27 C
Manado
Jumat, 27 November 2020

Cerita Setiadi Angga tentang Usaha Green Gatiya

Belajar Sabar karena Tanaman

TINGGAL di perkotaan, lahan yang sempit kerap jadi tantangan bagi mereka yang hobi bercocok tanam. Namun, kalau pintar-pintar mengakali, semua bisa teratasi. Usaha Green Gatiya milik Setiadi Angga bisa menjadi contoh. Luas kebun yang dipakai hanya sekira dua kali langkah kaki. Namun, tanamannya bisa tetap subur. Bahkan melimpah.

“Skill menanam bisa dibilang turunan dari opa. Karena opa suka sekali dengan tanaman,” jawabnya. Setiadi bukan asli Manado. Cowok kelahiran Jogjakarta itu pindah ke bumi Nyiur Melambai tahun 2016. Meski demikian, jiwa menanamnya tak luntur. Sampai akhirnya ia membangun usaha yang dikenal saat ini bernama Green Gatiya. “Tapi bukan cuma saya yang harus adaptasi. Tanaman juga. Karena ada beberapa tanaman yang berasal daerah dingin harus menyesuaikan dengan cuaca Manado yang panas. Tanaman bisa stress kalau seperti itu. Dan tidak jarang bisa mati,” jelas cowok yang hobi hiking ini.

Menurut Setiadi, sebenarnya tidak ada paten baku dalam merawat tanaman. Kondisi sekitar ikut berpengaruh. Cocok di sini belum tentu cocok di sana. Intinya pemberian pupuk harus dilakukan dua minggu sekali. “Lalu penyiraman saat media tanam kering. Tanaman dijemur seminggu sekali apabila tanamannya diletakkan di dalam ruangan. Dan media tanam diganti setiap 6 sampai 12 bulan untuk melihat kondisi tanamannya,” beber pria kelahiran Jogjakarta 18 September 1985 ini.

Setiadi juga menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang kadang orang salah paham tentang merawat tanaman. Misalnya penyiraman. Ada yang suka menyiram tanaman setiap hari. Bahkan sehari 2 kali. Seharusnya, penyiraman dilakukan saat media tanam sudah kering. Kenapa? “Soalnya jika dilakukan setiap hari dapat membuat pembusukan pada daun atau batang bahkan akar pada tanaman. Kan tanaman sudah jadi terlalu basah. Apalagi untuk tanaman jenis aroid (monstera, philodendron, aglonema, anthurium) yang sensitif dengan kelembaban,” ungkapnya.

Dari berbagai aneka tanaman yang ada di kebun mininya, Monstera Deliciosa Variegata dianggap sebagai salah satu yang sedikit susah untuk dirawat. “Salah kondisi sedikit, misalnya kelembaban, pencahayaan atau suhu, bikin tanaman ini gampang stress. Sehingga lama sekali tumbuh daun baru. Kalau daunnya banyak berwarna putih mudah sekali gosong,” jawab Setiadi.

Kecintaannya di dunia menanam memang tidak sia-sia. Beberapa tanaman yang awalnya untuk dikoleksi mulai dilirik orang lain. Bahkan ada pemesan dari luar negeri. Selain menambah pundi-pundi, ada hal lain yang bisa ia ‘petik’ setelah menanam. “Saya belajar jadi lebih sabar. Menunggu tanaman keluar daun baru itu benar menguji kesabaran. Apalagi jika saat tanaman stress, gimana caranya kita mengembalikan kondisi kesehatan tanaman,” paparnya.

Selain itu, manfaat lain yang bisa ia rasakah adalah ruangan jadi lebih hidup dan segar, udara di sekitar rumah menjadi lebih bersih. “Semenjak merawat tanaman jadi jarang sakit,” kuncinya. (*)

-

Artikel Terbaru

Terbaik Kedua, Rotty Raih Penghargaan PKN Tingkat II

MANADOPOST.ID– Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XVI tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN)

Gran Puri Siapkan Pesta Pergantian Tahun Berkesan

PENAWARAN spesial di malam tahun baru. Hotel Gran Puri Manado mempersembahkan Aloha Pool and Grill Party 2021.

538 Wasit Pemilu Dirapid test

MANADOPOST.ID—Menjamin kesehatan penyelenggara, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) gelar rapid tes massal. Bagi seluruh jajaran pengawas pemilihan di setiap tingkatan, Kamis (26/11) kemarin.

Distanak Kena Sorot, Pupuk di Minsel Langka

MANADOPOST.ID—Bulan November 2020 ini musim tanam bagi petani. Tapi saat ini kelangkaan pupuk terjadi. Membuat petani kesulitan mencari pupuk.

KPU Minsel Beber 15 Hal Baru di Pilkada

MANADOPOST.ID—Perhelatan pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) tak lama lagi selesai. Masyarakat pada 9 Desember nanti bakal