31.4 C
Manado
Jumat, 1 Juli 2022

Viral Bayi Diduga Ditahan RSUP Kandou Lantaran Menunggak Biaya

MANADOPOST.ID- Seorang bayi diduga ditahan RSUP Kandou lantaran orang tuanya menunggak biaya persalinan dan perawatan selama di rumah sakit. Hal tersebut diceritakan pengguna Facebok dengan nama akun Tita Ganza, di grup Tetengkoren Sulut – Manguni 123.

“Sepupu saya melahirkan di RS Malalayang tanggal 30 Maret. Anak pertama yang ditunggu selama 11 tahun pernikahan. Singkat cerita, bayi tidak pernah diperlihatkan sampai sang mama keluar RS. Karena keterbatasan bayar biaya persalinan, pihak RS menahan bayi, dengan syarat jika biaya sudah lunas baru bisa sang bayi dibawa pulang,” tulisnya.

Dia menuturkan, biaya awal sekira Rp 11,5 juta. Sepupunya lalu pulang mengurus BPJS Kesehatan. Tapi karena situasi akibat pandemi Covid-19, pengurusan BPJS terhambat. “Selama itu, ayah si bayi selalu menjenguk. Si bayi dikatakan dalam kondisi sehat. Lewat seminggu, biaya ternyata sudah Rp 40-an juta.  Setelah 10 hari, ayah bayi berencana menuju RS untuk membicarakan solusi untuk menyicil biaya RS. Saat itu bertepatan Jumat Agung, jadi ke RS agak siang setelah ibadah,” bebernya.

Tak disangka lanjutnya, si bayi ternyata sudah meninggal dunia sejak pukul 8 pagi. “Itu juga diketahui dari perawat yang ditelepon sepupu saya. Pun waktu itu sudah jam 11 siang. Artinya, kalua sepupu saya tidak menelepon, mereka tidak tahu anaknya sudah meninggal dari pagi. Pihak RS tidak memberi kabar ke keluarga bayi,” sesalnya.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Ibu si bayi akhirnya bisa melihat anaknya, walaupun sudah dalam keadaan tak bernyawa. Yang lebih memiriskan lagi, tagihan RS naik jadi sekira Rp 50,7 juta,” katanya lagi.

Kasus ini mendapat perhatian Anggota DPRD Sulut Cindy Wurangian. “Pihak RS harus segera klarifikasi dan beri penjelasan terkait ini. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi?” tanya Wurangian.

Sementara itu, Dirut RSUP Kandou Jimmy Panelewen, membenarkan ada pasien yang meninggal seperti yang diceritakan di medsos. “Namun cerita yang disampaikan kurang pas termasuk kondisi pasiennya. Pasien sengaja tidak dipulangkan dokter, baru ibu yangg dipulangkan, karena keadaannya memang tidak menguntungkan, itu sebabnya dirawat di ruang NICU ruang intensif untuk bayi baru lahir dengan kondisi jelek,” kata Panelewen.

Lanjutnya, orang tua memang tidak boleh bebas masuk ke ruang tersebut karena banyaknya bayi dengan kondisi tidak baik. “Tapi harusnya keluarga tetap ada di RS, ada ruangan di sekitar ruang NICU. Perawat susah untuk ketemu dengan keluarga karena sering tidak berada di RS sehingga komunikasi sulit,’ ungkapnya.

Panelewen menambahkan, persoalan biaya memang menjadi dilematis dan hampir selalu menjadi masalah jika pasien tidak punya BPJS. Sebab RS juga diaudit untuk hal ini. “Banyak informasi di medsos yang di upload tersebut, yang perlu diklarifikasi,” tukasnya.

Panelewen juga mengklarifikasi terkait administrasi dan keuangan. “Pasien bukan peserta BPJS, total tagihan Rp. 24.921.466. Yang dibayar keluarga Rp 300.000, sisanya dibuat perjanjian piutang Rp 24.621.466. Petugas admin di NICU memberi informasi progress tagihan setiap kali ketemu keluarga. Mengenai informasi tagihan mencapai Rp 50 juta 700 ribu, saya tidak tau keluarga dapat info dari mana,” kuncinya.(mpid)

MANADOPOST.ID- Seorang bayi diduga ditahan RSUP Kandou lantaran orang tuanya menunggak biaya persalinan dan perawatan selama di rumah sakit. Hal tersebut diceritakan pengguna Facebok dengan nama akun Tita Ganza, di grup Tetengkoren Sulut – Manguni 123.

