alexametrics
30.4 C
Manado
Selasa, 24 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Banjir di Manado Masalah Kompleks, Ini Saran Pemerhati Lingkungan

MANADOPOST.ID- Dua hari terakhir Kota Manado diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Hal itu menyebabkan banjir di beberapa wilayah. Peneliti dan pemerhati lingkungan Prof Dr Treesje Londa MSi menyatakan, banjir yang terus menggenangi Kota Manado merupakan masalah yang kompleks.

“Ini penyebabnya kompleks karena penggunaan lahan yang tidak tepat. Seperti:design pengembang perumahan yang tidak mengikuti aturan pemerintah misalnya tidak memiliki sumur resapan dan pohon pengikat air, pembangunan yang membuat penyempitan pada aliran sungai dan buangan sampah masyarakat yang tinggal di bantaran sungai serta daerah kemiringan yang sembarangan digunakan untuk lahan pertanian dengan menanam tanaman berumur pendek, ini yang memberikan kontribusi sehingga banjir di Manado tidak pernah tuntas,” kata Londa.

Ia pun memberikan solusi bahwa law enforcement atau penegakan hukum adalah ujung tombak agar dapat mengatasi peristiwa banjir yang terus berulang di Manado. “Jalan keluarnya selain mengubah perilaku masyarakat, harus ada kontrol pemerintah. Jadi law enforcement harus lebih ketat sekali, dan kuncinya ada pada ketegasan Pemerintah terhadap pihak pihak terkait yang memberikan kontribusi sehingga Manado bisa banjir lagi,” tegas Londa.

Dosen yang pernah menjabat sebagai Direktur Pasca Sarjana Universitas Negeri Manado ini pun menyarankan agar pemerintah segera melaksanakan relokasi warga dalam keterkaitan Program Pembangunan Bangunan Pengendali Banjir.

“Pembangunan bangunan pengendali banjir adalah program yang bagus, selain ada relokasi warga, juga ada pengaturan keindahan dan estetika kota. Jadi lebih baik masyarakat yang selalu menjadi korban banjir, secepatnya direlokasi. Daripada uang pemerintah cuma habis dipenanganan banjir tiap tahun,” papar Londa.

Diketahui, dalam Program Pembangunan Bangunan Pengendalian Banjir Manado yang diadakan Pemerintah Pusat bekerjasama dengan pemerintah daerah dalam mengatasi banjir Manado, Panitia persiapan Pengadaan Lokasi (Penlok) belum lama ini menggelar Konsultasi Tahap Tiga Pembebasan Lahan Untuk Pembangunan Bangunan Pengendali Banjir yang kegiatannya bertempat di Kantor Walikota Manado.

Dalam pantauan Manado Post, kegiatan tersebut berlangsung alot karena tidak hadirnya Perwakilan Pemkot Manado, sehingga memberikan ketidakpuasan masyarakat dalam penerimaan materi yang tersampaikan bahkan ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab karena ketidak hadiran perwakilan dari Pemkot.

Tampak beberapa warga yang belum menyepakati program pembangunan bangunan pengendali banjir di Manado. Edius, salah satu warga asal Dendengan Dalam (Dendal) yang mempertanyakan akan adanya ganti rugi terhadap tanah berserifikat di bantaran sungai, namun dirinya mengaku sebelumnya telah mendapatkan bantuan rumah relokasi di Pandu.

Senada, Jemmy Tumoka salah satu warga pemilik tanah bersertifikat di Kelurahan Dendal Ling 4, mengaku dirinya sepakat dengan program pemerintah tersebut. Namun, Tumoka yang sempat menerima bantuan rumah relokasi di Pandu menyatakan dirinya lebih memilih untuk ganti untung, ketimbang memilih rumah di Pandu. “Saya tinggal di samping Kuala, jadi setiap hari banjir tentu lebih baik sepakat. Tapi karena rumah di Pandu tidak ada jalan dan jauh dari tempat saya bekerja. Jadi saya lebih baik pilih ganti rugi di rumah Dendal daripada ambil rumah di Pandu,” tutur Tumoka.

Sementara itu, warga masyarakat yang minta namanya tidak dikorankan mengatakan bahwa Pemerintah harus mencontoh Jokowi dan Ahok dalam mengatasi banjir, mereka turun dan berkomunikasi langsung dengan masyarakat.

“Walikota dan Gubernur musti turun langsung kwa bacarita dengan masyarakat yang tidak sepakat untuk relokasi. Bacontoh pa Jokowi dengan Ahok waktu atasi banjir Jakarta. Mar bagaimana ini banjir mo selesai, waktu sosialisasi pembebasan lahan untuk relokasi warga bantaran sungai, perwakilan Pemkot saja tidak ada yang hadir, ini berarti nda serius padahal ini untuk kota Manado supaya tidak banjir-banjir ulang, mo suka sama dengan banjir besar tahun 2014, yang susah Pemerintah dan Torang samua warga Kota Manado” tukasnya dalam dialek Manado kental.(des/tan)

MANADOPOST.ID- Dua hari terakhir Kota Manado diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Hal itu menyebabkan banjir di beberapa wilayah. Peneliti dan pemerhati lingkungan Prof Dr Treesje Londa MSi menyatakan, banjir yang terus menggenangi Kota Manado merupakan masalah yang kompleks.

