“Hal itu ditunjukkan dengan Surat Keterangan Rumah Ibadah Aman Covid dari Ketua Gugus Tugas Provinsi/ Kabupaten/ Kota/ Kecamatan sesuai tingkatan rumah ibadah dimaksud,” ujarnya.

Lanjutnya,  pengurus rumah ibadah mengajukan permohonan surat keterangan bahwa kawasan/ lingkungan rumah ibadahnya aman dari Covid-19 secara berjenjang kepada Ketua Gugus Kecamatan/ Kabupaten/Kota/Provinsi sesuai tingkatan rumah ibadahnya.

“Rumah ibadah yang berkapasitas daya tampung besar dan mayoritas jemaah atau penggunanya dari luar kawasan/lingkungannya, dapat mengajukan surat keterangann aman Covid-19 langsung kepada pimpinan daerah sesuai tingkatan rumah ibadah tersebut,” ujarnya.

Selain itu katanya, kewajiban pengurus atau penanggung jawab rumah ibadah yaitu menyiapkan petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area rumah ibadah, melakukan pembersihan dan desinfeksi secara berkala di area rumah ibadah,  membatasi jumlah pintu/jalur keluar masuk rumah ibadah guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan.

“Menyediakan fasilitas cuci tangan, sabun dan sanitizer di pintu masuk dan pintu keluar rumah ibadah, menyediakan alat pengecekan suhu di pintu masuk bagi seluruh pengguna rumah ibadah. Jika ditemukan pengguna rumah ibadah dengan suhu > 37,5’C (2 kali pemeriksaan dengan jarak 5 menit), tidak diperkenankan memasuki area rumah ibadah,” ujarnya.

Kemudian, menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus di lantai/kursi, minimal jarak l meter, melakukan pengaturan jumlah jemaah/pengguna rumah ibadah yang berkumpul dalam waktu bersamaan, untuk memudahkan pembatasan jaga jarak, mempersingkat waktu pelaksanaan ibadah tanpa mengurangi ketentuan kesempurnaan beribadah, memasang imbauan penerapan protokol kesehatan di area rumah ibadah pada tempat-tempat yang mudah terlihat.

“Membuat surat pernyataan kesiapan menerapkan protokol kesehatan yang telah ditentukan dan memberlakukan penerapan protokol kesehatan secara khusus bagi jemaah tamu yang datang dari luar lingkungan rumah ibadah,”pungkasnya. (ite)

MANADOPOST.ID–Kasus Coronavirus Disease (Covid-19) di Kota Manado terus mengalami peningkatan. Karena itu, Pemkot Manado belum mengizinkan rumah ibadah buka. Hal ini ditegaskan Wali Kota Manado GS Vicky Lumentut (GSVL).

Menurut wali kota, karena sejak Senin lalu Kota Manado bersama Tomohon dan Kabupaten Minahasa masuk dalam kategori zona merah kasus Covid-19.

Namun GSVL mengembalikan keputusan tersebut bagi pemimpin rumah ibadah, apabila mereka merasa siap untuk melakukan aktivitas sesuai dengan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

“Kita tidak akan memberikan izin, tetapi silahkan di cek sendiri kesiapan rumah ibadah untuk dibuka, apakah sesuai dengan protap. Kalau pemimpin di rumah ibadat merasa siap silahkan dibuka.Tidak ada yang bilang saya kasih izin  saya minta kesiapan mereka yang menyatakan siap. Namun bila ditemukan ada case akan ditutup sampai sementara waktu sampai betul clear,” tegas wali kota.

Keputusan wali kota merujuk pada Surat Edaran Menteri Agama Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah Dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman Covid di masa pandemi.

“Nantinya mereka yang meminta dan memberikan surat pernyataan bahwa rumah ibadah kami sudah siap dengan segala protokol kesehatan yang diarahkan oleh pemerintah.Tolong para rohaniawan jaga kota kita jangan sampai lock down,” pintanya.

Kasubag Umum dan Humas Kantor Kemenag Sulut Hartono Bawenti mengatakan, ketentuan pembukaan tempat ibadah berdasarkan SE Menteri Agama No 15 Tahun 2020 yaitu, rumah ibadah yang dibenarkan untuk menyelenggarakan kegiatan berjamaah/kolektif adalah yang berdasarkan fakta lapangan serta angka R-Naught/RO dan angka Effectiue Reproduction Number/Rt, berada di kawasan/llngkungan yang aman dari Covid- 19.

“Hal itu ditunjukkan dengan Surat Keterangan Rumah Ibadah Aman Covid dari Ketua Gugus Tugas Provinsi/ Kabupaten/ Kota/ Kecamatan sesuai tingkatan rumah ibadah dimaksud,” ujarnya.

Lanjutnya,  pengurus rumah ibadah mengajukan permohonan surat keterangan bahwa kawasan/ lingkungan rumah ibadahnya aman dari Covid-19 secara berjenjang kepada Ketua Gugus Kecamatan/ Kabupaten/Kota/Provinsi sesuai tingkatan rumah ibadahnya.

“Rumah ibadah yang berkapasitas daya tampung besar dan mayoritas jemaah atau penggunanya dari luar kawasan/lingkungannya, dapat mengajukan surat keterangann aman Covid-19 langsung kepada pimpinan daerah sesuai tingkatan rumah ibadah tersebut,” ujarnya.

Selain itu katanya, kewajiban pengurus atau penanggung jawab rumah ibadah yaitu menyiapkan petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area rumah ibadah, melakukan pembersihan dan desinfeksi secara berkala di area rumah ibadah,  membatasi jumlah pintu/jalur keluar masuk rumah ibadah guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan.

“Menyediakan fasilitas cuci tangan, sabun dan sanitizer di pintu masuk dan pintu keluar rumah ibadah, menyediakan alat pengecekan suhu di pintu masuk bagi seluruh pengguna rumah ibadah. Jika ditemukan pengguna rumah ibadah dengan suhu > 37,5’C (2 kali pemeriksaan dengan jarak 5 menit), tidak diperkenankan memasuki area rumah ibadah,” ujarnya.

Kemudian, menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus di lantai/kursi, minimal jarak l meter, melakukan pengaturan jumlah jemaah/pengguna rumah ibadah yang berkumpul dalam waktu bersamaan, untuk memudahkan pembatasan jaga jarak, mempersingkat waktu pelaksanaan ibadah tanpa mengurangi ketentuan kesempurnaan beribadah, memasang imbauan penerapan protokol kesehatan di area rumah ibadah pada tempat-tempat yang mudah terlihat.

“Membuat surat pernyataan kesiapan menerapkan protokol kesehatan yang telah ditentukan dan memberlakukan penerapan protokol kesehatan secara khusus bagi jemaah tamu yang datang dari luar lingkungan rumah ibadah,”pungkasnya. (ite)

Most Read

Artikel Terbaru

/