alexametrics
29.4 C
Manado
Sabtu, 21 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

LOYOT Maesaan Ormas dari Sulut Sebut Wibawa Bangsa Sedang Dipertaruhkan

MANADOPOST.ID-Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LOYOT Maesaan, menyikapi konflik antara Israel dan Hamas yang merupakan sayap militer dari partai oposisi di Palestina.

Max Siso, Sesepuh yang juga Pendiri DPP LOYOT Maesaan, menuturkan, LOYOT Maesaan sampai saat ini tidak berdiri di ruang kosong. LOYOT tidak seperti burung dalam sangkar, namun hadir di tengah-tengah pergaulan masyarakat luas. Dalam arti kemanusian berada di tengah-tengah hamparan pergumulan masyarakat dunia sejagat.

“Oleh karena itu, sikap LOYOT itu tidak berangkat untuk dirinya sendiri akan tetapi berangkat dari kehadirannya berdiri di tengah-tengah kehadiran masyarakat luas.
Pertama LOYOT belum meminta siapa-siapa tapi LOYOT menghadirkan dirinya tetap menjadi pengawal cita-cita luhur dari kesepakat bangsa,” ujar Max Siso, Kamis (20/5).

Max mengatakan, LOYOT menghadirkan semangat untuk mengasihi sesama manusia. Di mana panggilan bagi LOYOT juga panggilan menyerukan kepada pemerintah sebagai penyelenggara negara, juga panggilan kepada seluruh tokoh-tokoh nasional.

“Kiranya dua belah pihak tidak memperkeruh situasi yang bisa mengganggu kelangsungan kehidupan kita bersama di masa-masa yang akan datang. Kenapa? karena ketunggalikaan itu adalah sesuatu yang berat untuk kita rawat. Dan jangan sampai konflik Palestina dan Israel itu bisa mengganggu ketunggalikaan yang sedang kita bangun untuk menentukan masa depan bersama,”

Karena itu Max berharap pemerintah kiranya senantiasa tetap berpegang teguh pada konstitusi negara. Bahwa politik Indonesia adalah bebas aktif dan ada satu kewajiban konstitusi yaitu ikut serta menjaga ketertiban dan perdamaian dunia.

“Dalam konteks itu sikap Indonesia harus dibangun, dalam konteks itulah menteri luar negeri diminta dalam menyelenggarakan misi-misi diplomatik harus tetap berpegang pada semangat konstitusi. Pemerintah juga harus perlu memahami benar tentang spirit ataupun cita-cita kemerdekaan Indonesia. Tujuan kemerdekaan Indonesia adalah membangun tatanan dunia baru,” nilai Max

Oleh tanggungjawab itu, lanjut Max, kemudian mewajibkan pemerintah Indonesia dalam mengambil sikap tidak bisa hanya dengan studi kasus tiga jam ataupun tiga hari dalam mendalami persoalan di Palestina ataupun Israel. Melainkan perlu ada kajian-kajian komperhensif karena wibawa negara sedang dipertaruhkan.

“Kemudian kepada tokoh-tokoh nasional, bahwa LOYOT sangat memahami apabila ada kecenderungan-kecenderungan yang mempengaruhi cara pandang masing-masing. Tapi diserukan untuk merawat persatuan masyarakat Indonesia. Para tokoh nasional harus tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang telah menjadi perjanjian luhur bangsa. Apalagi partai-partai politik yang kemudian banyak menajadi subordinat dari pada kekuatan-kekuatan Internasional. Padahal, partai politik itu hadir sebagai alat integrasi nasional. Oleh karena itu kita menentang setiap narasi-narasi tokoh-tokoh politik yang tetap mencerminkan dirinya sebagai subordinat kekuatan politik internasional yang lebih kita tekankan sebagai gerakan transaksional,” seru Max.

Diakui Max bahwa, saat ini Israel terseret dalam stigma penjahat kemanusian. Sementara Hamas menjadikan warga Palestina sebagai tameng. Maka dua-duanya harus di sidangkan di mahkama internasional. Namun lebih penting dari itu bahwa pesan kedamaian harus tetap dikedepankan.

“Kepada masyarakat Indonesia, kita tidak perlu belajar lagi bagaimana cara bersaudara. Persaudaraan kita tidak boleh terhapus hanya karena cara kita menyikapi persoalan Palestina denga Israel,” kunci Max Siso yang juga Staf Khusus Gubernur Sulawesi Utara Bidang Politik. Mendampingi Max sewaktu memberikan pernytaan sikap yakni Ketua Harian Nikson Lowing SH MH, Steven Lowing selaku Pakakaan Umbanua bersama jajaran pengurus lainnya. (Greg/ite)

MANADOPOST.ID-Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LOYOT Maesaan, menyikapi konflik antara Israel dan Hamas yang merupakan sayap militer dari partai oposisi di Palestina.

