30C
Manado
Jumat, 26 Februari 2021

Merasa Dirugikan, 17 Nasabah Laporkan PT Equity ke Bappebti

MANADOPOST.ID-Persoalan dugaan penipuan yang mengakibatkan kerugian kepada nasabah PT Equity World Futures masih berlanjut.

Terbaru, ada 17 nasabah melalui kuasa hukum Adi Prakoso SH telah melakukan laporan ke Badan Pengawas Perdaganan Berjangka Komoditi (Bappebti) yang memiliki otoritas pengawasan perusahaan pialang berjangka.

“Sudah dilaporkan sejak Januari 2021 dan sementara dalam proses penyelesaian pihak Bappebti. Bappebti bertindak professional sesuai dengan regulasi Perba Bappebti Nomor 4 Tahun 2020, tahapan penyelesaian sengketanya dimulai dari musyawarah pialang dulu. Untuk kemudian dilanjutkan ke Bursa Berjangka Jakarta,” kata Prakoso.

Prakoso menambahkan, dalam musyawarah tahap pertama pihaknya telah menemukan beberapa fakta yang bertentangan dengan regulasi Bappebti.

“Namun, untuk jelasnya kita tunggu saja proses yang sedang berjalan saat ini. Aduan kami bukan untuk Equity secara keseluruhan, namun beberapa wakil pialang berjangka saja yang meng-handle klien kami,” sebut Prakoso.

Sementara itu, Hari Lesmana dari Biro Penindakan Bappebti mengatakn proses penanganannya mengacu pada Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 4 Tahun 2020.

“Ini peraturan mengenai penyelesaian pengaduannya pak,” tulis Lesmana melalui pesan whatsApp sembari mengirimkan salinan regulasinya.

Anehnya, Novianis Sohilait sebagai Petugas Kepatuhan PT Equity World mengaku belum mengetahui adanya aduan tersebut. “Info dari mana. Tidak lah,” singkat Novianis.

Sedangkan menurut salah seorang aktivis yang juga Pemerhati Investasi Berjangka Falen Kandou, berdasar pada UU Nomor 32 Tahun 1997 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 10 Tahun 2011 Tentang Perdagangan Berjangka Komoditi, setidaknya ada 3 hal yang patut disoroti dalam sistem kerja Equity.

“Pertama, perihal dokumen Keterangan Perusahaan dan dokumen pemberitahuan adanya risiko sebagaimana disebutkan dalam Pasal 50 ayat (2) yang tidak pernah disampaikan dan dijelaskan secara rinci kepada calon nasabah. Nasabah hanya dijelaskan keuntungan-keuntungan saja, dengan nominal Rp 1 juta sampai Rp 2 juta perhari dengan investasi minimal Rp 100 juta,” kata Falen.

Kedua, lanjut Falen, transaksi-transaksi di akun nasabah Equity tidak pernah berdasarkan perintah tertulis dari para nasabah. Nasabah tidak pernah mengetahui transaksi perdagangan kontrak berjangka apa saja yang pihak Equity jalankan selama mengelola dana dari dari Nasabah.

Dalam hal ini Equity sudah melanggar ketentuan Pasal 51 ayat (5) UU Perdagangan Berjangka Komoditi tersebut. Kemudian, kata Falen, pihak Equity dalam menawarkan produknya kepada nasabah mengiming-imingi keuntungan di luar kewajaran, dalam hal ini pihak Equity melanggar ketentuan pasal 57 ayat (2) huruf d UU tersebut, dimana sangat jelas tertulis bahwa mengiming-imingi keuntungan di luar kewajaran adalah dilarang.

“Masyarakat harus bisa berhati-hati dan lebih bijaksana lagi dalam memilih investasi. Harus paham bahwa transaksi di bursa berjangka ini berisiko tinggi. Prinsipnya adalah High Risk – High Return,” Pungkas Falen. (*/ite)

Artikel Terbaru