“Ini penyebabnya kompleks karena penggunaan lahan yang tidak tepat. Seperti:design pengembang perumahan yang tidak mengikuti aturan pemerintah misalnya tidak memiliki sumur resapan dan pohon pengikat air, pembangunan yang membuat penyempitan pada aliran sungai dan buangan sampah masyarakat yang tinggal di bantaran sungai serta daerah kemiringan yang sembarangan digunakan untuk lahan pertanian dengan menanam tanaman berumur pendek, ini yang memberikan kontribusi sehingga banjir di Manado tidak pernah tuntas,” kata Londa.

Ia pun memberikan solusi bahwa law enforcement atau penegakan hukum adalah ujung tombak agar dapat mengatasi peristiwa banjir yang terus berulang di Manado. “Jalan keluarnya selain mengubah perilaku masyarakat, harus ada kontrol pemerintah. Jadi law enforcement harus lebih ketat sekali, dan kuncinya ada pada ketegasan Pemerintah terhadap pihak pihak terkait yang memberikan kontribusi sehingga Manado bisa banjir lagi,” tegas Londa.

Dosen yang pernah menjabat sebagai Direktur Pasca Sarjana Universitas Negeri Manado ini pun menyarankan agar pemerintah segera melaksanakan relokasi warga dalam keterkaitan Program Pembangunan Bangunan Pengendali Banjir.

“Pembangunan bangunan pengendali banjir adalah program yang bagus, selain ada relokasi warga, juga ada pengaturan keindahan dan estetika kota. Jadi lebih baik masyarakat yang selalu menjadi korban banjir, secepatnya direlokasi. Daripada uang pemerintah cuma habis dipenanganan banjir tiap tahun,” papar Londa.

Diketahui, dalam Program Pembangunan Bangunan Pengendalian Banjir Manado yang diadakan Pemerintah Pusat bekerjasama dengan pemerintah daerah dalam mengatasi banjir Manado, Panitia persiapan Pengadaan Lokasi (Penlok) belum lama ini menggelar Konsultasi Tahap Tiga Pembebasan Lahan Untuk Pembangunan Bangunan Pengendali Banjir yang kegiatannya bertempat di Kantor Walikota Manado.

Dalam pantauan Manado Post, kegiatan tersebut berlangsung alot karena tidak hadirnya Perwakilan Pemkot Manado, sehingga memberikan ketidakpuasan masyarakat dalam penerimaan materi yang tersampaikan bahkan ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab karena ketidak hadiran perwakilan dari Pemkot.

Tampak beberapa warga yang belum menyepakati program pembangunan bangunan pengendali banjir di Manado. Edius, salah satu warga asal Dendengan Dalam (Dendal) yang mempertanyakan akan adanya ganti rugi terhadap tanah berserifikat di bantaran sungai, namun dirinya mengaku sebelumnya telah mendapatkan bantuan rumah relokasi di Pandu.

Senada, Jemmy Tumoka salah satu warga pemilik tanah bersertifikat di Kelurahan Dendal Ling 4, mengaku dirinya sepakat dengan program pemerintah tersebut. Namun, Tumoka yang sempat menerima bantuan rumah relokasi di Pandu menyatakan dirinya lebih memilih untuk ganti untung, ketimbang memilih rumah di Pandu. “Saya tinggal di samping Kuala, jadi setiap hari banjir tentu lebih baik sepakat. Tapi karena rumah di Pandu tidak ada jalan dan jauh dari tempat saya bekerja. Jadi saya lebih baik pilih ganti rugi di rumah Dendal daripada ambil rumah di Pandu,” tutur Tumoka.

Sementara itu, warga masyarakat yang minta namanya tidak dikorankan mengatakan bahwa Pemerintah harus mencontoh Jokowi dan Ahok dalam mengatasi banjir, mereka turun dan berkomunikasi langsung dengan masyarakat.

“Walikota dan Gubernur musti turun langsung kwa bacarita dengan masyarakat yang tidak sepakat untuk relokasi. Bacontoh pa Jokowi dengan Ahok waktu atasi banjir Jakarta. Mar bagaimana ini banjir mo selesai, waktu sosialisasi pembebasan lahan untuk relokasi warga bantaran sungai, perwakilan Pemkot saja tidak ada yang hadir, ini berarti nda serius padahal ini untuk kota Manado supaya tidak banjir-banjir ulang, mo suka sama dengan banjir besar tahun 2014, yang susah Pemerintah dan Torang samua warga Kota Manado” tukasnya dalam dialek Manado kental.(des/tan)

Most Read

Artikel Terbaru

/