27.4 C
Manado
Kamis, 11 Agustus 2022

Kawanua Creative Geber Event Muda Berkarya

KAWANUA Creative punya cara khusus merayakan Sumpah Pemuda tahun ini. Yakni dengan menggelar pameran lukisan. Ada goal khusus di balik event tersebut. Harapannya, agar dunia seni di bumi Nyiur Melambai terus bernyawa.

Perempuan berambut panjang dengan tatapan kosong. Di sekelilingnya, penuh coretan abstrak warna-warni. Itulah terlihat dari lukisan berjudul The Unseen Storm. Lukisan karya Ifli Hamzah itu terpajang dalam event bertajuk Muda Berkarya.

“Lukisan saya ini ceritanya tentang kejadian-kejadian yang menimpa perempuan. Seperti bullying dan kekerasan seksual. Maka potretnya ada sketsa perempuan di bagian tengah. Ukurannya dibuat besar,” tuturnya saat diwawancarai di Nuseum of Tanta Mien.

Ia membuat karya tersebut setelah menonton serial hit Netflix, Sex Education. Dalam salah satu episodenya, ada beberapa gadis yang ditahan. Saat terkumpul mereka menjelaskan apa yang menyatukan mereka semua sebagai seorang perempuan. Yang saat itu adalah mereka semua telah diteror oleh laki-laki pada satu titik dalam hidup mereka.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Hal ini menimbulkan serangkaian pemikiran bagi saya tentang perempuan. Terutama tentang pelecehan seksual, rasisme terhadap perempuan, dan hal-hal buruk lainnya yang menimpa perempuan. Juga penyakit mental yang ditimbulkan dari mereka,” ujarnya.

Karya di atas kertas kanvas berukuran 8,3 x 11,7 inci itu benar-benar dalam maknanya. Ifli berharap, lukisannya dapat mengingatkan semua betapa pentingnya membangun lingkungan dimana perempuan bisa merasa lebih aman. Selain dari film, kebanyakan sumber inprasi Ifli saat melukis adalah pengalaman pribadi. “Untuk melukis abstrak baru mulai jalan tahun 2020 ini,” imbuhnya.

Sebagai Event Director Kawanua Creative, event ini menjadi wadah bagi dirinya dan para pelukis lain dalam mengekspresikan diri. Apalagi karena pandemi COVID-19, para pelaku seni banyak ikut terdampak. “Acara mereka ada yang di-cancel. Pemasukannya jadi menipis,” ungkapnya.
Namun, pengalaman berbeda datang dari Renaldy Tangka dan Rivaldo Bryant. Kedua pelukis digital yang juga ikut dalam event Muda Berkarya itu malah dapat banyak job. “Mungkin karena karya kita kan digital. Jadi order-an terus datang,” kata Renaldy yang kemudian diamini Rivaldo.

Event Muda Berkarya ini digelar dua hari, yakni 28 Oktober dan 1 November. Tak hanya pameran lukisan, ada juga pameran foto, penampilan musisi lokal dan baca puisi. “Terima kasih atas semua yang sudah support. Tunggu event Kawanua Creative selanjutnya,” tukas Ifli.(*)

KAWANUA Creative punya cara khusus merayakan Sumpah Pemuda tahun ini. Yakni dengan menggelar pameran lukisan. Ada goal khusus di balik event tersebut. Harapannya, agar dunia seni di bumi Nyiur Melambai terus bernyawa.

Perempuan berambut panjang dengan tatapan kosong. Di sekelilingnya, penuh coretan abstrak warna-warni. Itulah terlihat dari lukisan berjudul The Unseen Storm. Lukisan karya Ifli Hamzah itu terpajang dalam event bertajuk Muda Berkarya.

“Lukisan saya ini ceritanya tentang kejadian-kejadian yang menimpa perempuan. Seperti bullying dan kekerasan seksual. Maka potretnya ada sketsa perempuan di bagian tengah. Ukurannya dibuat besar,” tuturnya saat diwawancarai di Nuseum of Tanta Mien.

Ia membuat karya tersebut setelah menonton serial hit Netflix, Sex Education. Dalam salah satu episodenya, ada beberapa gadis yang ditahan. Saat terkumpul mereka menjelaskan apa yang menyatukan mereka semua sebagai seorang perempuan. Yang saat itu adalah mereka semua telah diteror oleh laki-laki pada satu titik dalam hidup mereka.

Hal ini menimbulkan serangkaian pemikiran bagi saya tentang perempuan. Terutama tentang pelecehan seksual, rasisme terhadap perempuan, dan hal-hal buruk lainnya yang menimpa perempuan. Juga penyakit mental yang ditimbulkan dari mereka,” ujarnya.

Karya di atas kertas kanvas berukuran 8,3 x 11,7 inci itu benar-benar dalam maknanya. Ifli berharap, lukisannya dapat mengingatkan semua betapa pentingnya membangun lingkungan dimana perempuan bisa merasa lebih aman. Selain dari film, kebanyakan sumber inprasi Ifli saat melukis adalah pengalaman pribadi. “Untuk melukis abstrak baru mulai jalan tahun 2020 ini,” imbuhnya.

Sebagai Event Director Kawanua Creative, event ini menjadi wadah bagi dirinya dan para pelukis lain dalam mengekspresikan diri. Apalagi karena pandemi COVID-19, para pelaku seni banyak ikut terdampak. “Acara mereka ada yang di-cancel. Pemasukannya jadi menipis,” ungkapnya.
Namun, pengalaman berbeda datang dari Renaldy Tangka dan Rivaldo Bryant. Kedua pelukis digital yang juga ikut dalam event Muda Berkarya itu malah dapat banyak job. “Mungkin karena karya kita kan digital. Jadi order-an terus datang,” kata Renaldy yang kemudian diamini Rivaldo.

Event Muda Berkarya ini digelar dua hari, yakni 28 Oktober dan 1 November. Tak hanya pameran lukisan, ada juga pameran foto, penampilan musisi lokal dan baca puisi. “Terima kasih atas semua yang sudah support. Tunggu event Kawanua Creative selanjutnya,” tukas Ifli.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/