Max Siso, Sesepuh yang juga Pendiri DPP LOYOT Maesaan, menuturkan, LOYOT Maesaan sampai saat ini tidak berdiri di ruang kosong. LOYOT tidak seperti burung dalam sangkar, namun hadir di tengah-tengah pergaulan masyarakat luas. Dalam arti kemanusian berada di tengah-tengah hamparan pergumulan masyarakat dunia sejagat.

“Oleh karena itu, sikap LOYOT itu tidak berangkat untuk dirinya sendiri akan tetapi berangkat dari kehadirannya berdiri di tengah-tengah kehadiran masyarakat luas.
Pertama LOYOT belum meminta siapa-siapa tapi LOYOT menghadirkan dirinya tetap menjadi pengawal cita-cita luhur dari kesepakat bangsa,” ujar Max Siso, Kamis (20/5).

Max mengatakan, LOYOT menghadirkan semangat untuk mengasihi sesama manusia. Di mana panggilan bagi LOYOT juga panggilan menyerukan kepada pemerintah sebagai penyelenggara negara, juga panggilan kepada seluruh tokoh-tokoh nasional.

“Kiranya dua belah pihak tidak memperkeruh situasi yang bisa mengganggu kelangsungan kehidupan kita bersama di masa-masa yang akan datang. Kenapa? karena ketunggalikaan itu adalah sesuatu yang berat untuk kita rawat. Dan jangan sampai konflik Palestina dan Israel itu bisa mengganggu ketunggalikaan yang sedang kita bangun untuk menentukan masa depan bersama,”

Karena itu Max berharap pemerintah kiranya senantiasa tetap berpegang teguh pada konstitusi negara. Bahwa politik Indonesia adalah bebas aktif dan ada satu kewajiban konstitusi yaitu ikut serta menjaga ketertiban dan perdamaian dunia.

“Dalam konteks itu sikap Indonesia harus dibangun, dalam konteks itulah menteri luar negeri diminta dalam menyelenggarakan misi-misi diplomatik harus tetap berpegang pada semangat konstitusi. Pemerintah juga harus perlu memahami benar tentang spirit ataupun cita-cita kemerdekaan Indonesia. Tujuan kemerdekaan Indonesia adalah membangun tatanan dunia baru,” nilai Max

Oleh tanggungjawab itu, lanjut Max, kemudian mewajibkan pemerintah Indonesia dalam mengambil sikap tidak bisa hanya dengan studi kasus tiga jam ataupun tiga hari dalam mendalami persoalan di Palestina ataupun Israel. Melainkan perlu ada kajian-kajian komperhensif karena wibawa negara sedang dipertaruhkan.

“Kemudian kepada tokoh-tokoh nasional, bahwa LOYOT sangat memahami apabila ada kecenderungan-kecenderungan yang mempengaruhi cara pandang masing-masing. Tapi diserukan untuk merawat persatuan masyarakat Indonesia. Para tokoh nasional harus tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang telah menjadi perjanjian luhur bangsa. Apalagi partai-partai politik yang kemudian banyak menajadi subordinat dari pada kekuatan-kekuatan Internasional. Padahal, partai politik itu hadir sebagai alat integrasi nasional. Oleh karena itu kita menentang setiap narasi-narasi tokoh-tokoh politik yang tetap mencerminkan dirinya sebagai subordinat kekuatan politik internasional yang lebih kita tekankan sebagai gerakan transaksional,” seru Max.

Diakui Max bahwa, saat ini Israel terseret dalam stigma penjahat kemanusian. Sementara Hamas menjadikan warga Palestina sebagai tameng. Maka dua-duanya harus di sidangkan di mahkama internasional. Namun lebih penting dari itu bahwa pesan kedamaian harus tetap dikedepankan.

“Kepada masyarakat Indonesia, kita tidak perlu belajar lagi bagaimana cara bersaudara. Persaudaraan kita tidak boleh terhapus hanya karena cara kita menyikapi persoalan Palestina denga Israel,” kunci Max Siso yang juga Staf Khusus Gubernur Sulawesi Utara Bidang Politik. Mendampingi Max sewaktu memberikan pernytaan sikap yakni Ketua Harian Nikson Lowing SH MH, Steven Lowing selaku Pakakaan Umbanua bersama jajaran pengurus lainnya. (Greg/ite)

Most Read

Artikel Terbaru

/