24.4 C
Manado
Sabtu, 13 Agustus 2022

Bangunan RSU Gigi-Mulut Banyak Retak, DPRD Sorot Kualitas Bangunan

MANADOPOST.ID–Bangunan Rumah Sakit Umum Gigi dan Mulut, di Kelurahan Tingkulu, Kecamatan Wanea, disorot anggota DPRD Kota Manado. Pasalnya, bangunan yang belum beroperasi tersebut terdapat banyak retak di dinding.

Anggota DPRD Kota Manado Jeane Laluyan mengatakan, bangunan RSU Gigi dan Mulut yang dibangun pada tahun 2018 dengan anggaran APBD puluhan miliar sudah retak. “RSU Gigi dan Mulut ini belum beroperasi, tapi gedung mulai dari lantai satu sampai tiga sudah banyak yang retak,” ujarnya.

Dia pun menyoroti kualitas proyek tersebut. Jangan-jangan pembangunan tidak sesuai spek, sehingga plesteran dinding tersebut sudah retak. “Kalau kualitas bangunan ini bagus tidak mungkin hampir semua ruangan dari lantai satu sampai tiga retak. Ini akan menjadi bahan evaluasi DPRD soal proyek infrastruktur di Kota Manado,” tegasnya.

Terpisah, Pengamat Konstruksi Dwars Soukotta, M.Ars mengatakan, pada dasarnya dinding retak terjadi dikarenakan dua faktor internal, terkait struktur dan konstruksi. “Jika kasusnya bangunan hanya tiga lantai lalu kondisi finding retak dari Lantai 1-3, bisa kemungkinan yakni dari struktur : kondisi struktur pondasi, sloof, kolom dan balok bangunan tidak terintegrasi dengan baik,” ujar lulusan Teknik, Program Studi Arsitektur Unsrat.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Menurut dia, dalam hal ini mungkin saat proses pembangunan tidak diperhatikan standard pekerjaan yang baik dan benar. Misalnya, ukuran pondasi yang tidak mampu memikul beban bangunan tiga lantai, ditambah lagi dengan topangan gaya beban yang dipikul oleh struktur kolom dan balok bangunan yang tidak baik (dimensi yang tidak sesuai daya dukung bangunan 3 lantai),” sebutnya.

Lanjutnya, sedangkan untuk konstruksi, erat kaitannya dengan bahan bangunan. Kita ambil saja terkait struktur. Jika pondasi yang digunakan saja dimensi sudah tidak benar, apalagi jika bahan/konstruksi pembuatannya juga ikut dimanipulasi/di catut (seperti jumlah dari komposisi batu, semen, pasir, dimensi tulangan/pembesian).

“Otomatis akan mengurangi daya kerja pondasi sebagai penerima gaya beban paling akhir dari satu bangunan yang disalurkan ketanah. Otomatis pasti akan retak. Hal yang sama pun berlaku untuk dinding, kolom, balok, dan sloof, yang kesemuanya jika dikerjakan dengan tidak memperhitungkan kekuatan struktur ditambah konstruksi ya, pasti akan membuat bangunan cepat retak,” jelasnya.

Diketahui, gedung RSU Gigi dan Mulut menggunakan anggaran dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Manado. Kepala Dinas PUPR Kota Manado Royke Mamahit ketika dikonfirmasi lewat telepon tidak menjawab. Begitu juga ketika di WhatsApp belum balas hingga berita ini diturunkan.(*)

MANADOPOST.ID–Bangunan Rumah Sakit Umum Gigi dan Mulut, di Kelurahan Tingkulu, Kecamatan Wanea, disorot anggota DPRD Kota Manado. Pasalnya, bangunan yang belum beroperasi tersebut terdapat banyak retak di dinding.

Anggota DPRD Kota Manado Jeane Laluyan mengatakan, bangunan RSU Gigi dan Mulut yang dibangun pada tahun 2018 dengan anggaran APBD puluhan miliar sudah retak. “RSU Gigi dan Mulut ini belum beroperasi, tapi gedung mulai dari lantai satu sampai tiga sudah banyak yang retak,” ujarnya.

Dia pun menyoroti kualitas proyek tersebut. Jangan-jangan pembangunan tidak sesuai spek, sehingga plesteran dinding tersebut sudah retak. “Kalau kualitas bangunan ini bagus tidak mungkin hampir semua ruangan dari lantai satu sampai tiga retak. Ini akan menjadi bahan evaluasi DPRD soal proyek infrastruktur di Kota Manado,” tegasnya.

Terpisah, Pengamat Konstruksi Dwars Soukotta, M.Ars mengatakan, pada dasarnya dinding retak terjadi dikarenakan dua faktor internal, terkait struktur dan konstruksi. “Jika kasusnya bangunan hanya tiga lantai lalu kondisi finding retak dari Lantai 1-3, bisa kemungkinan yakni dari struktur : kondisi struktur pondasi, sloof, kolom dan balok bangunan tidak terintegrasi dengan baik,” ujar lulusan Teknik, Program Studi Arsitektur Unsrat.

Menurut dia, dalam hal ini mungkin saat proses pembangunan tidak diperhatikan standard pekerjaan yang baik dan benar. Misalnya, ukuran pondasi yang tidak mampu memikul beban bangunan tiga lantai, ditambah lagi dengan topangan gaya beban yang dipikul oleh struktur kolom dan balok bangunan yang tidak baik (dimensi yang tidak sesuai daya dukung bangunan 3 lantai),” sebutnya.

Lanjutnya, sedangkan untuk konstruksi, erat kaitannya dengan bahan bangunan. Kita ambil saja terkait struktur. Jika pondasi yang digunakan saja dimensi sudah tidak benar, apalagi jika bahan/konstruksi pembuatannya juga ikut dimanipulasi/di catut (seperti jumlah dari komposisi batu, semen, pasir, dimensi tulangan/pembesian).

“Otomatis akan mengurangi daya kerja pondasi sebagai penerima gaya beban paling akhir dari satu bangunan yang disalurkan ketanah. Otomatis pasti akan retak. Hal yang sama pun berlaku untuk dinding, kolom, balok, dan sloof, yang kesemuanya jika dikerjakan dengan tidak memperhitungkan kekuatan struktur ditambah konstruksi ya, pasti akan membuat bangunan cepat retak,” jelasnya.

Diketahui, gedung RSU Gigi dan Mulut menggunakan anggaran dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Manado. Kepala Dinas PUPR Kota Manado Royke Mamahit ketika dikonfirmasi lewat telepon tidak menjawab. Begitu juga ketika di WhatsApp belum balas hingga berita ini diturunkan.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/