“Sepupu saya melahirkan di RS Malalayang tanggal 30 Maret. Anak pertama yang ditunggu selama 11 tahun pernikahan. Singkat cerita, bayi tidak pernah diperlihatkan sampai sang mama keluar RS. Karena keterbatasan bayar biaya persalinan, pihak RS menahan bayi, dengan syarat jika biaya sudah lunas baru bisa sang bayi dibawa pulang,” tulisnya.

Dia menuturkan, biaya awal sekira Rp 11,5 juta. Sepupunya lalu pulang mengurus BPJS Kesehatan. Tapi karena situasi akibat pandemi Covid-19, pengurusan BPJS terhambat. “Selama itu, ayah si bayi selalu menjenguk. Si bayi dikatakan dalam kondisi sehat. Lewat seminggu, biaya ternyata sudah Rp 40-an juta.  Setelah 10 hari, ayah bayi berencana menuju RS untuk membicarakan solusi untuk menyicil biaya RS. Saat itu bertepatan Jumat Agung, jadi ke RS agak siang setelah ibadah,” bebernya.

Tak disangka lanjutnya, si bayi ternyata sudah meninggal dunia sejak pukul 8 pagi. “Itu juga diketahui dari perawat yang ditelepon sepupu saya. Pun waktu itu sudah jam 11 siang. Artinya, kalua sepupu saya tidak menelepon, mereka tidak tahu anaknya sudah meninggal dari pagi. Pihak RS tidak memberi kabar ke keluarga bayi,” sesalnya.

“Ibu si bayi akhirnya bisa melihat anaknya, walaupun sudah dalam keadaan tak bernyawa. Yang lebih memiriskan lagi, tagihan RS naik jadi sekira Rp 50,7 juta,” katanya lagi.

Kasus ini mendapat perhatian Anggota DPRD Sulut Cindy Wurangian. “Pihak RS harus segera klarifikasi dan beri penjelasan terkait ini. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi?” tanya Wurangian.

Sementara itu, Dirut RSUP Kandou Jimmy Panelewen, membenarkan ada pasien yang meninggal seperti yang diceritakan di medsos. “Namun cerita yang disampaikan kurang pas termasuk kondisi pasiennya. Pasien sengaja tidak dipulangkan dokter, baru ibu yangg dipulangkan, karena keadaannya memang tidak menguntungkan, itu sebabnya dirawat di ruang NICU ruang intensif untuk bayi baru lahir dengan kondisi jelek,” kata Panelewen.

Lanjutnya, orang tua memang tidak boleh bebas masuk ke ruang tersebut karena banyaknya bayi dengan kondisi tidak baik. “Tapi harusnya keluarga tetap ada di RS, ada ruangan di sekitar ruang NICU. Perawat susah untuk ketemu dengan keluarga karena sering tidak berada di RS sehingga komunikasi sulit,’ ungkapnya.

Panelewen menambahkan, persoalan biaya memang menjadi dilematis dan hampir selalu menjadi masalah jika pasien tidak punya BPJS. Sebab RS juga diaudit untuk hal ini. “Banyak informasi di medsos yang di upload tersebut, yang perlu diklarifikasi,” tukasnya.

Panelewen juga mengklarifikasi terkait administrasi dan keuangan. “Pasien bukan peserta BPJS, total tagihan Rp. 24.921.466. Yang dibayar keluarga Rp 300.000, sisanya dibuat perjanjian piutang Rp 24.621.466. Petugas admin di NICU memberi informasi progress tagihan setiap kali ketemu keluarga. Mengenai informasi tagihan mencapai Rp 50 juta 700 ribu, saya tidak tau keluarga dapat info dari mana,” kuncinya.(mpid)

Most Read

Artikel Terbaru

/